Oom mBin dan netters sekalian:

Ada profesional track record yang jelas pada keduanya.
Adalah Kuntoro yang melambungkan profesionalisme di PT Timah, salah satu
'ide gila'nya antara lain dengan gebrakan memindahkan Head office dari
Pangkalpinang ke Jakarta yang menghasilkan effisiensi signifikan, walaupun
migrasinya sendiri memakan biaya sesaat yang sangat besar. Grafik kinerja PT
Timah menanjak dengan pasti dibawah manajemen Kuntoro, sehingga
melambungkannya keposisi Dirjen Pertambangan Umum, sebelum terseok karena
kasus Busang. Tetapi kemudian ternyata itu hanya stop over, sebelum dia
akhirnya memimpin Dep Pertambangan. Memang itu terjadi di era Soeharto,
tetapi saya kira pemicu utama laju karirnya adalah profesionalismenya, bukan
kedekatannya dengan Cendana.

Begitu juga Cacuk, dengan jalan karir yang nggak berapa mulus. Saya termasuk
agak mengikuti kisah anak keluarga miskin dari Malang ini. Sebagai jebolan
IBM yang notabene orang swasta, dia berhasil 'menyelinap' ke Indosat sebagai
Direktur Operasi, yang boleh dibilang ujung tombak perusahaan.
Kepribadiannya yang sederhana,  pola pikirnya yang terstruktur dan lateral
mencuri perhatian Susilo Sudarman untuk mempiloti Telkom sebagai Direktur
Utama. Hanya 4 tahun disana, tetapi kalau jumlah sambungan telepon yang
dijadikan ukuran, maka prestasi 4 tahun Cacuk disana bahkan lebih
spektakuler dari prestasi 100 tahun para pendahulunya, karena sampai dengan
turunnya Willy Munandir yang digantikannya dari kekaisaran Telkom, Indonesia
hanya mampu memasang 750.000 sambungan telepon, sementara pada era Cacuk
saja terjadi penambahan lebih dari sejuta unit. Belum lagi perbaikan
substansial dibidang SDM dan kesisteman, sehingga Cacuklah yang pantas
disebut meletakkan pondasi Telkom menuju world class operator. Salah satu
'ide gila'nya, untuk memperbanyak MBA di Telkom misalnya, Cacuk bukan
mengirim pegawainya keluar negeri tetapi mengusung full lecturer team dari
AIM Manila ke Bandung, sehingga lebih banyak MBA dihasilkan dalam waktu
lebih singkat, tanpa mengorbankan kualitas. Menurut bocoran berita, tadinya
Cacuk bermaksud mengusung lecturer team dari HBS (Harvard Business School),
tetapi kemudian ia lebih memilih AIM, karena dapat dua manfaat sekaligus,
kualitas HBS dan Asian value. Belum lagi pendirian Assesment Center yang
barangkali termasuk yang pertama kalau bukan satu-satunya unit sejenis yang
dimiliki BUMN. Pemindahan head office dari Bandung ke Jakarta lebih
bernuansa mercu suar, karena nggak ada pengaruh signifikan. Bahkan mungkin
malah pemborosan. Concern-nya pada peningkatan kualitas SDM dan kesisteman
sangat dominan, dan nampaknya itu menjadi warna dasar kepemimpinan dia
dimanapun.

Sayang dengan benturan kepentingan Bimantara group dan Citra group pada
tender proyek Gelombang Mikro Digital Nusa Tenggara yang gagal itu, Cacuk
digusur dari Telkom dengan kurang terhormat, kemudian 'terlunta-lunta'
mendirikan perusahaan konsultan PT Jasa Jakarta Rekamitra, yang boleh
disebut start dari nol dan tetap gurem. Angin perobahan membawa dia kepuncak
Management Bank Mega, dan lagi-lagi Bank gurem ini mencuat dengan terhormat
kepapan tengah Bank Swasta Nasional. Setidaknya termasuk Bank kecil yang
selamat dari badai krisis.

Ketika Adi Sasono mencari tokoh berkarakter dalam skuad-nya di Depkop PKM,
Cacuk dan Anwar Supriadi (ex Dirut PJKA) direkrut jadi Dirjen. Sebagai
Dirjem PKM, tadinya saya berharap dia akan memberi penguatan serius pada
Penguasa Kecil Menengah Indonesia, untuk menjejaki sukses Italia dan Taiwan.
Ternyata Adi segera tergoda berpolitik praktis, dan Cacuk dijadikan ujung
tombaknya. Tidak bisa menolak perintah boss, dia berusaha menghindari posisi
politik dengan smart, yaitu memposisikan diri disayap ekonomi sosial
(Persatuan Daulat Rakyat), sementara untuk sayap politiknya, Partai Daulat
Rakyat,  dipasanglah Jumhur Hidayat cs. Yang saya sayangkan, Cacuk
memutuskan mundur dari jabatan Dirjen, sehingga PKM kehilangan peluang
mendapat sentuhan manajemennya, walaupun keputusan itu tentu saja mengundang
rasa hormat.  PDR adalah proyek Cacuk yang gagal dan sekaligus menodai
reputasi profesionalnya. Jalan bagi Cacuk memang lebih terjal dibanding
Kuntoro, tetapi secara kualitas, keduanya pantas masuk Hall of Fame. Anwar
Supriadi dan Ishadi berada dikelas ini dengan status waiting list. Mungkin
saja Hatta Rajasa termasuk diantaranya, tetapi saya kurang informasi tentang
dia, sehingga nggak bisa berpendapat.

Ya, Cacuk dan Kuntoro membuat prestasi dimasa Orba, tetapi seperti halnya
Emil Salim dan Yunus Yosfiah, mereka mempunyai warna yang jelas, sehingga
nggak masalah kalau dipakai lagi, tanpa perlu menghitung siapa sponsornya.
Tetapi untuk tetap kritis, kalau warna profesionalnya ternyata luntur, larut
dalam warna politik, wajib hukumnya  untuk dilongsorkan.

Tentang mengapa saya sebut lucu kalau Cacuk disponsori PT, agak panjang dan
sensitif ceritanya, sehingga hanya cocok untuk diketahui kalangan terbatas.

Dengan segala hormat, Cacuk dan Kuntoro adalah orang yang kita butuhkan
mewarnai pentas reformasi. Seperti halnya saya memandang Sri Mulyani dan
Faisal Basri yang mestinya diberi peranan lebih besar.
Juga Prabowo Subiyanto dan Hendro Priyono.

Oom mBin, saya setuju Anda, masih banyak orang Indonesia yang bagus yang
tercecer dari pentas reformasi, tetapi secara pribadi saya berpendapat orang
yang saya sebut namanya itu termasuk yang pantas mendapat kesempatan, karena
kejelasan karakternya.

Salam
Yap

-----Original Message-----
From: mBin <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 13 Januari 2000 15:10
Subject: Re: [Kuli Tinta] Kuntoro Dir-Ut PLN


>naiknya cacuk dan kuntoro,
>diduga sebagai sambungan politik dagang sapi partai pengikut gus dur,
>coba saja ing ngatasnya pejabat orba, orha masih diapakai di ordur
juga.....
>kira-kira saja... apa kepentingan orang-orang yang mengusulkannya ?
>
>atawa tidak adakah orang lain yang mampu menduduki jabatan itu ?
>sedemikian huibatnya kah si cacuk en kontoro,
>dan sedemikian begonya orang indonesia sisanya ?
>--
>Akibatnya adalah pada setiap kebijakan lugas dari beliau nanti, akan
>ditanggapi dengan kecurigaan dari sebagian anggota masyarakat.
>
>mBin:
>apapapun yang dilakukan,
>ak akan ada yang percaya jika lepas dari yang namanya politik
>kepentingan....
>dan itu resiko jabatan....
>
>salam,
>mBin
>----



-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke