On Fri, 3 Dec 1999, Martin Manurung wrote:

> Terus terang, saya kok kurang sepakat dengan para ekonom yang diberitakan
> dibawah ini. Untuk menilai kunjungan Gus Dur ke luar negeri dan dampaknya
> bagi perekonomian, masih terlalu prematur sekarang ini. Kita lihat satu
> semester ini, apakah ada perbaikan capital inflow ke perekonomian, baru
> diberikan judgement.

WAM:
Setuju.
Ekonom kadang memang suka cepat2 menilai, dan menilainya cuma dari
kacamata untung rugi secara fisik. (Ya, saya juga ekonom, makanya saya
bicara jujur seperti itu). Padahal, untung rugi kadang tidak selalu
bersifat fisik. 

Ukuran satu semester pun masih bisa diperdebatkan bung. Bisa saja
keuntungan itu justru baru muncul setahun dua tahun ke depan. 

> Menurut saya, kepergian Gus Dur ke luar negeri, somehow, memberikan sinyal
> bahwa Indonesia telah berubah dan siap untuk berusaha lagi. Sumber
> penerimaan dalam negeri sangat memprihatinkan, sementara bila harus
> mengutang lagi akan memberatkan dan tidak populer secara politis. Jalan
> satu-satunya adalah menarik investasi dari luar negeri. Dan untuk menarik
> investasi, jalannya adalah pemulihan kepercayaan dan rasa aman. Terbukti,
> walau tingkat suku bunga sangat tinggi pada waktu yang lalu, ternyata
> tidak bisa menarik investasi untuk masuk. Jadi, kepergian Gus Dur ke
> luar negeri, akan berdampak pada masalah dalam negeri.

WAM:
Ada trade-off antara suku bunga dan tingkat keamanan.
Tidak bisa salah satunya secara absolut mempengaruhi tingkat invesatsi. 
Benar, bahwa tingkat suku bunga yang tinggi, tanpa diimbangi faktor
keamanan, tidak akan menaikkan investasi. Namun, faktor keamanan semata,
tanpa diimbangi dengan suku bunga yang tinggi, juga tidak akan menarik
modal untuk masuk ke Indonesia. Namanya pengusaha kan cari untung. Bukan
cuma nyari keamanan. Yang paling bagus adalah aman, namun dengan suku
bunga yang masih menarik.

> Dalam masalah Aceh pun, kepergian Gus Dur tidak hal yang sia-sia. Seluruh
> negara Asean dan Asia (China sudah resmi menyatakan dukungannya pada
> keutuhan RI), juga negara-negara Timur Tengah (yang didalamnya termasuk
> Libya yang diduga melatih tentara GAM) mendukung RI tetap utuh dengan Aceh
> menjadi bagian RI. Jadi, dalam pertarungan opini internasional, Gus Dur
> telah menang 1-0 terhadap GAM. Lagi pula, untuk pergi sekarang ke Aceh, akan
> counter-productive, sebab suasananya masih sangat emosional dan tidak ada
> satu pun tokoh yang dapat merepresentasikan masalah Aceh. Bahkan kabarnya
> GAM sendiri telah terbagi menjadi 2 kubu: Hasan Tiro di Swedia dan Huzaini
> di Kuala Lumpur. Jadi, sekali lagi, kepergian Gus Dur ke luar negeri, juga
> dalam rangka penyelesaian masalah di dalam negeri.

WAM:
Benar.
Dalam hal ini Gus Dur memang berhasil _mengecoh_ banyak orang.
Rupanya diam2 Gus Dur melakukan diplomasi untuk memagari agar GAM tidak
terlalu bebas bergerak di dunia Internasional. Step selanjutnya, menurut
opini saya, adalah rekonsiliasi dengan rakyat Aceh. Selama bukan
kemerdekaan yang diminta, barangkali Gus Dur akan memberikannya. 
 


-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke