Hehe, sekali lagi, Edi, untuk kasus ini, saya sekedar menyodorkan cermin.
Dlm interpretasi saya, cermin itu mau menyatakan bahwa 'language game'
kadang2 nggak bermutu. Anda bacalah baris terakhir posting saya itu ("Nggak
bermutu banget 'kan posting kayak gini?"). Jadi jangan salah, posting saya
itu memang diupayakan tidak bermutu, bahkan mungkin tidak benar, utk
mempertegas kesetaraan kemungkinan bahwa 'jangan2 dst' versi Mas Marto dan
Mas Aswat dgn versi saya sama2 tidak benar.
Dlm kerangka 'language game' ini coba Anda perhatikan lagi pemilihan kata2
Anda utk menilai kami.
Marto: membuat dugaan ...
Ferli: menuduh ...
(padahal kalimat 'jangan2' yg digunakan amat mirip strukturnya; mengapa
tidak sebaliknya?).
Marto: melempar bahan diskusi ...
Ferli: menyerang ...
(padahal kalimat 'jangan2' yg digunakan amat mirip strukturnya; mengapa
tidak sebaliknya?).
Kita sebagai penyampai interpretasi (bukan 'informasi'; you made a wrong
citation), memiliki hak utk membuat interpretasi yg paling sesuai nurani.
Tapi dlm kasus 'jangan2' ini, point saya secara tidak langsung adalah supaya
kita di milis ini semakin aware dgn subjektivitas dan kemungkinan
ketidakbenaran posting2 (interpretasi) yg masuk. Apalagi dlm menilai
karakter seseorang, bagaimana mungkin kita begitu pasti bahwa Amien Rais itu
begini atau begitu (mis. "kancil yg licik"), sementara kita sendiri kadang2
tidak begitu kenal pada diri sendiri? Manusia itu begitu kompleks,
peristiwa2 sosial itu begitu kompleks, selalu ada takhingga cara pandang
bagi satu objek yg sama, wajar bila kita seharusnya bisa sadar bahwa
penilaian kita bisa keliru. So, sisakanlah sedikit ruang untuk introspeksi.
Untuk Anda bandingkan dgn interpretasi Anda, kutipan "To be great is to be
misunderstood" itu saya maksudkan buat tokoh2 spt Amien Rais, atau Gus Dur,
atau Mega, yg karena kebesarannya sering gampang disalahartikan.
'Pembunuh'? Haha, cermin dari saya memantul di cermin Anda.
-----Original Message-----
From: edi purwono [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Wednesday, January 19, 2000 2:01 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [Kuli Tinta] Pembunuh karakter
Cak Marto pernah memposting mengenai dugaan bahwa Mas Amien akan mencoba
menjadi Ken Arok edisi III, dengan menyayangkan aji-ajiannya yang kurang
mempan. Bahkan ada tambahan dari cak Wat mengenai 'purusa' Ken Dedes yang
sebenarnya menjadi lambaran kesaktian Ken Arok segala.
Lalu Ferli menuduh bahwa cak Marto sebagai 'pembunuh karakter', dengan
setengah gurauan, bahwa cak Wat adalah Ken Dedesnya.
Sebagai 'penyampai informasi', yang menurut Ferli adalah 'to be great dan
seterusnya' itu, maka cak Marto dan cak Wat sedang melempar bahan kajian dan
diskusi baru. Diskusi yang ditawarkan adalah mencoba mencari kememperan
antara 'ulah' mas Amien yang jadi objek pembicaraan dengan apa yang terjadi
di jaman Singasari dulu.
Dengan menyebut cak Marto sebagai 'pembunuh' tersebut, maka yang dilakukan
Ferli adalah menyerang langsung ke bagian pokok, dari mana tawaran materi
diskusi itu berasal. Seolah-olah ingin menghentikan pembahasan materi
diskusi tersebut.
Jadi, siapa 'pembunuh' sebenarnya ?
-=== FREE Handphone @ http://www.indoglobal.com/dedicated.php3 ===-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!