> Anda bacalah baris terakhir
> posting saya itu ("Nggak
> bermutu banget 'kan posting kayak gini?"). Jadi
> jangan salah, posting saya
> itu memang diupayakan tidak bermutu, bahkan mungkin
> tidak benar, utk
> mempertegas kesetaraan kemungkinan bahwa 'jangan2
> dst' versi Mas Marto dan
> Mas Aswat dgn versi saya sama2 tidak benar.
EDP :
Di sini saya salah membaca kalimat di baris terakhir.
Yang Anda maksudkan adalah 'posting Ferli yang sengaja
dibuat tak bermutu'. Padahal tangkapan saya 'Anda
menilai posting Cak Marto dan Cak Wat yang Anda
komentari sebagai yang tidak bermutu'. Mohon maaf.
>
> Dlm kerangka 'language game' ini coba Anda
> perhatikan lagi pemilihan kata2
> Anda utk menilai kami.
> Marto: membuat dugaan ...
> Ferli: menuduh ...
> (padahal kalimat 'jangan2' yg digunakan amat mirip
> strukturnya; mengapa
> tidak sebaliknya?).
>
> Marto: melempar bahan diskusi ...
> Ferli: menyerang ...
> (padahal kalimat 'jangan2' yg digunakan amat mirip
> strukturnya; mengapa
> tidak sebaliknya?).
EDP :
Tentu sulit untuk sebaliknya. Cak Marto yang memulai,
dan Ferli yang mengomentari. Seperti main bola, yang
satu menggiring bola, yang lain merebut, dan berusaha
mendekat, menyerang. Lucu sekali kalau si pembawa bola
malah bukan menjauh, bukan ? Mungkin konotasi kata
'menyerang' yang perlu diperhalus dengan
'mengomentari'
>
> Kita sebagai penyampai interpretasi (bukan
> 'informasi'; you made a wrong
> citation), memiliki hak utk membuat interpretasi yg
> paling sesuai nurani.
EDP :
Ya, memang betul Anda, Ferli. Penyampai interpretasi.
Bahkan yang disebut informasi hampir tak mampu
menghilangkan bias, interpretasi, itu. Maaf.
> Tapi dlm kasus 'jangan2' ini, point saya secara
> tidak langsung adalah supaya
> kita di milis ini semakin aware dgn subjektivitas
> dan kemungkinan
> ketidakbenaran posting2 (interpretasi) yg masuk.
> Apalagi dlm menilai
> karakter seseorang, bagaimana mungkin kita begitu
> pasti bahwa Amien Rais itu
> begini atau begitu (mis. "kancil yg licik"),
> sementara kita sendiri kadang2
> tidak begitu kenal pada diri sendiri? Manusia itu
> begitu kompleks,
> peristiwa2 sosial itu begitu kompleks, selalu ada
> takhingga cara pandang
> bagi satu objek yg sama, wajar bila kita seharusnya
> bisa sadar bahwa
> penilaian kita bisa keliru. So, sisakanlah sedikit
> ruang untuk introspeksi.
EDP :
Sebagai penyampai interpretasi, wajar kalau kita
menginterpretasikan AR dengan sebutan 'kancil licik'.
Ada sejumlah alasan yang membuat interpretasi yang
satu beda dengan yang lain. Interpretasi terhadap AR
akan semakin betul, mendekati benar, manakala kita
banyak bergaul dan dekat dengan AR. Tetapi,
jangan-jangan kedekatan itu malah membuat interpretasi
jadi tak benar. Repot, ya, Fer.
> 'Pembunuh'? Haha, cermin dari saya memantul di
> cermin Anda.
EDP :
Saya sebenarnya ingin mencoba memahami posting Anda,
Fer, yang menyebut cak Marto dan cak Wat sebagai
'pembunuh karakter'. Saya ingin mencoba mengerti,
dengan dasar apakah Ferli menulis seperti itu. Sejauh
yang aku dapati, justru kalimat-kalimat yang Fer tulis
itu bisa saya artikan (interpretasi) sebagai
pembunuhan pula. Ya, saya pun sedang menawarkan cermin
pada posting Anda.
wah, jadi cermin-cerminan, dong. Dan cermin cuma untuk
melihat wajah kita saja. Apa tidak lebih baik kita
tawarkan panci, untuk mencampur semua gagasan dan
interpretasi, dan membahas kasusnya, dibanding sibuk
memantas diri di depan cermin, Fer ?
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Talk to your friends online with Yahoo! Messenger.
http://im.yahoo.com
-=== FREE Handphone @ http://www.indoglobal.com/dedicated.php3 ===-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!