From: Ferli Iskandar <[EMAIL PROTECTED]>
Saya protes berat, Mas Aswat. Koq bullshit saya kemaren dibilang
ilmu
tinggi. Saya juga sebel dgn Anda yg meremehkan diri sendiri hanya
karena
masalah pendidikan. Kalau saya susah dipahami, itu berarti saya yg
goblok,
karena tidak mampu menjelaskan.

��:
Coba dipikir, kalau hanya untuk menjawab pertanyaan persepsi saja
harus melalui analogi lintasan elips elektron, diagram
Euler -Venn, Fuzzy Logic segala apa nggak nge-pir saya? Kemarin
dengan Kang Marto malah menggunakan kata-kata impedansi segala.
Wah... weah.. Anda ini fisikawan ya.....

FI:
Simpel aja deh, seingat saya, Anda kemarin2 mempertanyakan
'interpretasi thd
individu, atau persepsi thd individu?' Kedua-duanya bisa dipakai
tergantung
konteksnya. Menambah penjelasan saya yg pertama, sepemahaman saya,
interpretasi lebih bersifat keluar-aktif, sementara persepsi lebih
bersifat
'nrimo' dan inward-looking.

��:
Nah mungkin disinilah bahasa sebagai standard itu bermasalah
karena Mas Ferli membuat definisi sendiri berdasar pemahaman Mas
Ferli. Ketika istilah interpretasi itu digunakan untuk mencandra
AR berdasar perilakunya maka dahi saya berkernyit karena pemahaman
saya mengenai kosa kata itu ternyata berbeda dengan pemahaman Mas
Ferli.

FI:
'Menginterpretasi AR' dan 'Mempersepsi AR' sama2 bisa dipakai.
Bedanya,
kalau Anda melihat TV, membaca koran ttg AR, di situlah Anda
sedang
'Mempersepsi AR'. Tapi ketika Anda mengeluarkannya di posting
milis atau
ngobrol dgn pacar/istri Anda ttg AR, di situlah proses
'Menginterpretasi
AR'.

��:
Jadi selama pencandraan itu belum diproduksi entah secara verbal
atau lisan maka itu dinamakan persepsi, namun kalau pencandraan
itu sudah diproduksi secara verbal atau lisan maka itu dinamakan
interpretasi. Wah...baru dhong sekarang....  Namun, kini muncul
pertanyaan (karena ingin tahu). Bila persepsi itu bersifat inward
looking maka : "Bagaimana persepsi individu terbentuk?"

FI:
Sebenarnya tidak ada garis batas yg tegas antara keduanya (makanya
diagram Venn 'saya' tidak dibatasi garis simpel, tapi
'blurred'/tidak jelas
batasnya, spt awan), tapi sungguh, kita harus belajar untuk mampu
hidup dlm
batas2 yg kabur/fuzzy (jadi ingat hype: 'borderless world',
'boundaryless
organization'), jangan terlalu 'merana' kalau kita tidak punya
jawaban yg
jelas.

��:
Namu bahasa sebagai alat komunikasi harus memiliki kejelasan untuk
dipahami bukan? bagi bahasa jawa, membawa benda atau barang bisa
berbagai cara yaitu, diangkat, digotong, dibopong, dijinjing,
dikempit, dicengkiwing. Itu semua menggambarkan cara membawa yang
berbeda-beda.  Meskipun esensinya sama yaitu membawa namun
penggunaan yang tidak tepat bisa menimbulkan hambatan didalam
berkomunikasi.

FI:
Soal teori komunikasi, saya tertarik utk elaborate soal
'coding-encoding'.
Untuk kasus komunikasi antar mesin, mungkin asumsi bahwa pesan yg
dikirim
sama dengan pesan yg diterima bisa dipenuhi/dicapai. Tapi tidak
begitu
kasusnya dgn komunikasi antar-manusia, karena ada faktor
'ineherent noise'
yg tidak bisa dieliminir. 'Inherent noise' itu adalah bias2,
prasangka2,
konteks atau situasi subjek/objek komunikasi, stereotipe, dll.

��:
Inherent noise dipelajari agar orang bisa mengeliminasi untuk
tujua berkomunikasi yang efektif. Namun, noise didalam proses
komunikasi kayaknya dibedakan dari faktor-faktor yang menghambat
komunikasi. Mengevaluasi sumber, sebagai contoh, adalah faktor
yang menghambat komunikasi.  Nah kebingungan saya mengenai
persepsi dan interpretasi tiu adalah dalam konteks ini. Mana yang
benar antara persepsi individu atau interpretasi individu sebagai
faktor penghambat komunikasi. Apakah persepsi individu bisa
dibentuk? Apakah interpretasi individu bisa dibentuk?  Berita
media mengenai sebuah figur dikatakan sebagai proses pembentukan
persepsi individu pembaca atau membentuk interpretasi individu
pembaca?

FI:
Jadi, kalau ada satu orang yg sama yg (mis. Amien Rais) diamati
oleh A, dan
hendak disampaikan kepada B, mungkin prosesnya kayak gini:

AR -> (noise artikulasi AR) -> (noise persepsi A) -> A -> (noise
interpretasi/artikulasi A) -> (noise persepsi B) -> B.

Misalkan noise itu mengurangi kuantitas informasi menjadi 80%,
maka 4
tahapan noise itu akan menghasilkan kuantitas informasi sebesar
0.8*0.8*0.8*0.8 = 0.4096 dari kuantitas informasi sumbernya.

Misalkan di antara A dan B ada koran/wartawan, maka akan ada 6
tahapan
noise, sehingga tingkat efisiensi pengiriman informasi itu menjadi
0.8^6 =
0.262144. Ternyata jadi kecil sekali ya? Hoy, para wartawan,
ternyata Anda2
cuma membawa informasi 1/4 dari informasi sumber Anda (hehe, don't
take it
too seriously lah).

��:
Menurut saya agak berbeda deh...

AR baik                     Noise                         AR
brengsek
                                        |
                                        v
[A}   --------->    Media Komunikasi    ---------->  [B]
  |   encoding                                        decoding   |
  |
|
  ------------------------umpan balik--------------------

Jadi, noise mungkin saja mempengaruhi komunikasi yang efektif,
namun proses encoding dan decoding adalah faktor yang tidak bisa
diabaikan apakah pesan yang diterima oleh B sama dengan yang
dikirim oleh A. Didalam proses encoding dan decoding itu,
faktor-faktor penghambat komunikasi itu bekerja sehingga umpan
balim diperlukan. Nah, menurut (interpretasi) saya, diskusi Mas
Ferli dengan teman lain mengenai AR  itu adalah dalam rangka
proses umpan balik untuk  menghilangkan faktor-faktor penghambat
itu agar pesan itu tidak berbeda. Tentu saja,  faktor-faktor
pengha,mbat itu inherent pada masing-masing individu maka
komunikasi efektif tidak mungkin dilakukan dan mengapa harus
diteruskan?

FI:
banget untuk diskusi dgn cara yg sehat kalau kita nggak aware
dgn keterbatasan2 spt ilustrasi di atas. Makanya saya 'setengah
mati'
mencoba mengemukakan point itu, dgn berbagai cara.

��
Saya menghargai sekali, dan terima kasih.

Tapi memang, itu hanya pemahaman atau interpretasi saya saja lho.

Salam,
Ferli






- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke