Saya kira dalam 'skandal gemala' Kwik dalam posisi menjawab. Bukan mengambil
inisiatif. Wartawanlah yang memprovokasi dengan mengeksploitir 'perseteruan'
Kwik dan Liem.
Dalam konteks yang saya tahu, Kwik menjawab pertanyaan wartawan yang
memancing komentarnya, Kwik menyatakan bahwa dia tidak dalam posisi
mengomentari perusahaan demi perusahaan, dan tak mungkin baginya mempelajari
ribuan laporan keuangan dari semua perusahaan yang masuk ke BPPN. Wartawan
mendapat informasi dari sumber lain tentang 'kemurah hatian' Widagdo ... eh
BNI terhadap Sofyan, yang barangkali utang itu baru lunas setelah cucunya,
atau cucu dari cucunya meninggal dunia. Bukan dari Kwik. Tetapi bisa saja
saya salah, karena saya hanya mendengarkan sambil lalu diradio El Shinta,
dan belum membacanya di Republika maupun Detak-Detik.
Memang unik juga mengangkat skandal Dusit Thani, dengan memelintir memiliki
saham perusahaan esek esek berarti bermoral bejat. Musti hati hati benar
membeli saham dibursa, agar kelak tidak menjadi beban mental. Padahal saham
itu hanya salah satu barang mainan dalam financial engineering. Apalagi
kalau mengandalkan technical analyses yang justru menjadi senjata utama para
players untuk medulang duit. Jangan jangan nanti ada yang mengecap Gus Dur
rentenir hanya karena pernah mengakuisisi (almarhum) Bank Papan. Maklumlah,
di era demokrasi semua orang bebas bicara, dan banyak pula yang mudah
terhasut.. eh terhanyut.
Saya kira kehadiran Kwik maupun Sofyan dipapan atas pembuat keputusan negara
ini diperlukan, seperti kita memerlukan kehadiran Cacuk, Kuntoro, Marsilam,
Bambang Sudibyo, Nurmahmudi dan Susilo Bambang Yudhoyono. Eh, kok banyak
bener Jawanya. Apakah ini juga termasuk proporsionalitas, sehingga hanya
Fred Numberi dan Suaedi Marasabessy yang 'mewakili' tim kawasan timur?
Saya sih melihatnya bukan dari keterwakilan agama, suku, parpol de es be,
tetapi lebih dari sisi yang paling siap pada saat ini. Nggak masalah dari
manapun dia berasal. Tetapi bisa saja orang lain menilai lain pula. Itu cuma
masalah sudut pandang.
yap
(dengan huruf kecil)
----- Original Message -----
From: Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]>
To: Millis Kuli-Tinta <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Monday, 28 February 2000 3:41 PM
Subject: [Kuli Tinta] KWIK vs SOFYAN
> Saya kira cuma di Republika yang "islam" itu. Ternyata ada pula di tabloid
> Detak milik Eros Jarot yang amat "pdip" pula.
>
> Perseteruan yang rupanya sudah lama antara Kwik dan Sofyan kian terbuka.
> Isyu soal Kwik punya Panti Pijat Dusit ternyata lahir dari tembakan
Sofyan.
> Kwik membalasnya dengan tembakan jitu pula. Skandal Gemala yang membuat
hati
> orang bersih itu amat gundah dan jengkel-pun dibongkarnya kepada pers.
> Gemala Container utang 100 Milayar pada BNI. Bayarannya adalah bunga
> deposito 40 Milyar . Pinjaman tersebut akan lunas 84 tahun lagi , yaitu
> berdekatan dengan persiapan pesta abad 22.
>
> Tabloid Detak agak lebih sadis sedikit . Alinea pembukaannya berbunyi
begini
> : " Semenjak dilantik Presiden sebagai ketua DPUN nama Sofyan Wanandi
seolah
> tercuci oleh sabun. Bersih, putih, dan mengkilap tanpa noda.....".
> Judulnyapun mengundang sentimen rasialis : "Kredit Macet Lim Bian Koen ".
>
> Masyaallah !
>
> Wassalam.
> Abdullah Hasan.
>
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!