Mas Edi, kekeliruan interpretasi Anda ini adalah contoh betapa gampangnya
kita sbg manusia tergelincir dlm membuat interpretasi, dan mungkin begitu
yakin dgn interpretasi itu. 

Padahal ini cuma dialog antar kita, yg jelas2 saling bisa memberikan
umpan-balik. Bagaimana pula dgn kasus di mana kita berada jauh dari objek
atau peristiwa yg kita interpretasikan, dan objek itu tidak mampu atau tidak
sempat memberikan umpan-balik?

Point saya dgn 'mirror game' ini adalah untuk mengajak kita setuju pada satu
dasar yg sama dalam mengemukakan pendapat: kita harus tahu bahwa kita
sebenarnya tidak begitu tahu. Sungguh celaka milis ini kalau ternyata kita
ini tidak tahu bahwa kita sebenarnya tidak tahu, dgn akibat milis ini akan
sekedar jadi ajang perang antar pribadi atau golongan. Capek mengikutinya.

Apabila kita setuju dgn dasar ini, OK, mari kita lanjutkan diskusi pada
berbagai materi lain dgn cara2 yg lebih sehat, dgn bisa mengakui bahwa ada
kemungkinan kebenaran di pihak lain, bahwa ada kemungkinan kekeliruan di
pihak kita.

Salam,
Ferli

-----Original Message-----
From: Edi Purwono [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Thursday, January 20, 2000 9:55 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: RE: [Kuli Tinta] Pembunuh karakter


> Anda bacalah baris terakhir
> posting saya itu ("Nggak
> bermutu banget 'kan posting kayak gini?"). Jadi
> jangan salah, posting saya
> itu memang diupayakan tidak bermutu, bahkan mungkin
> tidak benar, utk
> mempertegas kesetaraan kemungkinan bahwa 'jangan2
> dst' versi Mas Marto dan
> Mas Aswat dgn versi saya sama2 tidak benar.

EDP :

Di sini saya salah membaca kalimat di baris terakhir. Yang Anda maksudkan
adalah 'posting Ferli yang sengaja dibuat tak bermutu'. Padahal tangkapan
saya 'Anda menilai posting Cak Marto dan Cak Wat yang Anda komentari sebagai
yang tidak bermutu'. Mohon maaf.

> 
> Dlm kerangka 'language game' ini coba Anda
> perhatikan lagi pemilihan kata2
> Anda utk menilai kami.
> Marto: membuat dugaan ...
> Ferli: menuduh ...
> (padahal kalimat 'jangan2' yg digunakan amat mirip
> strukturnya; mengapa
> tidak sebaliknya?).
> 
> Marto: melempar bahan diskusi ...
> Ferli: menyerang ...
> (padahal kalimat 'jangan2' yg digunakan amat mirip
> strukturnya; mengapa
> tidak sebaliknya?).


EDP :

Tentu sulit untuk sebaliknya. Cak Marto yang memulai, dan Ferli yang
mengomentari. Seperti main bola, yang satu menggiring bola, yang lain
merebut, dan berusaha mendekat, menyerang. Lucu sekali kalau si pembawa bola
malah bukan menjauh, bukan ? Mungkin konotasi kata 'menyerang' yang perlu
diperhalus dengan 'mengomentari'

> 
> Kita sebagai penyampai interpretasi (bukan
> 'informasi'; you made a wrong
> citation), memiliki hak utk membuat interpretasi yg
> paling sesuai nurani.

EDP :

Ya, memang betul Anda, Ferli. Penyampai interpretasi. Bahkan yang disebut
informasi hampir tak mampu menghilangkan bias, interpretasi, itu. Maaf.

> Tapi dlm kasus 'jangan2' ini, point saya secara
> tidak langsung adalah supaya
> kita di milis ini semakin aware dgn subjektivitas
> dan kemungkinan
> ketidakbenaran posting2 (interpretasi) yg masuk.
> Apalagi dlm menilai
> karakter seseorang, bagaimana mungkin kita begitu
> pasti bahwa Amien Rais itu
> begini atau begitu (mis. "kancil yg licik"),
> sementara kita sendiri kadang2
> tidak begitu kenal pada diri sendiri? Manusia itu
> begitu kompleks,
> peristiwa2 sosial itu begitu kompleks, selalu ada
> takhingga cara pandang
> bagi satu objek yg sama, wajar bila kita seharusnya
> bisa sadar bahwa
> penilaian kita bisa keliru. So, sisakanlah sedikit
> ruang untuk introspeksi.

EDP :

Sebagai penyampai interpretasi, wajar kalau kita menginterpretasikan AR
dengan sebutan 'kancil licik'. Ada sejumlah alasan yang membuat interpretasi
yang satu beda dengan yang lain. Interpretasi terhadap AR akan semakin
betul, mendekati benar, manakala kita banyak bergaul dan dekat dengan AR.
Tetapi, jangan-jangan kedekatan itu malah membuat interpretasi jadi tak
benar. Repot, ya, Fer.

> 'Pembunuh'? Haha, cermin dari saya memantul di
> cermin Anda.

EDP :

Saya sebenarnya ingin mencoba memahami posting Anda, Fer, yang menyebut cak
Marto dan cak Wat sebagai 'pembunuh karakter'. Saya ingin mencoba mengerti,
dengan dasar apakah Ferli menulis seperti itu. Sejauh yang aku dapati,
justru kalimat-kalimat yang Fer tulis itu bisa saya artikan (interpretasi)
sebagai pembunuhan pula. Ya, saya pun sedang menawarkan cermin pada posting
Anda.

wah, jadi cermin-cerminan, dong. Dan cermin cuma untuk melihat wajah kita
saja. Apa tidak lebih baik kita tawarkan panci, untuk mencampur semua
gagasan dan interpretasi, dan membahas kasusnya, dibanding sibuk memantas
diri di depan cermin, Fer ?

-===  FREE Handphone @ http://www.indoglobal.com/dedicated.php3  ===-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke