SatuNet.com berani beraninya memuat pendapat Prof. Dr. James Danandjaja
seperti ini, apa dia nggak takut didemo seperti yang dipostingkan mBah
Soeloyo tempoh hari? Bicara lugas, jelas arahnya, yang walaupun banyak orang
juga berpendapat begitu, selama ini paling banter semua hanya mbatin saja.
Tidak berani mengungkapkan.
Istilah 'Kancil yang licik' ditujukan kepada Amien Rais, dan 'ambisi menjadi
Presiden' termasuk 'dukungan Poros Tengah', tidak ayal lagi bakal digebuk
rame rame oleh fans fanatiknya Amien, sekaligus 'membenarkan' sinyalemen
bung Martin Manurung. Jangan-jangan Prof. James ini yang pakai nama
Hihihiiik Yek disini tempoh hari.

Banyak pertanyaan yang bisa diderivasi dari sini:

Apakah GD menjadi Presiden karena dukungan PT atau karena kebesaran dirinya?
Kalau ya, kontrak politik macam apa yang dimainkan selain bagi bagi kursi?
Kalau memang PT sadar posisinya menentukan, mengapa tidak mencalonkan AR
saja, yang lebih safe? Kalau AR atau Yusril bertarung voting dengan MW siapa
kira kira yang menang? Dengan kata lain, suara Golkar diberikan kepada siapa
kira kira?
Kalau pertanyaan ini sudah terjawab, mengapa sepertinya PT terkejut kejut
atas 'keliaran' GD? Kalkulasi politik yang lemah, sekedar ingin nempil
kamukten, atau sekedar memainkan drama satu babak? Ekspektasi yang nggak
realistis atau sekedar ilusi? Bersyukurlah kita masih bisaa menjadi saksi
kelanjutan kisah ini. Insya Allah.

Ya lumayanlah, buat rame rame ngisi kolom berita. Kalau bahasa iklannya:
Sudah tahu kok nanya....
Kita tunggu laporan Republika, sebagai penyeimbang.

Laporan Asep Salahudin Samboja (SatuNet.com):

Ketua MPR Dr Amien Rais dinilai tengah mengincar posisi presiden dengan
memanfaatkan isu Ambon dan kekuatan kelompok Poros Tengah demi popularitas
dirinya. Disinyalir, Amien memperkirakan Prsiden KH Abdurrahman 'Gus Dur'
Wahid hanya bisa bertahan satu-dua tahun lagi atas alasan kesehatan, dan
Amien tengah mengincar peluang 'untuk masuk'.

Analisa itu disampaikan ahli antropologi UI Prof Dr James Danandjaja kepada
satunet.com Rabu, saat menilai keanehan kasus Maluku dengan kekerasan serta
jatuhnya ribuan nyawa manusia secara berlarut-larut. Bahkan ketika Jakarta
sudah campur tangan pun, peristiwa itu tidak kunjung mereda.

Dalam kaitan itu ia menyesalkan Amien sebagai seorang politisi senior dan
Ketua MPR justru memanfaatkan isu pembantaian Maluku untuk menaikkan
popularitas dirinya. �Amien itu perlu dicurigai. Dia seenaknya saja mengajak
orang-orang di Jakarta ini untuk berjihad ke Ambon. Belum tentu dia berbuat
untuk kepentingan bangsa,� ucap James.

Secara sepihak ahli folklore Indonesia itu memberi julukan kepada Amien
sebagai "kancil yang licik," dengan alasan telah memperalat agama untuk
kepentingan pribadi dan kelompoknya. �Masalah agama 'kan paling efektif
[untuk menggerakkan emosi massa] dan merupakan isu sensitif,� tuturnya.

James menduga, motif utama Amien itu tak lain adalah ingin menjadi presiden.
Dengan membentuk Poros Tengah, motivasinya tidak lain adalah untuk menjadi
presiden. �Dia itu pintar. Tapi, belakangan dia panik karena suara yang
didapat partainya kecil. Gus Dur menjadi presiden itu memang atas jasa dia,�
kata James. �Tapi, itu bukan untuk kepentingan bangsa dan negara, melainkan
untuk kepentingan dia.�

Dijelaskannya, karena kondisi kesehatan Gus Dur yang kurang prima lantaran
pernah mengalami stroke, diramalkan Gus Dur tidak bertahan lama. �Nah, Amien
ingin masuk ke situ,� tambah James dengan penuh keyakinan. �Sekarang, ketika
ada lowongan, dengan adanya ramai-ramai soal Ambon, dia masuk ke dalamnya.�

Seharusnya sebagai Ketua MPR RI Amien Rais harus bersikap hati-hati. Kalau
dia ikut terlibat dalam aksi sejuta umat, menurut James, Amien tidak lain
hanyalah seorang oportunis. �Pemimpin seperti ini agak berbahaya. Saya
menilainya seperti kancil. Tapi bukan kancil yang cerdik, melainkan kancil
yang licik,� kata James.

Menurut dia, tak ada suku bangsa di mana pun yang suka berkelahi. Hanya
saja, keadaan di Indonesia sekarang ini memang sedang aneh, terutama sejak
euforia politik yang tidak terkendali. �Kita mengalami masa anomi, dulu
biasa diatur, tiba-tiba dilepas. Bahkan persoalan HAM yang substansinya
baik, membuat polisi dan tentara kebingungan,� ungkap James, penulis buku
Folklore Indonesia.


Sekarang, katanya, masalah yang terjadi di Ambon berpotensi terjadi di
Jakarta, karena masalah agama sedang dibakar-bakar. �Untung presidennya
orang baik dan cukup berwibawa. Meskipun Gus Dur itu kiai, tapi dia tidak
mementingkan agama, melainkan mementingkan kebenaran,� ujar James.

Manuver yang dilakukan Amien beberapa hari terakhir ini dinilai James
memperlihatkan kepentingan pribadinya. �Dia merasa paling penting, misalnya
dengan mengatakan bahwa naiknya Gus Dur menjadi presiden adalah berkat Poros
Tengah, dan itu tidak lain adalah karena jasanya,� kritik James.

�Seharusnya, kalau benar Amien ingin membantu menyelesaikan persoalan Ambon,
dia bisa menghadap Gus Dur. Itu kan lebih efektif. Dia bisa bertemu Gus Dur
dan memberitahu jalan keluarnya, bukan ikut ramai-ramai di Monas. Seharusnya
Amien ikut menenangkan massanya, bukan mengajak jihad ke Ambon,�
sesalnya.[anr]




-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke