Beberapa waktu berselang (menjelang tahun baruan) saya
nonton tayangan NHK tentang kehidupan hewan liar di
Afrika. Pokok bahasannya adalah Primata yang kecerdasannya
menghampiri manusia, yi. SIMPANSE

Kebetulan yang dibahas tentang kekuasaan keluarga. Penguasa
itu telah belasan tahun memimpin keluarganya yang anggotanya
tak lain adalah isteri-isteri dan anak-anaknya yang masih lucu-lucu.
Kelompok isteri-isteri ini lucu juga, pada waktu estrus. Mereka
berusaha mendekat kepada sang pemimpin, agar mendapatkan jatah
untuk hamil musim estrus itu. Kadang berkelahi antar sesama isteri
yang lagi ngebet itu, rebutan jatah.

Sebaliknya betina (kalau isteri kan untuk manusia ya?) yang sedang
menyusui anaknya, akan tampak garang. Menjaga anaknya sepanjang
waktu, sambil bermain. Bahkan kepada jantannya pun dia strength
benar menjaga anaknya. Alasannya, ternyata si bapak simpanse ini
bila tahu sejak awal anaknya jantan, kadang-kadang nekat membunuh
nya se awal mungkin. (pada waktu bayi, si anak simpanse tidak pilih-2
kalau bermain, sehingga kadang-2 mendekat begitu saja kepada
bapaknya, yang berarti ancaman jiwa)

Aneh, memang. Karena setelah cukup besar, si jantan muda itu
sudah dapat menghindar dari sergapan bapaknya, dan semakin besar
akan semakin manjauh dari kelompok keluarganya itu, untuk kemudian
melepaskan diri (mungkin menempa diri di hutan, untuk nanti kembali
merebut keluarga bapaknya). Bapak simpanse pun tidak ngancam-2
benar setelah anak jantannya cukup besar (Ah, dunia hewan memang
penuh pelajaran, kesempatan menyambung keturunan rupanya juga
berlaku, walaupun resikonya adalah kekalahan bagi sang bapak,
suatu proses alih generasi ala MONYET)
-----loncat----
Diceritakan bahwa kelompok yang di-shoot itu telah berkali-kali
mengalami
usaha kudeta dari anak-anaknya sendiri. Kebetulan, memang si pemimpin
selalu berhasil bertahan.

Ada suatu cara aneh dari jantan muda untuk merebut kekuasaan itu
adalah
dengan merayu induk-induk yang sedang menyusui, dengan mengasuh
dan (seperti) menimang-nimang adiknya. Atau mendekati betina-betina
muda dengan pamer kejantanan. Konon, bila usaha pendekatan itu tetap
gagal,
artinya induk betina tidak menanggapi malah merebut kembali anaknya,
maka si jantan muda itu akan mengintai dan menyergap anak simpanse
untuk
sekalian dibunuhnya (dendam dan sakit hati rupanya menghias juga dunia
hewan suaka margasatwa ini). Sebaliknya, kalau menanggapi, maka jiwa
si anak
akan terancam oleh pemimpin yang akan dikup itu. (jadi dendam dan
sifat marahan juga berperan rupanya).

Adegan lucu pada saat bertanding pamer kejantanan ini. Sementara
pejantan
muda sibuk merayu yang muda, maka pemimpin menelentangkan diri untuk
minta digaruk atau dipetani kutunya oleh betina-betina miliknya.
Rupanya ada
juga betina tokoh yang mempengaruhi betina-betina lain. Kalau betina
tokoh
ini menghampiri si pejantan yang leha-leha, maka betina lainnya akan
ikut
pula. Dengan begitu pejantan muda yang sedang berjuang, gagal dan
kembali ke hutan (sportif?).

Bila pejantan tua tak laku pameran wibawanya, maka adegan dilanjutkan
dengan
adu otot antara bapak dan anak. (gojali suta berlangsung di dunia
simpanse).
Ceritanya, kelompok itu telah berkali-kali menghadapi proses begitu,
tandanya
adalah dengan semakin panjangnya taring pejantan tua.
--------------putus--------
Menonton tayangan itu dan memperhatikan kerusuhan yang semakin
menggila
di tanah air, pikiran jadi ngelantur. Aku bayangkan betapa banyak
pejantan-2 muda yang ingin balik menguasai keluarganya.
(beberapa memang diceritakan berhasil menaklukkan keluarga lain).
Yang kalah juga sudah banyak, orang bertahun- tahun pejantannya
tetap saja.

OK, taruhkata pejantan tua itu berhasil dengan segala caranya selama
32 tahun. Pejantan-pejantan muda yang gagal, berjuang dan gagal,
semakin banyak. mereka kembali ke hutan menempa diri, menambah
bekal untuk bertanding lagi dengan bapaknya. Sementara itu cara
si bapak memang jitu. Anak-anaknya yang ingin menggantikannya,
tidak berdaya selama 32 tahun dan bertambah-tambah.
(Ah, seandainya para jantan muda itu bersatu, kemudian ngroyok si
bapak, bisa apa dia.... sayang mereka simpanse, tak kenal kerjasama)

Nah bayangan saya, seandainya si jantan tua itu mati begitu saja, atau
meletakkan jabatan seperti presiden ke-2 Indonesia dulu, apa kira-kira
keributan di keluarga simpanse itu seperti kekacauan di Indonesia?
Kalau iya, sayang sekali bukan?
(harap tidak diambil ati lho ya, ini sekedar ulah pikiran yang kadung
ngelantur.... masak menganalogikan negeri sendiri dengan keluarga
simpanse?)

salam,

mBah Soeloyo
Moderator ML JOWO  WOJOSETO
SURADIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI
langganan: [EMAIL PROTECTED];



-===  FREE Handphone @ http://www.indoglobal.com/dedicated.php3  ===-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!

Kirim email ke