On Tue, 8 Feb 2000 [EMAIL PROTECTED] wrote:
WAM:
Widhi iki ngawur tenan.
Lha aku merefer ke tulisannya mas Iwan kok malah dilempar kembali ke
milist ini.
> Cross check antar milist,...ada tulisan bagus nih (lihat
bawah),..tentang
> story-nya Kompas and JP,..............
>
>
>
>
>
> [EMAIL PROTECTED] on 02/08/2000 12:55:16 PM
>
> Please respond to [EMAIL PROTECTED]
>
> To: [EMAIL PROTECTED]
> cc: (bcc: Saptono Widhi)
> Subject: Re: [Kuli Tinta] Berita Kompas dan Jawa Pos Bertolak Belakang
>
>
>
> On Tue, 8 Feb 2000, Daniel H.T. wrote:
>
> deleted
>
> > Daniel H.T.:
>
> > Lantas bagaimana dng Jawa Pos sendiri? Sdh merupakan rahasia umum kalau
> > Jawa Pos cenderung mendukung PAN. Dlm salah satu milis, disebutkan awak
> > Jawa Pos adalah pendukung PAN (AMien Rais).
>
> WAM:
> Bagusan juga begini.
> Daripada kayak Kompas. Nggak mau ngaku partisan PDI-P, tapi beritanya
> selalu ke arah sana. Saya dulu sering denger, Kompas itu mulanya adalah
> koran pastoran Katolik. Ternyata bener.
>
>
>
> start quote=============================================================
>
>
> Sepengetahuan saya, sejarah lahirnya Tempo sama Gramedia itu beda
>
> banget. Kalau Tempo (Goenawan Mohammad cs) itukan berasal dari ex
>
> wartawan Harian Mahasiswa Indonesia edisi Jakarta. Fahamnya agaknya ke
>
> PSI-nya Sutan Syahrir. Bekerjasama dengan kelompok Ciputra, maka
>
> terbitlah Tempo. Waktu itu ingin membikin Time versi Indonesia. Sampai
>
> sekarang seingat saya saham Pak Ci masih ada di Tempo dan Jawa Pos.
>
> Tetapi tinggal sedikit. Patut diingat Goenawan Mohamad itu etnis
>
> Tionghoa juga lho. Orangnya Pak Ci yang di Tempo dan juga masih jadi
>
> Direktur Utama-nya Jawa Pos adalah Pak Erik Samola. Erik Samola ini
>
> dulunya Public Relation Ciputra Group.
>
> Soal Dahlan Iskan anda benar sekali. Dahlan ini dulunya sempat jadi
> wartawan Mingguan Kiblat, kemudian jadi wartawan Tempo di Samarinda
> (yang meliput korupsinya Budiadji bekas kepala Bulog Kaltim), lantas ke
> Surabaya menjadi Kepala Biro Tempo. Sampai kemudian, pemilik lama Jawa
> Pos waktu itu namanya Pak The, menyerahkan Jawa Pos untuk diasuh Tempo.
> Dahlan-lah yang diserahkan menata segalanya. Itu terjadi pada 1982.
> Oplah Jawa Pos saat itu tinggal 2.500 eksemplar (oplahnya Glodok
> Standard waktu pertama kali terbit bulan Mei 1999 juga segitu). Jadi,
> dulu Jawa Pos anak perusahaannya Tempo-Grafiti Pers bersama Matra, Humor
> dan beberapa majalah lainnya. Nggak ingat saya.
>
> Tentang Kompas-Gramedia sejarahnya berbeda sekali. Di grup tersebut
> terbitan yang tertua adalah Majalah Intisari. Jacob Oetama berasal dari
> situ. Maunya sih kayak Readers Digest itu lho. Nah, setelah itu
> dibuatlah Kompas untuk menggantikan posisi beberapa media yang dibreidel
> waktu itu seperti Harian Pedoman (Rosihan Anwar) dan Harian Indonesia
> Raya (Mochtar Lubis). Awalnya, Kompas adalah koran mingguan milik
> pastoran Katolik di Jakarta Selatan, yang kemudian ditambahi modal sama
> Ali Moertopo dan kawan-kawan agar bisa jadi koran harian. Banyak
> wartawan eks Kompas berasal dari kedua media tersebut dan juga sebagian
> wartawan Merdeka yang hijrah karena konflik dengan BM Diah. Bisa
> dikatakan, Kompas adalah koran yang dibesarkan Orde Baru sedangkan Tempo
> dari segi majalahnya.
>
> Sewaktu era reformasi datang. Jawa Pos yang waktu itu sudah bekerjasama
> dengan Merdeka (kini Rakyat Merdeka) serta banyak pihak lainnya dituntut
> untuk melakukan sesuatu. Karena bidangnya pers maka diterbitkan-lah
> media partai. Orang Muhammadiyah di Jawa Pos adalah Djoko Susilo,
> wartawan JP di Washington dan London. Dia kembali dan menjadi Pemimpin
> Umum/Pemred Tabloid Amanat. Ini kerjasama dengan PAN, yang notabene
> didukung Muhammadiyah.
>
> Nuah Torong sendiri, waktu itu Redaktur Eksekutif Harian (Rakyat)
> Merdeka adalah orang yang sejak lama dekat dengan Taufik Kiemas (suami
> Megawati). Karena itu dia mendirikan Tabloid Demokrat, yang
> percetakannya sama dengan Amanat yaitu di Percetakan Jawa Pos di Bekasi.
>
> Itu belum cukup ada pula Tabloid ABADI, kerjasama dengan Partai Bulan
> Bintang (partai yang mewarisi semangat Masyumi). Juga dengan NU yang
> melahirkan Harian Duta Masyarakat. Sempat pula menggaet kelompok Adi
> Sasono mendirikan Tabloid Daulat Rakyat yang kini sudah tutup.
>
>
>
>
> - Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
> -- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!