Budayawan Emha Ainun Najib selalu cangggih dalam melihat momentum untuk
tampil. Itu terjadi pada saat-saat puncak perjuangan reformasi, itu terjadi
pada saat kritis menjelang pemilihan presiden dalam SU MPR sebulan yang
lalu, dan itu terjadi lagi sekarang. Pada saat rakyat Aceh tumpah ruah
melakukan pawai referendum di Banda Aceh kemarin, Emha berkirim surat ke
Redaksi skh Serambi, Banda Aceh. Suratnya dimuat Serambi dalam edisi hari
ini, Selasa 9 November. Entahlah, surat Emha itu bernada "menyejukkan"
rakyat Aceh, atau malah mengompori. Coba saja simak di bawah ini:
Surat dari Emha Ainun Nadjib
Serambi-Banda Aceh
Sejumlah tokoh nasional dan lokal, sejak kemarin hingga tadi malam mengirim
tanggapannya tentang pelaksanaan SU-MPR di Banda Aceh, kemarin. Di
antaranya, dari seorang kiai muda, Emha Ainun Nadjib. Setelah dikonfirmasi
ulang, Emha mengaku khusus mengirim surat itu
kepada Serambi untuk masyarakat Aceh. Berikut salinan lengkap surat
tersebut.
Assalamu'alaikum Wr.Wb
Kepada Yth. Saudara-saudaraku Rakyat Aceh yang dibimbing Allah SWT.
Sungguh bahagia menyaksikan dua juta saudara-saudaraku berkumpul di Banda
Aceh siang tadi (kemarin-red) untuk bergolak menentukan hari depan. Jutaan
saudara-saudaraku rakyat Aceh berkumpul untuk menunjukkan kedaulatan mereka
dan ketidakpercayaan kepada Pemerintah Pusat Republik Indonesia yang
menganiaya mereka terlalu lama.
Saya mohon diperkenankan untuk bertanya:
* Apakah itu berarti saudara-saudaraku rakyat Aceh juga tidak percaya kepada
kami-kami rakyat di berbagai wilayah lain di Nusantara, yang juga dianiaya,
yang juga harus membayar penganiayaan itu dengan kematian, kemiskinan dan
ketidaktentraman, meskipun jumlah korban dan penderitaan kami sama sekali
tidak sebanding dengan derita-derita
saudara-saudaraku rakyat Aceh.
* Apakah saudara-saudaraku rakyat Aceh juga akan menghukum kami yang
sama-sama menderita sebagaimana saudara-saudaraku rakyat Aceh menghukum
Pemerintah Republik Indonesia?
* Apakah gerakan saudara-saudaraku rakyat Aceh ini adalah gerbang perpisahan
diantara kita sesama rakyat yang sama-sama menderita, sama-sama ditipu
harapan demi harapan, dan lebih dari itu sama-sama saling mencintai satu
sama lain?
Melalui siaran televisi siang tadi juga saya mendengar seorang tokoh
masyakat Aceh mengemukakan bahwa 99,9% rakyat Aceh menghendaki kemerdekaan,
karena dianiaya yang terlalu lama.
Juga saya mohon bertanya:
* Jika memang benar demikian, untuk apa saudara-saudaraku rakyat Aceh masih
merasa perlu melakukan unjukrasa, kemudian merasa perlu menyelenggarakan
referendum, apalagi referendum itu dimintakan kepada Pemerintah Pusat
Republik Indonesia?
* Jika memang benar demikian, kenapa tidak langsung saja memproklamasikan
Negara Islam Aceh, menyusun Pemerintahannya, memanggil semua warga Aceh di
wilayah RI untuk kembali ke kampung halaman, baru kemudian bernegosiasi
dengan Pemerintah Republik Indonesia?
* Kenapa untuk bersikap merdeka kita perlu berurusan dengan pihak lain?
Kenapa tidak langsung saja merdeka dan kalau ada yang menghalangi baru kita
pertahankan kemerdekaan kita?
Yang membuat saya kurang mantap adalah dipakainya jargon 'demokrasi', hak
asasi manusia dll dalam perjuangan rakyat Aceh. Seandainya saya warga Aceh,
saya usulkan penggunaan wacana Islam: Aceh Mengakhiri Kedhaliman' Aceh
berhijrah Minadl-dlulumati ilan- Nur'- yang subtansinya toh sama. Saya
memilih idiomatik Islam untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kalau saya
membebaskan diri dari Indonesia, itu tidak berarti saya boleh dicaplok oleh
Amerika Serikat, diliciki PBB dan direnten oleh IMF.
Wassalamu'alaikum WR.WB. Hormat saya :
Muhammad Ainun Nadjib, Padang Bulan, Menturo Sumubito, Jombang
0816-4250033,0816-1975511,0816-453266
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!