Kompor yang apinya sejuk....
alias hangat-hangat nyaman, tidak terlampau panas tapi juga nggak dingin.

----------
> From: Reva Renaldo <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
> Subject: [Kuli Tinta] Emha, menyejukkan atau mengompori?
> Date: 10 Nopember 1999 5:20
> 
> Budayawan Emha Ainun Najib selalu cangggih dalam melihat momentum untuk 
> tampil. Itu terjadi pada saat-saat puncak perjuangan reformasi, itu
terjadi 
> pada saat kritis menjelang pemilihan presiden dalam SU MPR sebulan yang 
> lalu, dan itu terjadi lagi sekarang. Pada saat rakyat Aceh tumpah ruah 
> melakukan pawai referendum di Banda Aceh kemarin, Emha berkirim surat ke 
> Redaksi skh Serambi, Banda Aceh. Suratnya dimuat Serambi dalam edisi hari

> ini, Selasa 9 November. Entahlah, surat Emha itu bernada "menyejukkan" 
> rakyat Aceh, atau malah mengompori. Coba saja simak di bawah ini:
> 
> Surat dari Emha Ainun Nadjib
> 
> Serambi-Banda Aceh
> Sejumlah tokoh nasional dan lokal, sejak kemarin hingga tadi malam
mengirim 
> tanggapannya tentang pelaksanaan SU-MPR di Banda Aceh, kemarin. Di 
> antaranya, dari seorang kiai muda, Emha Ainun Nadjib. Setelah
dikonfirmasi 
> ulang, Emha mengaku khusus mengirim surat itu
> kepada Serambi untuk masyarakat Aceh. Berikut salinan lengkap surat 
> tersebut.
> 
> Assalamu'alaikum Wr.Wb
> Kepada Yth. Saudara-saudaraku Rakyat Aceh yang dibimbing Allah SWT.
> Sungguh bahagia menyaksikan dua juta saudara-saudaraku berkumpul di Banda

> Aceh siang tadi (kemarin-red) untuk bergolak menentukan hari depan.
Jutaan 
> saudara-saudaraku rakyat Aceh berkumpul untuk menunjukkan kedaulatan
mereka 
> dan ketidakpercayaan kepada Pemerintah Pusat Republik Indonesia yang 
> menganiaya mereka terlalu lama.
> Saya mohon diperkenankan untuk bertanya:
> * Apakah itu berarti saudara-saudaraku rakyat Aceh juga tidak percaya
kepada 
> kami-kami rakyat di berbagai wilayah lain di Nusantara, yang juga
dianiaya, 
> yang juga harus membayar penganiayaan itu dengan kematian, kemiskinan dan

> ketidaktentraman, meskipun jumlah korban dan penderitaan kami sama sekali

> tidak sebanding dengan derita-derita
> saudara-saudaraku rakyat Aceh.
> * Apakah saudara-saudaraku rakyat Aceh juga akan menghukum kami yang 
> sama-sama menderita sebagaimana saudara-saudaraku rakyat Aceh menghukum 
> Pemerintah Republik Indonesia?
> * Apakah gerakan saudara-saudaraku rakyat Aceh ini adalah gerbang
perpisahan 
> diantara kita sesama rakyat yang sama-sama menderita, sama-sama ditipu 
> harapan demi harapan, dan lebih dari itu sama-sama saling mencintai satu 
> sama lain?
> Melalui siaran televisi siang tadi juga saya mendengar seorang tokoh 
> masyakat Aceh mengemukakan bahwa 99,9% rakyat Aceh menghendaki
kemerdekaan, 
> karena dianiaya yang terlalu lama.
> Juga saya mohon bertanya:
> * Jika memang benar demikian, untuk apa saudara-saudaraku rakyat Aceh
masih 
> merasa perlu melakukan unjukrasa, kemudian merasa perlu menyelenggarakan 
> referendum, apalagi referendum itu dimintakan kepada Pemerintah Pusat 
> Republik Indonesia?
> * Jika memang benar demikian, kenapa tidak langsung saja memproklamasikan

> Negara Islam Aceh, menyusun Pemerintahannya, memanggil semua warga Aceh
di 
> wilayah RI untuk kembali ke kampung halaman, baru kemudian bernegosiasi 
> dengan Pemerintah Republik Indonesia?
> * Kenapa untuk bersikap merdeka kita perlu berurusan dengan pihak lain? 
> Kenapa tidak langsung saja merdeka dan kalau ada yang menghalangi baru
kita 
> pertahankan kemerdekaan kita?
> Yang membuat saya kurang mantap adalah dipakainya jargon 'demokrasi', hak

> asasi manusia dll dalam perjuangan rakyat Aceh. Seandainya saya warga
Aceh, 
> saya usulkan penggunaan wacana Islam: Aceh Mengakhiri Kedhaliman' Aceh 
> berhijrah Minadl-dlulumati ilan- Nur'- yang subtansinya toh sama. Saya 
> memilih idiomatik Islam untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kalau saya 
> membebaskan diri dari Indonesia, itu tidak berarti saya boleh dicaplok
oleh 
> Amerika Serikat, diliciki PBB dan direnten oleh IMF.
> 
> Wassalamu'alaikum WR.WB. Hormat saya :
> Muhammad Ainun Nadjib, Padang Bulan, Menturo Sumubito, Jombang
> 0816-4250033,0816-1975511,0816-453266
> 
> ______________________________________________________
> Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
> 
> ______________________________________________________________________
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
> dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
> 
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 

______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke