mBin ikutan:
> > WAM:
> > Percayakah anda bahwa konflik Maluku bukan konflik agama?
> > Rasanya terlalu naif pendapat seperti ini.
> > Takutkah anda mengakui bahwa SARA merupakan bibit konflik
laten di negara kita?
> Martin:
> Saya percaya itu bukan konflik agama.
mBin:
sekali lagi musti diperjelas definisi dan istilah 'konflik agama',
daripada beradu pendapat soal istilah...
jika yang dimaksud adalah 'konflik antar agama',
saya setuju memang tidak ada..
lha wong agama di sini dapat kita anggap sebagai sebuah penanda atau
sifat.
jika yang dimaksud adalah 'konflik antar pemeluk agama',
ini jelas betul sekali dan terlihat nyata...
lha wong orang menjadi bermusuhan dan saling-bunuh hanya karena berbeda
agama,
lantasa apakah sebenarnya agama itu
punya 'talenta' eh sori maksute 'potensi' sebagai penyebab konflik ?
saya jawab ya.. ya.....ya.... (serius ya !!)
karena meskipun secara ideal setiap agama menyatakan
bahwa agamanya adalah pembawa rahmat dan kedamaian,
pada pelaksanaannya.. jadi bukan hanya kata si 'teks' kitab ini kitab
itu,
...saat si manusia berhadapan dengan manusia lainnya yang berbeda
agama..
si 'teks' telah mengalami 'interpretasi' (maaf lagi-lagi interpretasi
:-)
dalam pengertian si individu dan diteruskan dengan laku dan
tindakannya..
bagi yang ingin membunuh penganut agama lain,
banyak cara untuk mengutip sepenggal ayat atau ratusan lainnya
yang layak diinterpretasikan demikian,
bagi yang ingin menyayangi dan hidup damai,
anda bisa mencari sejuta ayat untuk menguatkan tindakannya,
jadi, 'agama' di sini telah berfungsi menjadi 'alat' manusia...
untuk mencapai dan melegitimasi tujuannya....
sama dengan sebuah pisau atawa api....
dan bibit ini inheren ... bahkan mungkin genetis !! :-)
sangat naif dan eskapis,
jika ada yang menyatakan bahwa agama bukan menjadi penyebab
kerusuhan...
sangat mungkin bukan penyebab pertama, tetapi bisa merupakan
amplifier..
memperkuat atau memperkeruh pertentangan dan suasana ....
dan soal si sara 008 versi maluku,
yang menjadi pemicu adalah 'a' yang terkhir
yakni antar-golongan...
'a' yang depan dan lainnya tinggal ngikut aja dan membensini...
martin:
> Saya membagi konflik Maluku dalam 3
> sekuen. Pertama, adalah pembakaran rumah-rumah Ibadah (Mesjid dan
Gereja).
> Ketika itu, orang-orang Maluku sendiri tidak banyak terlibat dalam
> pembakaran tersebut, seperti juga terjadi di Tasikmalaya, Ketapang,
> Situbondo dan di tempat-tempat lain. (Siapa yang melakukan? Harus
> diselidiki). Kedua, karena pembakaran2 tersebut rupanya masih kurang
untuk
> memicu "perang sipil" antar orang Maluku, maka mulailah sekuen
berikutnya;
> pembakaran kampung-kampung yang mayoritas dihuni orang Islam dan
Kristen.
> Orang Islam menuding orang Kristen yang membakar kampungnya,
sementara orang
> Kristen menuding orang Islam yang membakar kampungnya. Di sini mulai
> provokasi itu efektif, dan gejala awal perang sipil mulai terjadi.
Ketiga,
> situasi itu diperburuk oleh elite-elite lokal yang mengambil
kesempatan.
> Itulah sekuen berikutnya; elite lokal bermain atas konflik Maluku
dengan
> sentimen SARA.
mBin:
bung martin ini terlalu mendewakan skenario dan sutradaranya,
dan kelihatan menafikan rakyat maluku sendiri...
kalau kita melihat situasi manusia indonesia sekarang ini adalah sebuah
rekayasa,
ini sangat tidak mengabaikan yang namanya 'kehendak bebas',
yang dimiliki oleh setiap manusia..
dan pandangan tadi bukankah mendekati paham 'takdir',
dan semuanya tergantung 'allah' atau 'tuhan' di atas sana ?
dan segala kejahatan bersumber pada si setan jahanam...
martin:
> Jadi, kembali, dalam perspektif saya, konflik Maluku bukan konflik
agama.
> Beratus-ratus tahun, Islam dan Kristen hidup di kepulauan itu tanpa
ada
> perselisihan apalagi "perang sipil". Kawan saya yang orang Maluku
> mengatakan, bahwa sebenarnya di Maluku itu tidak ada orang yang
beragama
> Islam dan Kristen, yang ada adalah "Agama Maluku/Ambon", karena
begitu
> kuatnya ikatan dan tradisi adat mewarnai kehidupan masyarakat Maluku.
mBin:
apakah perspektif anda menyatakan juga bahwa kerukunan dan ketentraman
dan kediaman rakyat indonesia di bawah rezim orba adalah sebuah sikap
penerimaan ?
apakah 'ketidak-seteruan' antar tetangga yang berbeda agama adalah
suatu hal hanya nampak di kulitnya saja ?
bagaimana perasaan tetangga anda yang kristen, manakala mendengar
gereja dibakari dan warga dirazia ktp-nya dan kemudian digelendang
pergi setelah ketahuan kristennya ?
bagaimana perasaan tetangga anda yang islam, manakala mendengar warga
islam lainnya dibunuh karena islamnya, dan mendapat perlakuan tak-adil
karena dia islam ?
caci-maki, ngelus dada, menyingsingkan lengan baju, ambil golok, daftar
jihad, menangis, atau apa ?
dalam diri manusia indonesia 'sekarang ini',
berkecamuk seribu satu perasaan...
anda tinggal pilih salah satu
untuk dijadikan souvenir
dan ditorehkan dalam sejarah kehidupan
atau kematian anda .....
tragiskah ?
takdirkah ?
salam,
mBin
-----
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Talk to your friends online with Yahoo! Messenger.
http://im.yahoo.com
-=== FREE Handphone @ http://www.indoglobal.com/dedicated.php3 ===-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!