----- Original Message -----
From: Wisnu Ali Martono <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Monday, 28 February 2000 10:01 AM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Gigih Nusantara
> On Fri, 25 Feb 2000, Yap wrote:
>
> > Mungkin cak Gigih mau pergi beneran, mungkin juga enggak. Yang jelas
tidak
> > sulit bagi ahli internet macam cak Gigih untuk sign up lagi dengan nama
lain
> > dan masuk lagi. Bagi saya nama beneran atau nama bohongan, silahkan
saja.
> > Setiap orang boleh memutuskan yang terbaik bagi dirinya. Dan setiap
orang
> > boleh menilai lainnya. Sejauh saling menjaga harmoni, ya ndak masalah.
Bebas
> > saja.
>
> WAM:
> Tul.
> Siapa yang mau percaya bahwa mbah Gigih _in person_ akan pergi dari milis
> ini? Apa sih susahnya ganti identitas dengan nama dan provider gratisan
> lain? Itu lah enaknya pakai nama samaran. Pura-pura marah, terus pergi.
> Untuk nongol dengan nama lain lagi.
Apakah Anda berharap mendapat rating lebih tinggi dengan merendahkan Gigih
atau netters lainnya?
Saya menangkap kesan discouraging yang berlebihan. Dan Allah tidak suka
apapun yang berlebihan.
Apa kira-kira yang Anda rasakan bila seorang netter lain mengatakan : Baru
jadi pegawai negeri dan masuk internet numpang fasilitas kantor saja sudah
sok. Nggak enak kan? Untunglah tidak ada yang bilang begitu.
Ingat dong, Andalah yang pasti pakai email yang sepenuhnya gratis, bukan
hanya nggak bayar ISP, tetapi juga nggak perlu beli computer-set, nggak
perlu bayar listrik, nggak perlu bayar pulsa telepon. Berapa Anda bayar
untuk itu semua? Zero, I guess. Artinya GRATIS. Padahal tidak ada yang
gratis didunia ini. Berarti ada yang bayar, katakanlah Negara, atau rakyat,
termasuk dari pajak yang dibayar oleh para netters disini.Pernahkan terpikir
oleh Anda, manfaat apa yang didapatkan oleh pihak yang membayari Anda
berinternet ria seperti ini? Is that fair? Sementara banyak netters lain
yang membayar itu sepenuhnya dari kantong sendiri. Dan mereka tidak pernah
mengusik Anda. Kalau Anda merasa berhak, silahkan saja. Bisa saja kan Anda
mengatakan hanya memakainya pada jam istirahat, tetapi tidak mengurangi
esensi bahwa itu menyimpang dari tujuan penyediaan fasilitas ini. Seperti
menggunakan mobil dinas dipakai mengantar isteri pejabat untuk menghadiri
arisan diluar jam kantor. Kalau misalnya terpikir bahwa Anda membayar dengan
mengabdikan tenaga diinstansi ini, juga sangat bias. Mana yang lebih besar
kepentingannya? Apakah BPPT yang membutuhkan tenaga Anda (misalnya tenaga
Anda diposisi ini memang tak tergantikan siapapun didunia ini) atau justru
Anda yang sebetulnya membutuhkan BPPT sebagai tempat bekerja untuk membiayai
hidup Anda, termasuk mendapatkan status dimasyarakat? Untuk membuktikan mana
yang lebih dominan membutuhkan mudah saja. Resign. Beranikah? Siapa yang
akan menangis sesudahnya? BPPT atau Anda? Akan lebih indah kalau kesempatan
komunikasi ini sekurangnya menjadikan lebih banyak orang tahu tentang sisi
baik BPPT, bukan malah sebaliknya. Pandai pandailah bersyukur.
Dari learning point saya tentang mematikan lampu yang dilakukan Khalifah
Umar bin Chottob ketika Hafsah (anaknya) berkunjung untuk urusan keluarga,
saya merasa menggunakan fasilitas dinas untuk kepentingan pribadi adalah
korupsi. Anehnya didunia ini ada yang bangga melakukannya. Correct me if I
am wrong.
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!