http://www.dataphone.se/~ahmad [EMAIL PROTECTED] Stockholm, 23 Nopember 1999 Bismillaahirrahmaanirrahiim. Assalamu'alaikum wr wbr. JALAN TERBAIK DUDUK BERUNDING GUS DUR DAN RAKYAT ACEH Ahmad Sudirman XaarJet Stockholm - SWEDIA. Tanggapan untuk Pres Gus Dur dan GAM. BERUNDING ADALAH JALAN TERBAIK UNTUK PENYELESAIAN ACEH Jalan terbaik penyelesaian Aceh adalah Pemerintah Gus Dur dan semua yang terlibat dalam krisis Aceh secara bersama-sama duduk dibelakang meja bundar, siap untuk membicarakan persoalan-persoalan yang sedang menimpa rakyat Aceh. Seperti yang pernah saya ajukan kepada pihak Pemerintah Gus Dur dan pihak Rakyat Aceh, yang ditulis dalam tulisan "DIR, musyawarah, trias politika dan Aceh", yang merupakan usulan nomor 1 dari 10 usulan yang disampaikan. ( http://www.dataphone.se/~ahmad/991114a.htm ). HARUS ADA ORANG KETIGA SEBAGAI SAKSI Tentu saja, dalam perundingan, dialog, pembicaraan, diskusi mengenai krisis Aceh ini harus ada yang menyaksikan. Dimana saksi ini harus disepakati oleh kedua belah pihak. Adanya saksi ini menurut pemikiran saya adalah suatu yang adil. Artinya, dengan adanya saksi bisa menjadi dasar pegangan untuk benar tidaknya, dipatuhi tidaknya apa yang telah dibicarakan dalam perundingan tersebut. Siapa yang akan menjadi saksi ini?. Tentu, siapa saja yang dianggap netral dan tidak memihak. Bisa dalam bentuk salah seorang wakil dari salah satu negara yang netral. Bisa orang yang dianggap netral yang bukan orang warga Indonesia. Bisa juga warga Indonesia yang oleh kedua pihak dianggap orang yang netral. PELAKSANAANNYA DI NEGARA KETIGA YANG NETRAL Pelaksanaannya, tentu saja harus di suatu tempat yang netral. Artinya bisa disalah satu negara yang netral yang telah menyiapkan untuk dijadikan negaranya tempat berunding. Mengapa berunding? Karena walaupun Pemerintah Gus Dur tidak mengakui semua pihak yang terlibat dalam kris Aceh, seperti GAM/AGAM (terlepas apakah gerakan mereka itu Islam atau sekuler), tetapi, menurut pemikiran saya, mereka adalah salah satu paktor yang juga terlibat dalam krisis ACEH. Soal diakui tidaknya GAM/AGAM secara de facto oleh Pemerintah Gus Dur bukanlah suatu soal. Yang menjadi soal adalah secara realita dilapangan GAM/AGAM ini memang punya peranan yang penting yang menurut pemikiran saya Gus Dur tidak boleh mengabaikannya. SIAPA YANG KUAT DAN SIAPA YANG LEMAH Dimana dalam perundingan ini nantinya akan terlihat siapa yang mempunyai kekuatan dan mempunyai kartu-kartu yang bisa ditampilkan untuk diberikan dan dipakai jalan penyelesaian krisis Aceh. Bagi pihak yang lemah, sudah barang tentu tidak punya kartu yang disodorkan apalagi untuk jalan pemecahan dan penyelesaian krisis Aceh. Tentu saja bagi pihak yang lemah ini untuk kompensasinya hanya dengan melalui teriakan-teriakan yang seolah-olah besar dan kuat padahal isinya keropos. Bagi pihak yang kuat, sudah barang tentu siap dengan kartu-kartu yang bisa dikorbankan dan dijadikan bahan pemecahan dan penyelesaian krisis Aceh. Tentu saja bagi pihak yang kuat ini akan melahirkan gagasan-gagasan yang baik dan positif untuk mencapai keberhasilan penyelesaian krisis Aceh. PEMERINTAH GUS DUR HARUS SAMBUT AJAKAN SEKJEN GAM UNTUK BERUNDING Pemerintah Gus Dur harus sambut baik ajakan berunding dan dialog dari pihak GAM, seperti yang ditawarkannya melalui Sekjen GAM-nya Teuku Don Zulfahri, yang berada di Kuala Lumpur, yang menegaskan, pihaknya siap melakukan perundingan dengan pemerintah Republik Indonesia untuk merealisasikan apa yang dikehendaki rakyat Aceh. ''Kami siap untuk berunding kapan saja. Mari kita dialog, duduk bersama, sediakan jadwal, kita pikir mana yang baik,'' katanya dalam wawancara via telepon antara Sekjen GAM yang berada di Kuala Lumpur dan reporter RRI Pro2FM Jakarta R. Fadli di Jakarta, Sabtu (20/11) kemarin. ( http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/1999/11/21/p1.htm ) Menurut saya ajakan saudara Sekjen GAM yang sekarang berada di Kuala Lumpur adalah merupakan ajakan yang jantan sebagai seorang laki-laki yang telah yakin akan kesanggupannya untuk berdialog dan berunding dalam usaha menyelesaikan krisis Aceh. Tentu saja dengan sarat seperti yang saya katakan diatas yaitu dalam berunding dan berdialog ini harus ada orang ketiga sebagai saksi dan dilakukan di satu negara yang netral. Dimana sarat ini memang diajukan oleh Sekjen GAM :"'Kami hanya mau disaksikan, bukan mau juri. GAM tidak percaya kepada RI, dan RI tidak percaya kepada GAM, maka kita perlukan saksi''.( http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/1999/11/21/p1.htm ) TINGGAL KESIAPAN DAN KEBERANIAN PEMERINTAH GUS DUR Nah sekarang, tinggal sikap Gus Dur yang harus berani membalas ajakan Sekjen GAM yang cukup gentleman. Maukah Gus Dur berdialog dan duduk bersama di belakang meja bundar membicarakan kemelut dan krisis Aceh? Tentu saja jawabannya tergantung kepada kesungguhan dan keberanian Gus Dur untuk mengambil sikap dan tindakan politik Aceh-nya. Inilah sedikit tanggapan untuk Pres Gus Dur dan GAM. Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada [EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.* Wassalam. Ahmad Sudirman http://www.dataphone.se/~ahmad [EMAIL PROTECTED] -= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =- Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI dengan mengirim e-mail kosong ke alamat; Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
