Betul!
Hanya masalahnya, seperti halnya heterogenitas bangsa ini, pemahaman terhadap
demokrasi juga
beragam.
Sehingga contoh itu juga bisa diperpanjang misal ketika Jusuf Kala dihentikan maka
sebagian mhs di
Sulawesi Selatan
mengelat; ketika Yorris ditahan kelompok masyarakat Irja di Jkt menggeliat; ketika
Habibie tidak
menjadi Presiden masyarakat di..... dst. Saya khawatir, bola salju SS yang sedang
menuju ke Baramuli
juga akan menggeliatkan kelompok masyarakat tertentu. Kayaknya demokrasi masih menjadi
hapalan
ya....?
Namun yang membela Soeharto malah bukan orang Jawa, malahan dari marga Tampubolon,
Sitompul,
Kaligis yang bukan Jawa. Aneh ya...?
Apalagi kalau sudah menyangkut agama ..........
----- Original Message -----
From: By <[EMAIL PROTECTED]>
To: kuli-tinta <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, June 23, 2000 9:00 AM
Subject: [Kuli Tinta] Pengelompokan
Petikan berita Republika tentang keberatan orang Minang thd penahanan Syahril
Sabirin :
-------awal kutipan
Syahril, kata Syalie, merupakan tokoh nasional asal Minang yang sangat
dihormati oleh kaumnya. ''Beliau itu kepala suku, datuk, bukan
sembarangan orang,'' katanya. Ia khawatir, jika penahanan Syahril berbau
politis, maka itu akan memicu isu primordial yang sempit. Padahal,
primordial sempit, kata Ridwan telah terbukti tidak bermanfaat. ''Gus
Dur seharusnya arif, kalau karena tindakannya ada rakyat yang hatinya
luka.''
-------akhir kutipan
Susah dong kalau setiap pejabat dianggap sbg representatif suatu suku, Indonesia
kan buanyak sukunya. Kita keberatan juga ya kalau tidak ada wakil Indonesia di
PBB or semacamnya?
Kita boleh pilih kok terhadap apa kita rela dikelompokkan.
Keluarga? Suku? Propinsi? Pulau? Negara? Agama? Manusia? Mahluk hidup? Mahluk
Tuhan?
Atau terhadap Demokrasi saja? Demokrasi sebuah kelompok bukan?
By.
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!