matrik tukang blek....
lho.. mbah gigih... mau kemenong?
hahaa... wah gawat keliwat-liwat temenan.
yaaa situ sih pakai alamat gratisan dan postingnya
nggadur bin nyemprul. lha aku gimana.... padahal
juga pakai alamat gratis lho... namanya juga nggak jelas.
masak soeloyo kok alamatnya OEIN, kaya nama cino..

wis enake aku leren ae wis.... nunggu keputusan BANG
MARTIN. mudah-mudahan selama itu ada tempaan para
pukulun.. eh salah, para empu dan janggan dari milist ini
sehingga abanganku jadi luntur.... tul nggak ya?
kalau memang bang martin tak mengijinkan "pemakaian
nama samaran yang SOELOYO" ini yaaaa
aku melok pena cak Gih dan Kang Marto... tak ngurusi
WOJOSETO lagi aja deh.... biar nanti kemayoritasanku
dan bolo-2 ku sebagai wong jowo diakui gitu lho.. untuk
ikut berperan dan tukang ngoprak-oprak urusan segala
hal... nanti biar tambah seru.... masak dari dulu hanya
pethenthengan antara mus dan nonmus....

namun dengan segala kerendahan diri dan kejelekan martabat
saya sebagai orang yang mengaku muslim (abangan) jawa,
ijinkan saya menempel satu saja tempaan dari teman saya
untuk salau satu surat di kitabullaah yang menjadi bacaan wajib
ketika saya mencoba mendekati-Nya, ndremimil kaya mbah
gigih.... teman saya yang selama ini membantu saya sedikit
demi sedikit memahami "kesimpulan kehidupan alam-raya"
berupa al-qur'an yang di edit dan dijastifikasi oleh UTHMAN
bin AFFAN itu.

(bagi yang berminat untuk surat yang lain silakan menjapri saya
untuk saya hubungkan dengan teman saya itu)

mohon untuk kali ini BANG MARTIN tidak mengadministratori
posting saya ini, sebelum saya ikutan kabur kaya cak GIGIH dan
kang MARTO....


salam,

mBah Soeloyo
Moderator ML JOWO  WOJOSETO
SURADIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI
langganan: [EMAIL PROTECTED];
berhenti: [EMAIL PROTECTED]
japri: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
eGroups.com home: http://www.egroups.com/group/wjseto
http://www.egroups.com - Simplifying group communications


----------kajian kontekstual qur'an-----------------------------------
A'uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim,
Bismillaahi ar Rahmaani ar Rahiim,

SURAT AL-FAATIHAH (1)
1.  Alhamdu lillaahi rabbil 'aalamiin.
2.  Arrahmaanir rahiim.
3.  Maaliki yaumid diin.
4.  Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin.
5.  Ihdinash shiraathal mustaqiim.
6.  Shiraathal ladziina an'amta alaihim.
7.  Ghairil maghdhuubi alaihim wa ladh-dhaalliin.
Terjemahan:
1.  Segala puji bagi Allah Tuhan alam semesta.
2.  Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
3.  Yang menguasai Hari Kepatuhan.
4.  Hanya kepada Engkau kami beribadah, dan hanya kepada Engkau
     kami memohon pertolongan.
5.  Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.
6.  Jalannya orang-orang yang Kau beri kenikmatan.
7.  Bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan tersesat.
=========================================================
Surat Al-Faatihah dengan susunan di atas bisa kita temukan dalam Hadis
yang bersumber dari Ubay ibnu Ka'ab ra dan Abu Hurairah ra. Jadi, ayat
bismillah tidak termasuk dalam Surat Al-Faatihah. Bahkan dari Hadis
tersebut diketahui bahwa ayat nomor 1 s/d 3 untuk Allah, ayat ke 4
untuk Allah dan hamba-Nya dan ayat nomor 5 s/d 7 untuk hamba-Nya.
Jadi, wajar kalau para ahli fiqih (syariat Islam) berbeda pendapat
tentang pembacaan Al Fatihah di dalam shalat. Ada yang tidak membaca
ayat bismillaahir rahmaanir rahiim, ada yang membacanya tapi tidak
secara terang (jahar), dan ada pula yang membacanya dengan terang
dalam shalatnya.
Yang dibahas dalam tafsir ini adalah susunan ayat seperti yang
dikemukakan dalam Hadis, yaitu yang dimulai dengan ayat 'alhamdu
lillaah....'sebagai ayat pertamanya.
Berdasarkan kronologi turunnya ayat, sebagian besar ahli tafsir
sepakat bahwa surat ini merupakan surat yang kelima turunnya, yaitu
setelah Surat Al Muddatstsir. Surat ini diperkirakan turun pada tahun
ke 2-3 kenabian, yaitu di Mekah. Dan kelak ketika shalat diwajibkan
kepada umat Islam, surat inilah yang wajib dibaca ketika berdiri dalam
suatu rakaat shalat. "Tiada sah suatu shalat tanpa Al Fatihah"
(Hadis). Ulama-ulama Sunni (Ahli Sunnah) memandang wajib membaca Al
Fatihah pada setiap berdiri rakaat. Tetapi Imam Ja'far Ash Shadiq ra
(gurunya Imam Abu Hanifah dan Imam Malik) dan yang diikuti oleh
kalangan Syi'ah, menyatakan bahwa kewajiban membaca Al Fatihah dalam
shalat hanya pada rakaat pertama dan kedua. Oke, kita tidak membahas
fiqih di sini. Saya kemukakan dalam tafsir ini hanya sebagai
pengetahuan syariat.
Berdasarkan mayoritas ahli tafsir, surat Al Fatihah disebut sebagai 7
ayat yang dibaca berulang-ulang, seperti yang dinyatakan dalam QS
15:87. Dan Al Fatihah juga disebut "Ummul Kitaab", Induk Al Kitab.
Artinya, pokok-pokok isi Al Quran sudah tercakup di dalam Al Fatihah.
Sekali lagi, yang tercakup adalah pokok-pokok kandungannya. Jadi,
untuk mengetahui isi Al Quran tidak cukup dengan membaca Al Fatihah
saja. Al Quran tetap harus dipelajari dengan seksama oleh umat Islam.
Al Quran tetap harus dipelajari melalui pendekatan tafsir, karena
sebagian besar ayat Al Quran bersifat mutasyabihat dengan bahasa
puitis. Al Quran diturunkan dengan bahasa Arab yang terang, dan hanya
orang-orang yang mampu menggunakan akalnya yang dapat memahami
kandungan Al Quran. Bahkan di QS 10:100 dinyatakan bahwa Allah
menjadikan rijs (kafir) bagi mereka yang tidak menggunakan akalnya
dalam memahami ayat-ayat Tuhan.

Alhamdulillaah merupakan awal beberapa surat di dalam Al Quran, yaitu
surat ke 6, 18, 34 dan 35. Dan 'alhamdulillaah' juga diucapkan sebagai
tanda syukur kepada Tuhan setelah kita makan, minum, dan menyelesaikan
pekerjaan, atau kita merasa mendapat kenikmatan. Kata alhamdu
merupakan rangkaian al dan hamd. Kata hamd diterjemahkan dengan puji
atau pujian. Dengan adanya al maka pujian yang dimaksud adalah segala
pujian, sanjungan atau kemuliaan. Dan itu yang memiliki hanyalah
Allah. Dalam rangkaian ayat-ayat yang turun di awal kenabian, nama
Allah adalah nama Tuhan yang pertama kali disebut. Sebelumnya Dia
hanya dinyatakan sebagai "Ilaah" (Tuhan) atau "Rabb" yang berarti
pemelihara dan pendidik. Dalam bahasa Arab, pendidikan disebut
"tarbiyyah". Dalam ayat pertama ini, Allahlah pemilik segala pujian
dan sanjungan, karena Dialah pemelihara dan yang mendidik alam
semesta. Dan bagi yang mengucapkan 'alhamdulillaah' hakikinya si
pengucap ini mengakui bahwa dirinya tidak memiliki kebanggaan apa-apa,
karena hakikinya kita ini memang tidak mempunyai apa-apa. Ketika
lahir, manusia hanya mempunyai pendengaran, penglihatan dan 'fuad'
(hati terdalam). Ia telanjang, tidak peduli apakah ia dilahirkan oleh
keluarga kaya maupun oleh si miskin. Dengan pertolongan-Nya melalui
hukum 'sebab-akibat', maka ada yang menjadi kaya ada yang miskin.

Selain disebut 'Rabb', Tuhan disebut sebagai "Ilaah". Kata 'ilaah'
berasal dari kata "aliha - ya'lahu" yang maknanya 'menuju, memohon
atau menyembah'. Dan 'ilaah' bermakna yang dituju atau yang disembah.
Dengan demikian, dalam bahasa Arab, apa saja yang dituju atau disembah
dinamakan 'ilaah'. Dan kata 'Allah' yang akar katanya juga 'aliha',
mempunyai makna "yang wajib dituju atau disembah". Karena itu Allah
adalah tempat kembalinya segala sesuatu. Dan Allah yang wajib disembah
inilah yang menciptakan, memelihara dan mendidik segala sesuatu. QS
6:102, "Itulah Allah Rabb kamu sekalian, tiada Tuhan selain Dia, yang
menciptakan segala sesuatu karena itu orientasikan hidupmu
 kepada-Nya."  Ayat yang senada dinyatakan pada QS 40:62. Pada ayat
ini kalimat 'sembahlah Dia' saya ganti dengan istilah 'orientasikan
hidupmu kepada-Nya'. Hal ini penting saya jelaskan karena menyembah
Allah tidak sama dengan 'seorang bawahan yang melakukan sembah-sujud
kepada rajanya'. Allah tidak membutuhkan sesembahan yang demikian ini.
Dia Maha Kaya atas segenap alam. Dengan berorientasi artinya kita
hidup melalui jalan-jalan yang telah ditetapkan-Nya.

Allah adalah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kasih Allah
meliputi segala sesuatu (QS 7:156). Tak peduli anaknya orang kafir
maupun orang beriman, tetap diliputi kasih-Nya. Pada dasarnya semua
ciptaan ini dijadikan oleh Tuhan sebagai ciptaan yang sempurna, tidak
cacat. Kalau sampai ada kecacatan, musibah, maka sesungguhnya
disebabkan oleh diri manusia. Pada QS 42:30 dinyatakan bahwa "Dan
musibah apa saja yang menimpamu  maka itu disebabkan oleh tanganmu
(perbuatanmu) sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar
(kesalahanmu)."   Berdasarkan ayat ini, bila ada seseorang yang lahir
cacat atau tertimpa musibah dalam hidupnya, maka itu akibat dari
perbuatan diri yang bersangkutan. Karena pada lanjutan ayat, justru
dijelaskan bahwa Allah itu banyak memaafkan kesalahan manusia. Ujung
ayat ini menjelaskan bahwa Allah itu Maha Penyayang, Ar Rahiim. Kasih
kepada semua hamba-Nya, dan sayang kepada yang mau mengikuti-Nya.

Pada umumnya ahli tafsir tidaklah mencoba memahami ayat 42:30
tersebut. Umumnya ayat tersebut diterima dengan iman spekulatif. Kalau
ada bayi lahir cacat atau ada orang yang tertimpa musibah hanya
dipahami sebagai 'takdir' Tuhan. Banyak yang lupa bahwa musibah itu
akibat perbuatan diri yang bersangkutan. Justru Allah memaafkan
sebagian besar kesalahan manusia, karena sifat Kasih-Sayang-Nya.
Memahami itu sebagai takdir, berarti mengingkari bunyi ayat tersebut.
Tetapi kalau harus menerima bahwa bayi yang cacat atau tertimpa
musibah dalam kelahirannya itu akibat perbuatan dirinya, berarti harus
mengakui konsep 'siklus kehidupan diri', atau dalam istilah lain
'dilahirkan kembali' atau 'reinkarnasi'. Wah, ini kan tidak ada di
dalam ajaran Islam?  Saya tak hendak berpolemik dalam hal ini. Mari
kita kaji saja surat-surat yang lain dengan jeli, teliti, dan seksama.
Anda semua akan dapat menyimpulkan sendiri!

Ayat ke 3 menyatakan bahwa Allah adalah Dia Yang menguasai 'Hari
Kepatuhan', maaliki yaumid diin. Kata diin berasal dari kata daana -
yadiinu, yang berarti menghukum, membalas, mengadili, atau mematuhi.
Saya tidak mengambil makna pengadilan atau pembalasan. Karena
rangkaian kata yaumid diin tidak harus bermakna terjadinya setelah
bumi ini lenyap. Kata menguasai sebenarnya menununjukkan kepada kita
bahwa ada suatu 'yaum' atau 'waktu' yang tetap dikuasai Tuhan dari
dahulu hingga nanti yang tak terbatas. Dengan demikian ada 'yaumud
dun-ya' yang kita bisa bersandiwara dalam kehidupan ini, dan ada
'yaumud diin' dimana diri kita senantiasa patuh kepada-Nya. Contoh
yang terakhir ini adalah setiap yang berjiwa pasti merasakan mati.
Nah, bagi hari yang demikian ini manusia tidak bisa mengelakkannya.
Segenap peristiwa di alam kematian ada di dalam 'yaumud diin'. Bahkan
kelahiran manusia di dunia ini juga ada di alam 'yaumud diin'. Oleh
karena itu kita tidak bisa memilih kelahiran kita ada dimana, sebagai
bangsa apa, dan melalui keluarga siapa. Pada QS 22:56 disebutkan bahwa
kekuasaan hari tersebut milik Allah. Pada QS 2:202 disebutkan bahwa
Allah sangat cepat perhitungannya. Artinya, balasan atau imbalan yang
diterima manusia tidak pakai menunggu waktu yang sangat lama, yang
hanya menjadi keyakinan spekulatif, yaitu menunggu bumi, matahari,
bulan dan bintang dilenyapkan.

Manusia hidup di bumi ini melalui tingkat demi tingkat (QS 71:14).
Bukan hanya di dalam perut ibu, tetapi juga dalam kehidupan di atas
bumi ini. Bahkan semua manusia mula-mula dijadikan tumbuh sebagai
tumbuhan di atas tanah (QS 71:17). Evolusi!  Ya, diri manusia memang
berevolusi lahir dan batin untuk mencapai kesempurnaan hidup. Proses
berubah-ubah tingkat demi tingkat, menuju kesempurnaan ada di dalam
'yaumud diin'. Dari sel telur dan sperma, menjadi zigot, menjadi
segumpal daging, menjadi bayi sempurna, kemudian lahir di bumi ada di
dalam kekuasaan Tuhan sepenuhnya. Proses ini ada di dalam 'yaumud diin
'. Begitu pula setelah mati, apa yang harus dialami manusia ada di
dalam yaumud diin. Sedangkan dimana sel telur itu harus bertemu dengan
sperma, apakah di perut ibu atau di tabung, itu ada di dalam yaumud
dun-ya. Kita menjadi manusia ini melalui perkawinan atau kloning
adalah peristiwa yaumud dun-ya. Jadi, alam semesta ini memang
diciptakan berpasangan (zauj) seperti diterangkan pada QS 36:36. Ada
alam lahir, ada alam batin. Ada yaumud dun-ya yang merupakan bentuk
alam kemungkinan, ada pula yaumud diin yang merupakan alam kepatuhan.
Sebagai tambahan tentang pengertian yaumud diin, perhatikanlah QS
42:31 di bawah ini:

"Dan kamu semua tidak dapat melepaskan diri di bumi ini, dan kamu
semua tidak memperoleh seorang pelindungpun maupun seorang penolong
selain Allah."

Hanya kepada Engkau kami beribadah (berorientasi) dan hanya kepada
Engkau kami memohon pertolongan. Inilah bunyi ayat ke 4. Sebuah ayat
yang diperuntukkan bagi Allah dan hamba-Nya. Yang wajib diibadahi cuma
Allah, berarti ayat ini untuk Allah. Yang wajib dimintai pertolongan
cuma Allah, inilah ayat untuk hamba-hamba-Nya. Karena yang menikmati
pertolongan itu hamba-Nya, bukan Allah. Kalau yang diibadai itu cuma
Allah, memang jelas karena Allah pencipta, pemelihara dan pendidik
alam semesta. Tetapi bagaimana dengan pertolongan? Bukankah selama ini
kita biasa meminta pertolongan kepada sesama manusia? Betul sekali!
Pertolongan dalam bentuk lahiriah yang bersifat sebab dan akibat,
memang dilakukan di antara manusia. Seperti tolong-menolong dalam
kebajikan (QS 5:3).  Tetapi dalam praktiknya, hal yang bersifat
lahiriahnya ini tak terlepas dari yang batiniah atau rohaniah. Siapa
yang menjamin bahwa kalau kita meminta pertolongan kepada orang lain,
pasti kita ditolong? Tentu saja secara lahiriah tidak ada yang
menjamin. Orang yang meminta-minta di jalan raya saja tidak setiap
orang memberinya. Kalau kita melamar pekerjaan, tidak setiap surat
lamaran kita dihargai. Bahkan mungkin banyak yang langsung dimasukkan
ke keranjang sampah. Di sinilah kita secara batin betul-betul hanya
memohon kepada Allah. Nanti Dia yang mengatur, melalui siapa
pertolongan itu diberikan kepada kita.

Meminta pertolongan kepada Tuhan bukanlah pasif, meskipun semua
kekuatan itu kepunyaan Allah (QS 2:165, 18:39). Dan memang Allah yang
memberi rizeki dan yang mempunyai kekuatan untuk memberi hamba-Nya (QS
51:58). Tetapi meminta pertolongan kepada Allah harus melalui
cara-cara yang telah diberikan kepada kita. Pertolongan tidak dapat
diperoleh dengan cara yang pasif. QS 3:125 menyatakan bahwa "Bila kamu
bersabar dan bertakwa, dan mereka datang menyerang kamu dengan
tiba-tiba, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang
memiliki tanda."  Ingat kembali makna sabar dan takwa yang sudah
dijelaskan pada surat-surat yang lalu. Sabar adalah keberanian dan
keteguhan untuk melanjutkan perjuangan yang sudah direncanakan dan
ditetapkan. Jadi, sabar bukan hanya menahan diri, atau pasrah untuk
menunggu hasil. Dan takwa adalah kemampuan rohaniah untuk melakukan
kebajikan dalam kondisi apapun. Tentunya, bertakwa dalam peperangan
adalah bersiaga dan menempuh strategi dan taktik yang benar.

QS 2:45 menyebutkan "Mintalah pertolongan dengan kesabaran dan shalat.
Yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu'
."  Kembali di sini dijelaskan bahwa meminta pertolongan itu harus
disertai kesabaran, harus direncanakan dengan baik dan ditetapkan,
lalu diperjuangkan. Dan harus disertai dengan upaya untuk berhubungan
dengan Tuhan, baik berupa zikir atau sembahyang. Tuhanlah sumber
segala kekuatan, stroom, energi. Kita kontakkan kabel kita kepada-Nya,
agar kita mendapat daya dan kekuatan. Tetapi, untuk bersabar dan
shalat ini merupakan tindakan yang berat. Karena hanya orang-orang
yang khusyu' yang dapat menjalankannya. Lho, kalau begitu apa artinya
khusyu'?  Khusyu' artinya merendahkan diri, humble, merasa tak punya
apa-apa, merasa tak kuasa berbuat apa-apa. Kalau kita sudah khusyu',
maka tidak merasa berat lagi untuk bertindak sabar dan shalat.

Berikutnya kita memohon petunjuk yang berupa jalan yang lurus,
shiraathun mustaqiim. Beberapa ahli tafsir menerjemahkan dengan arti
"jalan yang luas dan lurus". Bukan tunjukkan kami kepada jalan yang
lurus, tetapi tunjukkan kepada kami jalan yang lurus. Jalan yang bisa
kami lalui dengan lapang dalam kehidupan ini. Yang membuat jalan yang
lurus itu Allah. Karena itu kita meminta kepada Allah, agar jalan yang
lurus itu diinformasikan kepada kita. Dalam kehidupan ini, ada saja
problema pribadi yang menimpa kepada seseorang. Di sinilah seorang
hamba meminta ditunjuki jalan yang lurus. Sedangkan dalam kehidupan
bersama atau bermasyarakat, kitab-kitab yang diturunkan kepada para
nabi adalah jalan yang lurus. Karena itu Nabi Muhammad dikatakan
sebagai orang yang memberi petunjuk kepada jalan yang lurus (QS
42:52). Pada QS 5:16 dikatakan bahwa "Dengan kitab itulah Allah
menunjukkan  jalan-jalan (subul) kedamaian kepada orang-orang yang
mengikuti keridhaan-Nya, mengeluar-kan mereka dari kegelapan kepada
cahaya dengan izin-Nya dan menunjukkan mereka ke jalan yang lurus."
Jadi, di sini kitab itu menunjukkan kepada berbagai jalan kedamaian
atau keselamatan, dan juga jalan yang lurus untuk kehidupan bersama
dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Di dalam jalan yang luas dan
lurus itu terdapat banyak jalan (sabil) keselamatan.

Pada ayat yang lain disebutkan bahwa hidup berorientasi kepada Tuhan
Yang Maha Esa adalah jalan yang lurus. "Beribadahlah kepada-Ku, inilah
jalan yang lurus." (QS 36:61).  Agama yang benar, seperti yang
didoktrinkan oleh Nabi Ibrahim as disebut juga sebagai jalan yang
lurus. Mengapa agama Nabi Ibrahim as ini disebut sebagai "millah" atau
doktrin? Karena pada waktu itu, umat manusia yang diseru untuk memeluk
agama yang benar itu belum menggunakan akalnya. Mereka lebih memilih
tunduk kepada perintah raja, meskipun salah. Mereka tidak berani
mengritik rajanya meskipun raja bertindak salah. Walaupun dalam
perdebatan antara Raja Namrud dan Ibrahim, mereka mengetahui bahwa
Ibrahimlah yang benar, tetapi mereka takut membenarkannya.

Pada ayat ke 6 ternyata disebutkan bahwa ternyata jalan yang lurus itu
adalah jalan yang dilalui atau jalan yang telah ditempuh oleh mereka
yang mendapatkan kenikmatan dari Tuhan. Siapakah orang-orang yang
diberi kenikmatan itu?  QS 4:69 mengabarkan bahwa "Barangsiapa patuh
kepada Allah dan Rasul, maka mereka itu akan bersama  orang-orang yang
diberi kenikmatan oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqiin, para
syuhada, dan para shaalihiin."

Para nabi adalah orang-orang yang menerima wahyu dari Tuhan, baik
mereka yang berkedudukan sebagai nabi maupun bukan. Menurut salah satu
Hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari ada orang-orang yang mendapatkan
wahyu dari Allah, tetapi mereka itu bukan nabi, yaitu pada Kitab
Bukhari yang bernomor 62 bab 6. Bunyi hadisnya, "Di antara mereka
terdapat orang-orang yang diberi firman Allah, sekalipun mereka bukan
nabi."  Para nabilah yang disebut sebagai orang-orang suci,
orang-orang yang memiliki spiritualitas tertinggi. Karena itu para
nabi disifati dengan siddiq (jujur), amanah (tepercaya), fathanah
(cerdas akalnya), dan tabligh (mengabarkan petunjuk yang dia terima
untuk kesejahteraan hidup manusia).

Para shiddiqiin adalah mereka yang secara proaktif melahirkan
kebenaran di tengah-tengah manusia. Bukan saja mereka itu jujur atau
berbuat benar, tetapi menghasilkan hal-hal yang benar. Karena
aktualisasi merekalah ada kapal terbang, kapal laut, listrik,
elektromagnet, dan lain-lain. Sedangkan para syuhada adalah mereka
yang berani menegakkan kebenaran atau menjadi saksi terhadap
kebenaran. Para shaalihiin adalah mereka yang senantiasa berbuat amal
saleh, berbuat untuk memberikan manfaat baik untuk dirinya maupun
lingkungannya. Jadi, dari keempat tingkatan martabat manusia tersebut,
sasaran untuk kebajikan yang paling rendah adalah para shaalihiin.
Kalau masih di bawah tingkatan yangterakhir ini, berarti masih
tergolong orang-orang yang belum menerima kenikmatan dari Tuhan.

Nah, ayat ke 7 adalah bagi mereka yang mendapatkan kemarahan dan hidup
dalam kesesatan. Siapa mereka ini?  Banyak ahli tafsir yang memisahkan
kata 'yang dimarahi' dan 'yang sesat'. Lalu mereka mencoba mencari
pembenaran melalui beberapa hadis dan ayat Al Quran. Mereka
mendapatkan bahwa yang dimarahi adalah orang-orang Yahudi, dan yang
tersesat adalah orang-orang Nashrani. Inilah yang disebut
penggeneralisasian terhadap suatu ayat. Padahal pada ayat yang lain
disebutkan bahwa di antara ahli kitab itu ada orang-orang yang berlaku
santun, ada orang-orang yang mengasihi orang-orang Islam. Ketika
hijrah pertama kali, yaitu ke Ethiopia, warga muslim diterima dengan
baik oleh Raja negeri tersebut dengan penuh kasih sayang dan
perlindungan.

Oleh karena itu kata-kata yang mendapat kemarahan dan hidup tersesat
ini tidak saya pisahkan. Kata-kata tersebut berupa kesatuan, yaitu
mereka yang hidup tertimpa kemarahan dan tersesat. Siapa itu?  Yaitu
mereka yang kafir dan bertambah kekafirannya (QS 3:90). Mereka yang
tidak mendapat petunjuk karena kezaliman mereka (QS 6:77, 28:50).
Mereka yang hanya hidup dengan mengikuti hawa nafsu mereka, dengan
kata lain mempertuhan hawa nafsu mereka (QS 25:43, 28:50 dan 5:77).
Juga bagi mereka yang berputus asa dalam kehidupan ini (QS 15:56).
Jadi, siapa yang mendapatkan kemurkaan dan tersesat itu bukan
menunjuk kepada golongan tertentu. Tetapi bagi mereka yang terus
menerus kafir, mengikuti hawa nafsunya saja, mereka yang zalim, dan
bagi mereka yang berputus asa.

Apakah hawa nafsu itu?  Hawa dalam bahasa Arab bisa bermakna rendah,
jatuh, tenggelam, atau udara. Di dalam Al Quran, kata hawa ini tidak
digandeng dengan kata nafs. Ia hanya disebut hawaa. Kalau
didefinisikan menjadi "dorongan yang kuat untuk berbuat yang
menjatuhkan martabat manusia", atau yang membawa manusia ke derajat
hidup yang rendah. Dengan kata lain, perbuatan yang dilakukan tanpa
dipikir terlebih dahulu. Karena itu orang yang mengikuti hawa nafsunya
disebut juga sebagai orang yang mengikuti nafsu kebinatangannya.
Karena binatang berbuat tanpa dipikir lebih dulu. Juga disebut
memenuhi nafsu rendahnya, karena perbuatan yang mula-mula ada ketika
ia dilahirkan adalah perbuatan yang dilakukan tanpa pemikiran.


Wassalamu alaikum wr. wb.,

chodjim
Kajian Kamis, 17 Februari 2000





- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke