Akur bung Alif.
Yang ingin saya tambahkan adalah bahwa melaksanakannya nggak harus
berurutan. Bisa paralel kalau mau, sehingga lebih cepat.
Dengan konsep politik baru yang relatif lebih menjamin terwujudnya demokrasi
dan transparansi, maka penajaman regulasi perlu dipercepat agar semakin
memihak kepada rakyat. Peran Pemerintah semakin dikurangi sampai sebatas
fasilitator saja.
Titik berat pendapatan Pemerintah haruslah pada pajak. Retribusi diseleksi
ketat agar tidak menjadi lahan penghasilan pribadi pejabat Pemerintah,
khususnya retribusi perijinan. OK, perijinan masih perlu, tetapi sedapat
mungkin cepat dan gratis. Dengan demikian tidak meningkatkan nafsu
memperpanjang daftar perijinan untuk setiap kegiatan, karena memang nggak
ada uangnya alias gratis. Pakai deadline lagi. Lewat dari deadline nggak ada
jawaban, dianggap diijinkan. Risiko ditanggung pejabat bagian pemberian
ijin.
Lalu paradigma para pegawai negara harus segera diarahkan untuk melayani
rakyat. Boleh digaji besar, tetapi kalau terbukti mengkomersialkan jabatan
harus dikenai sanksi keras. Mekanismenya diatur agar pegawai negara secara
pro aktif mendorong kegiatan masyarakat, bukan sekedar responsif, reaktif
atau bahkan mempersulit. Ini tentu dapat dicapai melalui aturan mekanisme
kerja dan penilaian kinerjanya. Ada perbaikan sistem, ada perbaikan kualitas
SDM, terutama wawasan. Hal yang sama sekali nggak mendorong peningkatan
kinerja pegawai negara adalah sistem kompensasi (penggajian dsb) mereka
nggak nyambung dengan prestasi kerjanya, sehingga mereka merasa lebih aman
bila bersikap diam atau defensif. Apalagi dengan law enforcement yang lemah
bagi pelanggaran aturan dengan alasan gaji mereka sedikit, makin menyuburkan
tumbuhnya raja raja kecil terutama dibidang perijinan usaha.
Penerimaan keuangan Pemerintah terutama dialokasikan untuk membangun
infrastruktur dan suprastruktur kegiatan masyarakat, baik kegiatan ekonomi,
sosial, budaya dan kegiatan kemasyarakatan lainnya. Disini peran DPR (D)
dalam mengevaluasi proposal anggaran sangat menentukan. Juga perlu
dianggarkan untuk menyantuni kelompok yang kurang beruntung, memalui semacam
social security system, dan bantuan langsung pada bencana alam, kelaparan,
buta huruf, wabah penyakit, ketiadaan tempat tinggal dan sebagainya. Juga
diperlukan dukungan bagi kegiatan budaya lokal dalam memelihara keseimbangan
jiwa masyarakat.
Sejalan dengan itu ada kelompok kerja yang memfokuskan perhatiannya untuk
memajukan ekonomi rakyat. Bukan model charity, tetapi model bisnis yang
sustainable. Pemerintah, atau badan lain perlu memberi advokasi dibidang
permodalan, produksi, pemasaran dan strategi bisnis. Advokasi juga perlu
diberikan untuk membuka wawasan dan peluang bisnis, termasuk agar kemitraan
bisnis antara warga lokal dengan pihak luar berjalan secara fair. Jangan
sampai partner lokal hanya jadi bulan bulanan mentang-mentang nggak punya
duit. Dan kalau terdapat Perusahaan yang merupakan kerjasama dengan pihak
asing, ada 2 hal yang secara mutlak harus dipatuhi, yaitu porsi maksimal
pekerja asing dan perbandingan penggajian antara pekerja lokal dan pekerja
asing pada tingkatan yang sama. Insentif untuk menarik investasi dalam
bentuk tax holiday dan kemudahan perijinan boleh saja, tetapi idealnya untuk
jabatan yang sama pekerja lokal menerima tidak kurang dari setengah gaji
pekerja asing. Juga pekerja asing jumlahnya dibatasi secara proporsional dan
semakin kecil seiring berjalannya perusahaan. Kalau perlu juga
dipersyaratkan agar pekerja lokal diberi kuota untuk menduduki semua strata
jabatan, jangan cuma tingkat pelaksana atau satpam saja.
Dengan model ini tumbuh rangsangan untuk sekolah setinggi mungkin bagi warga
lokal, bukan sekedar mengejar gelar Doctor dan Professor 5-juta perakan
seperti yang banyak diiklankan belakangan ini, karena pada akhirnya
kemampuannya akan diuji dalam praktek. Nah, kalau mau subsidi, disektor
Pendidikan inilah yang perlu diperbesar, sehingga suatu ketika akan semakin
banyak putera daerah yang mempunyai kompetensi dan kapabilitas untuk
mengolah sumber daya alam serta potensi daerahnya.
Bicara pertumbuhan ekonomi nggak bisa lepas dari penyehatan lembaga
keuangan, karena uang adalah darah perusahaan. Kinerja Bank yang parah sudah
lama diketahui dari sulitnya mendapatkan kredit dan spread yang tinggi
(diatas 10%) antara bunga tabungan dan bunga kredit. Perlu diterapkan model
dukungan keuangan untuk usaha yang lebih sesuai dengan kondisi setempat,
apakah Bank Syariah, Modal Ventura, Koperasi simpan pinjam atau lembaga
perbankan biasa yang oleh sebagian masyarakat islam dinilai berbau riba.
Untuk memacu dan menyehatkan pertumbuhan lembaga keuangan, kalau perlu
diijinkan masuknya Lembaga keuangan Asing nggak hanya dikota besar tertentu,
sehingga mampu menimbulkan suasana persaingan bisnis. Kalau dalam
perkembangannya ternyata persaingannya tidak sehat, ya disehatkan. Perbaiki
aturannya, atau beri dukungan bagi yang lemah tapi baik.
Untuk memelihara keseimbangan jiwa, perlulah diperbanyak secara bertahap
tempat rekreasi dan kegiatan sosial/budaya, sehingga masyarakat maju yang
dicapai tetaplah masyarakat yang seimbang jiwanya dan tidak tercabut dari
akar budayanya.
Kalau hal ini dikerjakan dengan serentak dan bersama, saya kira UU No. 22
dan 25 sudah cukup menjamin cita cita kemerdekaan. Kepincangan pertumbuhan
kemakmuran antara Pusat dan Daerah semakin berkurang, orang semakin bangga
menjadi dirinya sendiri, menjadi bagian bangsa ini. Kalau akhirnya toh harus
ke federasi, ya nggak masalah.
Mudah mudahan ini sekaligus menjawab concern-nya bung Aswat, yang saya
sendiri nggak tahu apakah saat ini bisa ditentukan salah satu sebagai titik
berat, karena parahnya warisan kondisi masa lampau. We want it all, at once.
Karenanya perlu kebersamaan, jangan semuanya ber-euphoria politik yang
sekarang perkembangannya sudah lebih dari cukup. Let's get back to the real
world.
Yap
>From: "M.Mashuri Alif" <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: Re: [Kuli Tinta] opini
>Date: Sat, 18 Dec 1999 11:32:44 +0700
>
>Ekonomi, Politik dan Budaya/sosial itu saling berhubunga. Politik adalah
>organisasinya (rakyat) jika organisasi baik dia akan membuka cara untuk
>menghidupinya (ekonomi) tetapi jika hanya cara hidup dan organisasi saja
>menjadikan orang tersebut, seperti binantang hanya mencari kepuasan saja.
>Dan ini sangat berbahaya. Oleh sebab itu harus pula kita bisa melampaui
>kebudayaan atau kehidupan sosial yang baik. Suatu keadilan sosial dapat
>tercipta jika perubahan budaya sudah terlaksana. Indonesia sekarang ini
>masih dalam perdebatan ekonomi dan politik ini yang menjadi tema sentral
>dengan perbahan kita akan mencapai perbahan budaya yang baik.
>
>Mashuri
>
>-----Original Message-----
>From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
>Date: Saturday, December 18, 1999 7:14 AM
>Subject: Re: [Kuli Tinta] opini
>
>
> >
> >----- Original Message -----
> >From: Yap C. Young <[EMAIL PROTECTED]>
> >
> >Bolehkah saya mengatakan bahwa masalah pokoknya adalah
> >terciptanya rasa
> >keadilan?
> >====================
> >
> >Keadilan sosial, keadilan ekonomi, atau keadilan politik yang
> >sebenarnya sedang dikehendaki?
> >Diantara ke tiga itu pasti ada salah satu yang paling dominan
> >bukan? Yang mana Boss?
> >
> >
> >
> >-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
> >Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> >dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
> >Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> >Keluar: [EMAIL PROTECTED]
> >
> >Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
>
>
>-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
>Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
>dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
>Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
>Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!