GAM Larang Jual "Bendera Aceh" Serambi-Banda Aceh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) melarang penjualan "bendera Aceh" kepada rakyat serta melarang pengusiran warga non-Aceh. "Soal bendera itu urusan wilayah. Jangan ada pihak yang mengacaukan suasana," tegas Panglima AGAM Wilayah Batee Iliek, Teungku Darwis Djeunieb, melalui juru bicaranya, Abu Marwan, via telepon kepada redaksi Serambi, Rabu (17/11) malam. Selama beberapa hari terakhir, sempat muncul keresahan masyarakat karena berkembang rumor yang mewajibkan seluruh warga membeli "bendera Aceh" dan melaksanakan mogok massal selama tiga hari, mulai 1 Desember 1999 serta pengusiran warga non-Aceh. "Kepada seluruh masyarakat kami minta tenang dan jangan cepat terpancing dengan isu-isu yang tak jelas sumbernya yang bermaksud menggagalkan perjuangan Aceh Merdeka," katanya. Abu Marwan juga meyampaikan perintah dari pimpinan GAM bahwa masyarakat tidak diwajibkan mengibarkan "bendera Aceh" ketika menyambut ulang tahun ke-23 Gerakan Aceh Merdeka pada tanggal 4 Desember 1999. Perintah itu, merupakan petunjuk yang baru diterima dari pimpinan tertinggi GAM, katanya. "Pada hari itu, masyarakat hanya diminta berkumpul semua di masjid atau meunasah sejak waktu shalat subuh. Selain melaksanakan shalat rawatib, juga melaksanakan shalat hajat, membawa Quran, berdoa bersama agar negeri Aceh segera terhindar dari kezaliman," jelas Abu Marwan. Sehubungan dengan peringatan ulang tahun ke-23 GAM pada tanggal 4 Desember 1999, semua sarana pelayanan umum kepada masyarakat -- seperti pelayanan bus, rumah sakit/puskesmas, palang merah, PLN, Telkom, pekerja jurnalistik (pers) dalam dan luar negeri, aktifis LSM, serta pengamat dari badan-badan internasional-- kata Abu Marwan, dijamin keamanannya oleh AGAM agar dapat melaksanakan fungsinya secara lancar. "Kepada para wartawan, baik dari dalam, maupun dari luar negeri, serta aktifis NGO dan pengamat dari badan-badan internasional, kami buka kesempatan selebar-lebarnya untuk memantau langsung perayaan ulang tahun ke-23 GAM tahun ini. Kami bangsa Aceh sangat terbuka kepada semua pihak. Kami bukan bangsa hantu. Kami bangsa yang bermoral dan berakhlak mulia, seperti telah diajarkan oleh nenek moyang kami," kata Abu Marwan. Soal pengibaran "bendera Aceh", katanya, tidak melibatkan masyarakat biasa. Akan tetapi akan dilakukan langsung oleh prajurit AGAM di tempat-tempat strategis. "Kami telah menyiapkan bendera dalam jumlah yang cukup. Pengibaran bendera tidak melibatkan masyarakat. Jadi kalau ada masalah, biar kami yang menghadapi. Jangan sampai ada pihak yang mempermasalahkan masyarakat," kata Abu Marwan.(tim)
-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =- Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI dengan mengirim e-mail kosong ke alamat; Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
