Saya protes berat, Mas Aswat. Koq bullshit saya kemaren dibilang ilmu
tinggi. Saya juga sebel dgn Anda yg meremehkan diri sendiri hanya karena
masalah pendidikan. Kalau saya susah dipahami, itu berarti saya yg goblok,
karena tidak mampu menjelaskan.
Simpel aja deh, seingat saya, Anda kemarin2 mempertanyakan 'interpretasi thd
individu, atau persepsi thd individu?' Kedua-duanya bisa dipakai tergantung
konteksnya. Menambah penjelasan saya yg pertama, sepemahaman saya,
interpretasi lebih bersifat keluar-aktif, sementara persepsi lebih bersifat
'nrimo' dan inward-looking.
'Menginterpretasi AR' dan 'Mempersepsi AR' sama2 bisa dipakai. Bedanya,
kalau Anda melihat TV, membaca koran ttg AR, di situlah Anda sedang
'Mempersepsi AR'. Tapi ketika Anda mengeluarkannya di posting milis atau
ngobrol dgn pacar/istri Anda ttg AR, di situlah proses 'Menginterpretasi
AR'. Sebenarnya tidak ada garis batas yg tegas antara keduanya (makanya
diagram Venn 'saya' tidak dibatasi garis simpel, tapi 'blurred'/tidak jelas
batasnya, spt awan), tapi sungguh, kita harus belajar untuk mampu hidup dlm
batas2 yg kabur/fuzzy (jadi ingat hype: 'borderless world', 'boundaryless
organization'), jangan terlalu 'merana' kalau kita tidak punya jawaban yg
jelas.
Soal teori komunikasi, saya tertarik utk elaborate soal 'coding-encoding'.
Untuk kasus komunikasi antar mesin, mungkin asumsi bahwa pesan yg dikirim
sama dengan pesan yg diterima bisa dipenuhi/dicapai. Tapi tidak begitu
kasusnya dgn komunikasi antar-manusia, karena ada faktor 'ineherent noise'
yg tidak bisa dieliminir. 'Inherent noise' itu adalah bias2, prasangka2,
konteks atau situasi subjek/objek komunikasi, stereotipe, dll.
Jadi, kalau ada satu orang yg sama yg (mis. Amien Rais) diamati oleh A, dan
hendak disampaikan kepada B, mungkin prosesnya kayak gini:
AR -> (noise artikulasi AR) -> (noise persepsi A) -> A -> (noise
interpretasi/artikulasi A) -> (noise persepsi B) -> B.
Misalkan noise itu mengurangi kuantitas informasi menjadi 80%, maka 4
tahapan noise itu akan menghasilkan kuantitas informasi sebesar
0.8*0.8*0.8*0.8 = 0.4096 dari kuantitas informasi sumbernya.
Misalkan di antara A dan B ada koran/wartawan, maka akan ada 6 tahapan
noise, sehingga tingkat efisiensi pengiriman informasi itu menjadi 0.8^6 =
0.262144. Ternyata jadi kecil sekali ya? Hoy, para wartawan, ternyata Anda2
cuma membawa informasi 1/4 dari informasi sumber Anda (hehe, don't take it
too seriously lah).
Makanya susah banget untuk diskusi dgn cara yg sehat kalau kita nggak aware
dgn keterbatasan2 spt ilustrasi di atas. Makanya saya 'setengah mati'
mencoba mengemukakan point itu, dgn berbagai cara.
Tapi memang, itu hanya pemahaman atau interpretasi saya saja lho.
Salam,
Ferli
-----Original Message-----
From: �� [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Wednesday, February 02, 2000 9:03 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [Kuli Tinta] amien lagi
Wah Mas Ferli, bener deh... tambah bingung....
Habis ilmunya Mas Ferli jauh diatas sana dan tak terjangkau olehku
apa lagi dengan istilah-istilah yang digunakan.
Namun saya hanya berpikir sederhana saja koq Mas, sesuai dengan
pendidikan saya yang hanya tingkat akademi swasta.
Yang pertama, bahasa adalah alat komunikasi verbal. Sebagai alat
komunikasi bahasa harus standard agar pesan yang ingin disampaikan
oleh pengirim pesan sama persis dengan pesan yang diterima oleh
penerima pesan. Orang Jakarta mungkin saja bilang "ayo makan
ketoprak" namun bagi orang Jawa Tengah terutama di desa kalimat
itu terasa lucu karena Ketoprak dimengerti sebagai sebuah teater
tradisional. itulah sebabnya umpan balik didalam berkomunikasi
adalah sebuah standard operating procedure untuk menghindari
kerancuan didalam proses encoding dan decoding.
Yang ke dua, saya dulu hanya belajar diagram Venn di SMA. Namun
seingat saya disampig semesta pe,mbicaraan harus dibatasi juga
setiap himpunan memiliki anggota yang terdefinisikan. Seandainya
awan tu sebagai perumpamaan maka awanpun bukannya tak terbatas.
Yang ke tiga, seandainya sebuah isitiah sederhana harus dijelaskan
oleh model-model atau istilah-istilah yang lebih rumit maka dimana
hakelat penjelasan itu? Nalar saya yang cupet ini jadi tambah
mengkeret untuk berkomunikasi dengan orang pandai seperti Mas
Ferli. Masak, pertanyaan saya mengenai persepsi harus saya pahami
melalui diagram Venn bahkan Fuzzy Logic?
Yang ke empat, tolong dhong Mas Ferli, berikan sebuah pemahaman
dengan kadar pengetahuan saya miliki dan jangan dengan kadar
pengetahuan yang Mas Ferli miliki. Tambah bingung aku.
Yang ke lima, sederhana saja Mas Ferli, apakah persepsi itu?
salam
(ingin belajar)
----- Original Message -----
From: Ferli Iskandar <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 02 February 2000 08:52
Subject: RE: [Kuli Tinta] amien lagi
Mungkin akan lebih tepat kalau saya menggambarkan keterkaitan
istilah2 itu
dgn diagram Venn, di mana ada bagian2 istilah (interpretasi,
persepsi,
intuisi, sense, dll) yg saling beririsan, dan/atau tercakup dalam,
dan/atau
melingkupi, bagian istilah/konsep yg lain. Diagram Venn itu juga
mestinya
nggak dibatasi garis satu dimensi, tapi lebih mirip persamaan
gelombang
untuk lintasan elektron yg kalau divisualisasikan mirip awan2.
Selanjutnya
kita perlu juga belajar konsep fuzzy set, tapi yg ini saya juga
nggak gitu
ngerti.
Ini serius, saya bukan mau mempersulit. Tapi kalau kita mau betul2
eksak,
spt itulah situasinya.
Mungkin (masih "mungkin" juga.)
Soal definisi. Pada dasarnya (ada yg lebih baku drpd 'dasarnya'?)
definisi
adalah penggambaran keterkaitan dan hubungan antara satu konsep
dgn berbagai
konsep lainnya, atau dgn konsep itu sendiri (self-recursive
definition).
Konteks suatu konsep sesungguhnya tidak terhingga, karena itu
mustahil utk
membuat suatu definisi yg 'self-contained' dan 'all-inclusive'.
Semoga lebih tidak memperjelas :).
-----Original Message-----
From: �� [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Tuesday, January 25, 2000 3:24 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [Kuli Tinta] amien lagi
From: Ferli Iskandar <[EMAIL PROTECTED]>
istilah interpretasi melibatkan proses kognitif yg lebih aktif dan
kompleks
daripada persepsi. persepsi biasanya dikaitkan dgn aktivitas
sensorik spt
panca indera, yg sifatnya instant dan non-kontekstual, sementara
interpretasi melibatkan pengalaman dan berbagai
'neuro-programming' yg
dialami si interpretor.
��:
Mas Ferli, apakah tidak ada pemahaman baku mengenai persepsi
selain dengan
"biasanya"?
Kalau persepsi biasanya dikaitkan dgn aktivitas sensorik spt panca
indera,
yg sifatnya instant dan non-kontekstual maka apa bedanya dengan
sense? Kalau
interpretasi melibatkan pengalaman dan berbagai
'neuro-programming' yg
dialami si interpretor maka dimana bedanya dengan intuition?
FI:
dlm kasus ini, memang lebih tepat untuk menggunakan istilah
interpretasi,
ketimbang persepsi (thd individu).
��:
Apakah Pencandraan kita terhadap AR adalah sebuah interpretasi
(thd
individu)? Apanya yang diinterpretasi dari individu itu?
FI:
semoga memperjelas.
��:
Masih ingin belajar lagi agar lebih jelas.
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!