Saya sepakat dengan 2 type manusia pemeluk agama yang bung nuskan sampaikan. Persoalan 
yang paling mendasar adalah, bagaimanakah agama baik secara teologis maupun ritualnya 
mampu mencerahkan manusia-manusia pemeluknya untuk mempunyai type yang pertama.

Dalam dataran politik (kekuasaan), agama juga pernah mengalami pembusukan, ketika 
paham kedaulatan Tuhan menjadi paradigma politik ketatanegaraan. 

Thomas Aquinas pernah mengemukakan bahwa dalam dataran ilmu negara dikenal adanya 
cevitas dei (negara Tuhan) dan cevitas terrena( negara iblis). Dalam konsep negara 
iblis inilah konsep-konsep duniawi diletakkan dalam mengatur sistem ketatanegaraan. 

Dengan pandangan yang demikian ini, kemudian Thomas Aquinas memberikan konsep untuk 
memisahkan dua jenis negara tersebut - melalui struktur organisasi yang akan dibentuk. 
Paus sebagai pemegang kedaulatan tuhan di dunia hanya mengatur persoalan-persoalan 
yang berdimensi surgawi. Sedangkan raja sebagai pemegang kedaulatan mengurus 
persoalan-persoalan duniawi. Dengan konsepsi yang demikian inilah maka abad renaisance 
muncul. 

Sekarang ini, kalau kita melihat fenomena politik yang terjadi di negeri kita 
tercinta. Maka nampaknya mulai ada tanda-tanda bahwa persoalan-persoalan publik 
(duniawi) termasuk di dalamnya politik selalu dikaitkan dengan agama (baik dari aspek 
teologis maupun ritualnya).

Hal ini secara prinsipiil dapat dibenarkan sepanjang politik diarahkan untuk 
kemaslahatan masyarakat. Politik dipergunakan untuk kesejahteraan sesama umat manusia 
apapun agamanya. 

Dengan cara yang demikian ini, maka agama tentunya tidak lagi diletakkan dalam 
konotasi tekstual melainkan harus diletakkan dalam dataran kontekstual.

Diletakkannya agama dalam dataran kontekstual, maka disini ajaran-ajaran agama apapun 
harus bersifat inklusif, yakni diarahkan untuk membangun moral dan etika politik bagi 
para pemeluknya yang kemudian terjun di arena politik (kekuasaan) maupun kehidupan 
publik lainnya. Seharusnya Agama tidak dijadikan alat politik, karena kalau hal ini 
dilakukan, maka akan terjadi sektarianisme. Sehingga justru tidak mengarah kepada 
kepentingan umum (rakyat) melainkan hanya berdimensi pada golongan (agama) tertentu.

Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri. Bila kamu ditampar pipi kirimu serahkan 
pula pipi kananmu. Kalau ajaran seperti ini diletakkan dalam dataran tekstual, maka 
akan selalu terjadi penindasan yang terus menerus. Karena setiap orang tidak diberi 
kesempatan untuk melakukan pembelaan diri.

Jika ajaran ini diletakkan dalam dataran kontekstual, maka niscaya akan terjadi 
kedamaian di bumi ini, karena setiap orang dapat mengekang dendam dan mampu mengelola 
emosi.

Sekarang ini kita membutuhkan agama-agama yang kontekstual. Bukan yang tektual. Karena 
yang terakhir inilah yang akan selalu memunculkan sentimen-sentimen yang berbau SARA. 

Mari kita bangun negara ini dengan moral dan etika yang tinggi seturut dengan ajaran 
agama kita masing-masing. Janganlah agama dijadikan alat politik untuk meraih 
kekuasaan. Karena bagaimanapun juga politik merupakan area publik yang bersifat 
duniawi - bukan surgawi.   
--

On Tue, 18 Jan 2000 22:30:59   Phantom Stranger wrote:
>From: Nuskan Irawadi <[EMAIL PROTECTED]>
>> Menurut saya (kalau nggak salah) ada 2 tipe manusia dilihat dari caranya
>> menyikapi agama (agama apapun):
>>
>> 1. Manusia yang menjadikan agama adalah pedoman hidupnya, sehingga
>> tindak-tanduknya selalu dilandasi pada moral agamanya. InsyaAllah orang
>ini
>> akan menciptakan damai sejati.
>>
>> 2. Manusia yang menjadikan agama sebagai alat untuk memenuhi pikiran,
>> keinginan dan hawa nafsunya. Manusia yang paling busukpun bisa mengunakan
>> agama untuk melegalisir segala perbuatan busuknya.
>>
>> Pesan moral hampir semua agama rasanya baik, mengajak ke kedamaian. Jika
>> akhirnya masih ada juga kekacauan dengan mengatas namakan agama, mestinya
>yang
>> mesti diberangus adalah orang-orang dibalik itu yang telah mengatas
>namakan
>> agama untuk membunuhi dan membantai orang lain.
>
>PS :
>misalnya manusia jenis ke 2 memprovokasi massa..
>lalu massa itu menjadi bersifat menghancurkan, membunuh, dll..
>massa itu termasuk golongan yang mana?
>
>tapi itu tidak penting..
>yang penting adalah kenapa massa itu dapat terprovokasi..kalo massa tidak
>terprovokasi, lebih mudah untuk melihat siapa yang memprovokasi..
>
>
>
>-===  FREE Handphone @ http://www.indoglobal.com/dedicated.php3  ===-
>Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
>Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
>Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>


Join 18 million Eudora users by signing up for a free Eudora Web-Mail account at 
http://www.eudoramail.com

-===  FREE Handphone @ http://www.indoglobal.com/dedicated.php3  ===-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke