Terus terang, saya kok kurang sepakat dengan para ekonom yang diberitakan
dibawah ini. Untuk menilai kunjungan Gus Dur ke luar negeri dan dampaknya
bagi perekonomian, masih terlalu prematur sekarang ini. Kita lihat satu
semester ini, apakah ada perbaikan capital inflow ke perekonomian, baru
diberikan judgement.
Menurut saya, kepergian Gus Dur ke luar negeri, somehow, memberikan sinyal
bahwa Indonesia telah berubah dan siap untuk berusaha lagi. Sumber
penerimaan dalam negeri sangat memprihatinkan, sementara bila harus
mengutang lagi akan memberatkan dan tidak populer secara politis. Jalan
satu-satunya adalah menarik investasi dari luar negeri. Dan untuk menarik
investasi, jalannya adalah pemulihan kepercayaan dan rasa aman. Terbukti,
walau tingkat suku bunga sangat tinggi pada waktu yang lalu, ternyata tidak
bisa menarik investasi untuk masuk. Jadi, kepergian Gus Dur ke luar negeri,
akan berdampak pada masalah dalam negeri.
Dalam masalah Aceh pun, kepergian Gus Dur tidak hal yang sia-sia. Seluruh
negara Asean dan Asia (China sudah resmi menyatakan dukungannya pada
keutuhan RI), juga negara-negara Timur Tengah (yang didalamnya termasuk
Libya yang diduga melatih tentara GAM) mendukung RI tetap utuh dengan Aceh
menjadi bagian RI. Jadi, dalam pertarungan opini internasional, Gus Dur
telah menang 1-0 terhadap GAM. Lagi pula, untuk pergi sekarang ke Aceh, akan
counter-productive, sebab suasananya masih sangat emosional dan tidak ada
satu pun tokoh yang dapat merepresentasikan masalah Aceh. Bahkan kabarnya
GAM sendiri telah terbagi menjadi 2 kubu: Hasan Tiro di Swedia dan Huzaini
di Kuala Lumpur. Jadi, sekali lagi, kepergian Gus Dur ke luar negeri, juga
dalam rangka penyelesaian masalah di dalam negeri.
Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin>
____________________________________________
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
02 Desember 99
Prioritaskan masalah dalam negeri
Kunjungan Gus Dur ke luar negeri belum berarti bagi perekonomian �
02/12/1999, 11:59 WIB
Laporan Charles M Siahaan
----------------------------------------------------------------------------
----
satunet.com - Proses pemulihan ekonomi Indonesia tampaknya akan memakan
waktu lebih lama, karena menurut para pengamat persoalan di dalam negeri
masih begitu banyak yang harus diselesaikan, sedangkan kepergian Presiden KH
Abdurrahman Wahi ke berbagai negara dinilai belum ada manfaatnya bagi upaya
pemulihan perekonomian nasional.
Begitulah sedikit kesan yang terangkum dari pernyataan para ekonom pada
seminar tentang visi baru Indonesia terhadap masyarakat majemuk di Hotel
Sari Pan Pacific di Jakarta Kamis.
Pengamat ekonomi Anggito Abimanyu mengatakan untuk menilai kinerja tim
ekonomi Kabinet Gus Dur baru bisa dilihat penyusunan APBN nanti. "APBN
mendatang merupakan satu indikator untuk menilai kinerja kabinet Gus Dur.
Saat ini kita belum bisa menilainya karena waktunya sangat pendek dan mereka
hingga kini masih berupaya menyelamatkan perekonomian serta melanjutkan apa
yang telah dilakukan oleh pemerintahan yang lalu," katanya di sela-sela
seminar.
Kabinet sekarang belum banyak meluncurkan gebrakan-gebrakan, dan itu baru
terlihat di APBN, antara lain tentang asumsi-asumsi ekonomi meliputi
pertumbuhan ekonomi, kurs rupiah, distribusi dan pemerataan aset, dan
subsidi. "Jadi di situlah (APBN) merupakan momentum penting untuk menilai
kinerja tim ekonomi Kabinet Gus Dur, apakah sudah realistis atau tidak,"
tuturnya.
Saat ini, kata Anggito, terlihat bahwa tim ekonomi itu merasa sangat
kelelahan untuk mengurusi persoalan-persoalan, seperti skandal Bank Bali,
BPPN, restrukturisasi utang pemerintah, serta kasus Texmaco, sehingga waktu
mereka seakan-akan tertuang ke sana.
Mengenai kunjungan Gus Dur ke luar negeri, Anggito mengatakan hal itu hanya
salah satu tahap dalam upaya memulihkan perekonomian, sedangkan tahap yang
lebih penting adalah bagaimana kebijakan pemerintah dapat direspon positif
oleh investor. "Yang terpenting adalah bagaimana respon investor terhadap
kunjungan Gus Dur." Investor, katanya, akan melihat bagaimana iklim berusaha
di Indonesia saat ini, kurs, inflasi, dan sistem perbankan, apakah semua itu
sudah baik atau tidak.
Jika iklim investasi di Indonesia tidak mendukung kunjungan itu, maka itu
tidak akan berarti apa-apa. Namun demikian, kata Anggito, langkah ini
penting karena investor asing juga butuh kepercayaan. Seharusnya langkah Gus
Dur itu juga harus diikuti oleh pemulihan ekonomi regional, seperti misalnya
di Korea, Thailand dan Malaysia, yang sudah bangkit saat ini dan Indonesia
paling tertinggal dalam upaya pemulihan ekonomi.
Sementara pengamat ekonomi dari CSIS, Djisman Simanjuntak, mengatakan untuk
memulihkan ekonomi Indonesia diperlukan adanya kerjasama dengan IMF. Selain
itu, katanya, yang paling penting saat ini bagaimana supaya defisit APBN
bisa diperkecil. Menurut dia untuk menutup defisit ini tidak bisa hanya
melalui penerimaan pajak, namun pemrintah harus dapat menjual hartanya yang
tidak hanya bersifat fisik tetapi juga hak-hak penguasaannya.
Strategi penjualan, ujarnya, ini akan dapat berhasil kalau digabung antara
direct placement dan public offering, kalau itu dilakukan maka dalam keadaan
krisis saat ini Indonesia tidak perlu takut bahwa harta-hartanya yang saat
ini dikuasai BPPN akan jatuh harganya.
Djisman juga mengomentari kunjungan Gus Dur ke berbagai negara dengan
mengatakan bahwa ia tidak terlalu berharap banyak dari kunjungan itu bagi
kepentingan hubungan ekonomi, walaupun, katanya, Indonesia perlu
memmanfaatkan pasar Cina yang begitu besar.
Yang terpenting, menurut dia, adalah segera menyelesaikan masalah ekonomi di
dalam negeri. Hubungan luar negeri itu hanya sebagai pendukung saja bagi
kebangkitan ekonomi nasional.
Ia mengatakan Gus Dur harus melihat pada persoalan kritis di dalam negeri,
seperti bagaimana supaya restrukturisasi berjalan dengan cepat, bagaimana
supaya kerancuan keuangan pusat dan daerah bisa jelas dalam waktu yang
sesingkat mungkin, dan bagaimana kinerja ekspor supaya bangkit kembali
termasuk investasinya.
Jadi persoalannya, katanya, pada dasarnya ada di dalam negeri bukan di
luar.(trm)
-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!