Yang dibawah ini dari : "che" <[EMAIL PROTECTED]> : Subject: Re: [Kuli Tinta] BUDI PEKERTI (1) > "..Ini kok aneh, dicomot darimana teori ini. .... Tolong dong > dijelasin tentang materialis dialektis punyanya paman janggut > (Karl Marx) itu.... Sebenarnya materialis dialektis itu betul > -betul dari Marx, atau dia nyontek dari Engels dan Feuerbach. > .....kayak Orba main hantam saja tanpa mengenal esensinya." ============================================ "...Di jalan menuju gedung parlemen antara sinar matahari dan teriakan " stop kekerasan" saya melihatnya. T-shirtnya ketat, dengan pita warna cerah dan jaket almamater yang tersemati beberapa buah pin besar bergambar Che Quevara, dia memang paling manis diantara barisan. Tapi bukan wajahnya. Saya terusik lain hal : tahukah gadis itu siapa Che Quevara ? ...... Tahukah dia bahwa che yang diidolakannya pernah mengirim perintah untuk menghukum mati sekelompok tahanan tanpa pengadilan yang jujur yang bersih ? Sebuah tindakan militeristik yang ia tentang betul disini , dengan suara serak dan spanduk panjang ber-meter-meter itu ? ... Lebih parah lagi bila ia tak tahu apa-apa tentang Che. Maka Goenawan Mohamad mungkin benar: dihari ini menjadi kiri adalah seksi. Che bisa jadi hanyalah sebagian kecil dari asesoris keseksian itu. Sesuatu yang fashionable. Ia tak beda dengan t-shirt ketat atau pita warna merah : sedia dibuang kapan saja bila sudah tak trendy lagi. ................" =============================================== ( Yang diatas ini adalah tulisan Ronny Agustinus dalam epilog buku MADILOG karanga Tan Malaka, terbitan Pusat Data Indikator ) Membaca MADILOG adalah menarik sekali. Saya termenung melihat bagaimana suatu sistim pendidikan ( Belanda ) membentuk seorang manusia melayu menjadi manusia Tan Malaka. Yang sekolah guru, tapi bisa menerangkan Teori Enstein yang hangat baru lahir.Yang membaca banyak pada banyak hal. Yang menguasai banyak bahasa. Yang tahu betul pada banyak hal. Yang memikirkan nasib manusia lain bangsanya. Yang punya energi jihad sedemikian besar buat bangsanya. Yang sekolah didalam negeri sepuluh-duapuluh tahun ini tahu betul mutu pendidikan kita selama ini. Di ITB, anda bisa lulus Machine Design tanpa membaca tuntas satupun dari sepuluh-limabelas buku reference yang ada. Hapalkan beberapa soal yang sering keluar atau memikirkan usaha nyontek kiri kanan. Dan anda bisa mendapat B. Dan anda bisa menggantungkan pin besar insinyur didada atau nama anda. Pendidikan kita saat ini belum bisa menjauhkan kedangkalan. Mbak Erviana, Reply yang anda tulis mungkin adalah kekuatiran seperti yang dirasakan Ronny. Menumpang pada pesan meluaskan budipekerti, saya juga menguatirkan kedangkalan yang menjadi sebab kurangnya toleransi pada keyakinan lain. Secara kocak saya mencoba berkata bahwa sesungguhnya percaya atau tidak percaya pada Tuhan, bisa sama "rasional" atau sama "tidak rasional"-nya. Soal contoh penggodokan air adalah dari Hegel, yang katanya Tan Malaka adalah "bapak" Dialektika Idealistis. Contoh tersebut adalah jalan gampang buat menjelaskan tesis, antitesis, dan sintesis. Pikiran Hegel merupakan cikal-bakal Materialisme Dialektika dalam Marxisme. Fenomena sosialpun dianalogikan dan diterangkan dengan hal tersebut. Dari pertentangan kelas, revolusi, sampai timbulnya masyarakat baru yang lebih baik dari hasil revolusi. Filsafat Etika dari Marxisme erat sekali berhubungan dari cara pandang melihat dunia dari Materialisme Dialektika tersebut : Segala yang mencoba menghalangi perubahan , artinya mempertahankan status-quo adalah pekerti buruk. Sebaliknya segala sesuatu yang mendorong perubahan, lewat revolusi sosial, adalah pekerti yang diharapkan alias akhlak yang baik. Wassalam Abdullah Hasan. - Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com -- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
