KKN adalah _kata wajib_ yang mesti diucapkan oleh mereka yang menganggap
dirinya reformis. Paling tidak, itulah yang dilakukan  menjelang
pergantian presiden ke 4. Kata itu bak penyakit kusta. Siapapun yang
dituduh KKN pasti akan menjadi cemoohan banyak pihak. Yang membuat saya
terheran-heran, kenapa banyak orang yang dulu berteriak-teriak anti KKN
justru sekarang menikmatinya?

Baru saya tahu bahwa Muhaimin Iskandar ternyata ponakannya mbah Dur. Terus
Matori, yang dulu begitu getolnya menuding Golkar sebagai dedengkotnya
KKN, apa ya nggak tahu kalau banyak orang PKB itu ternyata berkaitan
keluarga dengan mbah Dur? Saya yakin, pembelaan orang PKB akan berbunyi:
yang penting kan mereka itu mempunyai kemampuan. Lha kalau alasannya
_punya kemampuan_ berarti dalam batas tertentu KKN (atau tepatnya
nepotisme) itu boleh dong? Berarti, nggak bisa gebyah uyah juga.

Yang jelas, nepotisme itu enak sih.




->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke