On Wed, 15 Dec 1999, Martin Manurung wrote:

> asyik juga debat filosofis ini... persis ketika saya membaca suatu buku
> ekonomi, judulnya "equality".

WAM:
Tambah bingung kan?
Pada akhirnya belajar economics memang menyangkut filosofi dan norma.
Makanya saya selalu menanyakan: apa sih definisinya? Nggak bisa kita kasih
cap tanpa memberi kriteria. Cuma politisi saja yang bisa buka mulut tanpa
mau memberi definisi. Pokoknya....
 
> Ternyata mengkoreksi inequality, juga dengan melakukan inequality
> treatment...., identik dengan melawan "pemaksaan kehendak" juga dengan
> "pemaksaan kehendak" WOW!! Jadi, intinya gimana dong? Ends atau Means nih

WAM:
The end does not justify the means. Itu jelas. Mau tidak mau anda harus
memegang ini. Sebab, the ends sangat relatif. 

> yang diutamakan? Soeharto turun adalah ends, caranya (means) bisa dengan
> pemaksaan kehendak. Sebenarnya, kengototan Soeharto u/ jadi presiden lagi,
> juga pemaksaan kehendak yang akhirnya dilawan dengan pemaksaan kehendak. nah
> lho...

WAM:
Kengototan Suharto untuk jadi presiden lagi bukan lah pemaksaan. Itu
haknya dia sebagai warga negara. Sama seperti mega atau Gus Dur yang ingin
jadi presiden. Baru menjadi pemaksaan, kalau yang tidak memilih dia
digebuki. Harus anda bedakan antara exercising the right dengan trampling
others' rights. Orang yang exercising his/her right, selama tidak
bertentangan dengan aturan, tidak bisa disebut pemaksaan. Agak aneh juga
kalau keinginan Suharto jadi presiden lagi itu dianggap sebagai pemaksaan.
Lha kok Mega atau Gus Dur nggak dianggap memaksa?  

Jika definisi pemaksaan atau bukan itu sangat subyektif, akan kacau. 




-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke