On Sat, 4 Dec 1999, Martin Manurung wrote:
> Wah, asyik ternyata kita bisa sepakat juga, he.he.he.. Kangen juga saya
> lihat alamat e-mail anda di inbox.
WAM:
Lho bung, jika anda diskusi berdasarkan norma, ada kalanya anda musuhan
ada kalanya anda _berkawan_. Jika anda selalu memandang lawan diskusi anda
sebagai musuh abadi, berarti anda sudah tidak menggunakan norma, tapi
memakai dogma. Seseorang yang sudah berdiskusi memakai dogma, berarti
sudah mengesampingkan rasionya. Dan saya belum siap melepaskan rasio saya
dalam berdiskusi. Tahu kah anda, beberapa _musuh bebuyutan_ diskusi saya
adalah sahabat baik saya? Sahabat tetap sahabat, namun perbedaan pendapat
adalah syah saja.
> WAM:
> >Ukuran satu semester pun masih bisa diperdebatkan bung. Bisa saja
> >keuntungan itu justru baru muncul setahun dua tahun ke depan.
WAM:
Jika anda ingat dalam Pengantar Ekonomi, waktu akan sangat mempengaruhi
efek yang mungkin terjadi. Dan anda juga ingat, ilmu ekonomi adalah ilmu
abu-abu. Tidak ada sesuatu yang jelas hitam atau putihnya. Itu yang
membuat seorang ekonom akan enak saja memprediksi sesuatu, jika
prediksinya tidak benar akan mudah pula berkelit. Ekonom memang licik...
he..hee.hee.
Lihat saja Syahrir tempo hari. Ketika kurs Rupiah turun, dia menuduh
Habibie penyebabnya. Ketika kurs naik, dia tidak mengatakan Habibie
penyebabnya. Itu lah kehebatan ekonom. Gampang berkelit.
> Martin:
> Betul... kalau untuk perekonomian memang bisa lebih panjang rentang waktunya
> untuk bisa melihat the whole effect. Yang saya katakan tempo hari adalah
> "capital inflow", yang memang bisa dilihat lebih cepat karena pergerakan dan
> penyesuaian modal yang lebih cepat. Dalam satu semester, kan sudah bisa
> terlihat trend neraca modal kita. Saya percaya, bahwa sesungguhnya kita
> sepakat, ini cuma penajaman perspektif saja.
> BTW, anda itu ekonom juga? Baguslah...., kok bisa di BPPT? (Ini sekadar
> menyambung pertanyaan atau gugatan seorang anggota DPR terhadap menteri
> anda, yang ilmuwan politik tapi ada di BPPT).
WAM;
Ya, saya adalah seorang ekonom.
Kenapa saya bisa di BPPT? Tanpa adanya seorang ekonom, para insinyur nggak
akan tahu mana yang _diperlukan_ dan mana yang tidak. Para insinyur
kan cuma bisa membedakan apa _yang bisa_ dan _tidak bisa_ dilakukan.
mereka tidak tahu mana _yang diperlukan_ dan mana yang tidak. Dan
peran seorang ekonom tidak lah kecil, bung. Jangan pikir di BPPT cuma ada
insinyur, bung.
Menteri, dan kepala BPPT juga, ada di BPPT karena persoalan politik.
Sedang saya tidak. Saya masuk di BPPT melalui test dan mengalahkan banyak
insinyur seangkatan saya. Jadi, tanya Gus Dur saja kenapa naruh AS Hikam
di BPPT dan Ristek. (BTW, saya sudah nulis kritik terhadap Hikam awal
November lalu di Republika).
-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!