Memang agama tidak boleh dicampur-campur ya?
lha kalau kenyataannya sekarang ini sudah campuran
gimana?
Ambil contoh, kebiasaan muslim menghitung dzkir pakai
tasbih lah yang gampang dan mudah dilihat. (sering kan
di cock-pit mobil (key junk) digantungin tasbih?).
ternyata ini berasal dari kaum sufi. Dari mana si sufi belajar?
katanya dari para pertapa atau biarawan Nasrani. Dari mana
Nasrani memakai Tasbih? ternyata setelah dirunuuuut sampai
mbah-mbahnya, berasal dari ajaran Shakamuni atau Budha,
yang memang ritualnya sering melakukan hitungan-hitungan
begitu (eh, ini tak lihat dari siaran TV NHK lho, pas acara
yang berjudul PENYEBARAN ISLAM (ISURAMU KYOUTO
NO KOURYUU)
Eh, adalagi yaitu BEDUG.
Padahal dicontohkan pada masa kehidupan Nabi, untuk
mengundang ummat ya cukup AZAN. Lho kenapa di Nusantara
kok pakai BEDUG? Malah ada acara PESTA BEDUG lagi...
yang ngabisin duit... dan PAMER.
Ternyata karena pusat penyebaran awalnya agama islam di
Indonesia itu tak lain kerajaan Bintara Demak. Yang konon
banyak wali-walinya berasal dari anak buahnya Ceng Hong
(kata Kang Marto Ember), matawa dari Cinten.. hehehe.
Lho apa hubungannya? Ternyata pemakaian Bedug untuk
acara keagamaan adalah berasal dari TIBET (Budha lagi lho),
berhubung di alam situ duluuuuu tak biasa pakai lonceng (lho yang
ini kok juga ngepop di gereja ya?) kaya di China atau India,
wong bahannya nggak ada. Berhubung adanya ternak WEDHUS
atau SAPI ya sudah, jadilah BEDHUG.....
dah ah, segini dulu.... yang jelas memang mencampur yang
ENAK dengan ENAK kadang jadi nggak ENAK. Misalnya
mBAKSO ENAK dicemplungi mBAKO ENAK... heheee
mBah Soeloyo
Moderator ML JOWO WOJOSETO
SURADIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!