Saya setuju dengan pendapat anda Bung Aswat.
Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin>
____________________________________________
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
----- Original Message -----
From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 25 Januari 2000 19:17
Subject: Re: [Kuli Tinta] YESUS SANG ANAK MANUSIA
> Dalam perspektif saya, konflik antara Kristen dan Islam itu hanya
> sebuah model. Lihatlah keanehan yang terjadi di Kupang dan Ambon.
> Mereka telah hidup lebih dari dua generasi dan bergotog royong
> dalam kehidupan, bahkan ketka membangun rumah ibadat. Wuuzz...
> seperti tidak ada bekasnya.....
>
> Lihat pula kasus masyarakat Hindu di Bali yang tersungging dengan
> AMS. Apakah kemudian terjadi konflik horizontal antara muslim Bali
> dengan masyarakat Hindu disana? Justru pemuka masayarakat muslim
> disana yang mengecam ucapan Datuk Maringgih sebagai menganggu
> ketenteraman mereka. Jadi, sebenarnya dimana hulu masalahnya?
>
> Perasaaan sepenanggungan atau sebagai teman perlu dimunculkan
> untuk menggalang dan mempersatukan kekuatan masa. Teknik yang
> paling gampang adalah dengan memunculkan musuh yang sama. Di
> jaman PKI dulu, penggalangan itu dilakukan dengan menciptakan
> musuh yang sama yaitu kemiskinan. Dijaman penggulingan Soekarno,
> musuh yang sama itu adalah Soekarno sebagai penyebab hancurnya
> perekenomian Indonesia. Di jaman Soeharto, musuh yang sama itu
> adalah Soeharto dan KKN. Kemunculan musuh yang sama itu
> memunculkan perasaan sebagai sesama dan menjelma sebagai sebuah
> kekuatan. Namun, setelah musuh itu berhasil dikalahkan maka
> kekuatan itu akan tercerai berai lagi. Bisa jadi, pengeboman
> Istiqal itu adalah upaya untuk mencipatakan musuh yang sama.
>
> Setelah Soeharto terlengserkan, musuh yang sama telah hilang dan
> para politisi harus memperoleh legitimasi politik yaitu memperoleh
> dukungan masa. Nah, disinilah mulai proses penciptaan musuh yang
> sama itu untuk mengesahkan kehadiran politisi. Tanpa dukungan masa
> maka politisi itu tidak akan bergema. Kita bisa melihat kasus Sri
> Bintang dengan PUDI.
>
> Sebagai pembanding kita bisa melihat GD, Yusril, Amin Rais, Hamzah
> Has, Ahmad Soemargono. Adakah perbedaan diantara mereka dalam
> upaya mereka untuk memperoleh legitimasi politik?
>
> Jadi persoalannya bukan pada agama namun lebih kepada para
> pemimpin politik yang menggunakan isu agama untuk kepentingan
> politiknya. Selama para politisi itu belum memperoleh isu lain
> diluar isu agama yang bisa digunakan untuk menggalang masa dan
> kekuatan maka konflik berbasis agama itu akan selalu muncul, dan
> itu tidak selalu harus dimulai oleh agama tertentu.
>
> Ini interpretasi lho....
-=== FREE Handphone @ http://www.indoglobal.com/dedicated.php3 ===-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!