Perkembangan terakhir berkaitan dengan maslah Ambon: PDI-P dan PGI (minimal, baru itu yang saya cermati. meski bisa jadi ada pihak lain juga) kelihatan _belingsatan_ dengan melapor kesana kemari (termasuk Pangab Widodo) untuk mentuntaskan dan kalau perlu bertindak keras terhadap kelompok sipil bersenjata di sana. Too late, bung. Dan bisa ditertawakan. Kenapa pihak-pihak itu tidak bersuara seperti itu ketika ribuan orang Islam dibantai? Bahwa mereka baru _tergerak_ untuk menghentikan pembantaian setelah (dalam kasus belakangan) banyak orang Kristen terbantai? Padahal jumlahnya _relatif_ sedikit dibanding korban di pihak Islam. Look, semua nyawa (Kristen, Islam atau lainnya) amat berharga. Selayaknya dari awal pembantaian di Maluku sudah dihentikan. Tapi lihatlah kenyataannya. Hanya orang Islam yang teriak-teriak tentang perlunya pembantaian itu dihentikan. Itu pun sering difitnah oleh orang Islam sendiri. Presidenpun, entah lagi kumat sarapnya atau memang bego, pernah mengatakan bahwa korban orang Islam cuma lima orang. Bisa jadi mbah Dur ketularan virus Moerdani, yang suka memperkecil jumlah korban orang Islam. (Bahkan di Priok pun cuma diakui 9 orang mati). Bahwa saran penghentian kekerasan itu perlu dihargai memang ya. Cuma, kenapa itu baru terjadi manakala pihaknya menjadi korban? Kenapa dari dulu justru diam saja? Mari kita buktikan bahwa _perdamaian_ itu memang diharapkan. Caranya? Yang bersalah harus dihukum. Tidak peduli dari kelompok mana. ->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
