>From: "Usman Maine" <[EMAIL PROTECTED]> >Reply-To: [EMAIL PROTECTED] >To: [EMAIL PROTECTED] >Subject: [is-lam] Mengkritik RI-1 [bukan GD] >Date: Sat, 24 Jun 2000 15:00:48 PDT > >Assalamu'alaikum Wr.Wb. > >Dalam beberapa hari ini saya lihat-lihat lagi apa yang telah >saya tulis berkenaan kata kunci "abudarrahman wahid". > >Saya tersadar sekarang bila ada penggemar AW yang tercubit >atas apa yang saya tulis. Namun demikian, kalau mau dilihat >lebih teliti...apa yang saya tulis tak ada kaitan sama sekali >dengan posisi AW sebagai pribadi maupun posisi AW ebagai >sesepuh NU. Tetapi saya selalu mengkaitkan dengan posisisnya >sebagai Presiden RI. Itulah sebabnya, saya pun berhati-hati >dalam menuliskan kalimat saya. Yaitu, Presiden Wahid [bukan >Gus Dur]. > >Saya mulai mengkritik AW hanya setelah ia menjadi RI-1. >Ketika AW masih sebagai NU-1, saya tidak ambil pusing apa >yang dilakukannya. Saya tidak ambil pusing krn saya tak >punya hak melakukan kritik itu. Sebab, apa yang dilakukannya >tidak akan mempengaruhi kehidupan saya [bukan warga NU]. > >Tetapi saat ini AW adalah RI-1. Apa yang ia putuskan dan >lakukan akan mempengaruhi kehidupan saya dan anak-anak saya. >Dan oleh karenanya, saya merasa perlu menyampaikan kritikan >bila apa yg dilakukan Presiden Wahid menyimpang dari jalur. > >Kritikan kepada Presiden RI --yg kebetulan dijabat oleh tokoh >NU-- tidak seharusnya membuat warga NU tersinggung atau marah. >Warga NU boleh marah jika yang dilakukan thd Presiden --yang >kebetulan tokoh NU-- itu upaya memfitnah. Warga NU juga tak >perlu memberikan dukungan "tanpa reserve" atas ke-presiden-an >AW, seolah Presiden Wahid adalah pemilik negeri ini [raja], >yang karenanya pantang dijatuhkan secara konstitusional. > >Presiden hanyalah manager negara. Itu jabatan sifatnya >sementara, sepanjang sang manager masih dianggap mengelola >itu negara oleh para pemegang saham perusahaan RI. > >Kritikan thd Presiden sering disikapi secara pribadi, seolah >kritikan itu dilakukan untuk menyerang pribadi AW. Padahal yg >dilakukan adalah kritikan kepada Presiden RI --yang kebetulan >sedang diduduki tokoh NU. > >Mestinya... > >Dalam benak saya, warga NU adalah bagian dari masyarakat >yang mempunyai pendalaman agama [Islam] di atas rata-rata >orang Indonesia. Yang karenanya, saya juga berpikir, mereka >[warga NU] faham terhadap apa yang pernah diungkap oleh >Imam Ghozali tentang menyikapi kritikan. > >Dalam bukunya "Keajaiban Hati" Imam Ghozali menulis ada >empat cara untuk memperbaiki diri: > >[1] Dengarkan nasihat guru yang budiman. >[2] Dengarkan nasihat kawan sejati. >[3] Dengarkan apa kata orang yang membencimu. >[4] Banyaklah bergaul dengan masyarakat. > >Guru budiman dan teman sejati akan mampu memberikan nasihat >yang mungkin terdengar pahit sekalipun di telinga kita. >Belakangan ini banyak kritik dilemparkan oleh berbagai >kalangan thd pemerintahan Presiden Wahid. Mengapa warga >NU tidak menyikapi kritik itu sebagai nasihat dari teman >sejati? > >Teman sejati adalah teman yang mampu memberikan nasihat >meski terdengar pahit. Tapi kalau diperhatikan nasihat >itu akan menyelematkan mereka yg diberi nasihat. Teman >palsu adalah teman yang masing sanggup "berhaha-hihi" >meski kita sudah berada di tepi jurang kehancuran. > >Saya menyesalkan tindakan yang berlebihan dari para >pendukung AW...sampai terlontar kalimat "mengasah pedang" >dalam menanggapi gencarnya kritikan thd Presiden Wahid. > >Menurut saya, bukan begitu bernegara yang baik. Mestinya, >para pendukung AW menyaring semua kritikan itu dan mengolahnya, >kemudian diambil mana yang bisa memperbaiki kinerja Presiden. >Semakin banyak yang mengkritik, akan semakin baik. Itu menurut >logika saya. > >Kemarin saya kirimkan "cerpen" yang belum jadi dengan harapan >saya mendapat kritikan dari kawan-kawan. Kritikan itu saya >perlukan agar saya bisa melihat apa yang selama ini tak sempat >saya lihat. Hasil akhirnya adalah meningkatnya kualitas cerpen >itu setelah banyaknya kritikan yang masuk. Nah...mengapa kita >tak bisa melihat kritikan sebagai modal besar untuk memperbaiki >diri? [Note: saya membedakan antara kritikan dan fitnah]. > >Musuh... > >Kalau pun para pengkritik itu dianggap benci thd Presiden >Wahid. Kritikannya justru merupakan masukan yang sangat >berharga thd perbaikan kinerja Presiden. Mengapa demikian? > >Karena musuh kita adalah orang yang pertama kali melihat >kesalahan yang kita lakukan sebelum kawan-kawan kita sempat >melihatnya. Sebab, memang tugas para musuh itu mencari-cari >kesalahan kita. Jika mrk yang dianggap musuh itu melakukan >kritikan, ini --menurut saya-- justru merupakan obat manjur >bagi Presiden. Ketika mereka melakukan kritik --dengan kaca >mata lain-- saya menilai para musuh itu sedang memberi tahu >presiden mana yang tidak benar. Presiden setelah menampung >dapat segera memperbaikinya. > >Sikap musuh yang berbahaya bagi kita adalah...ketika ia >menemukan kesalahan kita, mereka tidak mengkritik. Tapi >menyimpannya baik-baik dan menggunakannya untuk menjatuhkan >kita di saat kita tak pernah memikirkannya. > >Berangkat dengan pemikiran spt itu, bila saya anggota NU, >atau pendukung berat AW, saya akan sangat berterima kasih >kepada orang-orang yang oleh NU digolongkan membenci AW. > > >Penutup... > >Saya tidak pernah menggolongkan diri saya sebagai orang NU, >Muhammdiyah, atau ormas Islam lain. Saya adalah saya [Usman >Kris Joko Suharjo], muslim titik. > >Tanggapan-2 saya thd beberapa tokoh RI semata-mata didorong >oleh keinginan memberikan tempat hidup yang lebih nyaman buat >anak-anak dan cucu saya. Di angan-angan saya, Indonesia mestinya >bisa menjadi negara besar spt Amerika yg hukum memang menjadi >penglima. Di Amerika juga, para food-scientist berjuang agar >cara menyembelih ayam dan daging lain dilakukan menurut syariat >Islam. Sebentar lagi nanti akan ada daging ayam kalkun [turkey] >yang berlabel Halal. > >Di Amerika hal ini bisa terwujud krn masyarakatnya sangat >menghargai hukum. Dan hukum tertinggi Amerika mengamanatkan >perlakuan yang sama kepada setiap warga negara. Salah ujud >perlakukan sama itu adalah penghargaan/pengakuan ke-islam-an >muslim Amerika dengan diloloskannya syarat halal meat bagi >muslim. > >Di Amerika muslim menjadi minoritas, tetapi pemerintah sangat >menghargai hak hidup muslim Amerika. Mengapa di Indonesia yang >muslim mayoritas keadaannya justru memprihatinkan? Salah sumber >bencana itu --menurut saya-- adalah tidak ditegakkannya hukum >secara murni dan kosekuen. Presiden mempunyai posisi strategis >dalam memberikan contoh penegakkan hukum ini. > >Itulah sebabnya, kekeliruan presiden dalam praktek kenegaraan >patut menjadi sorotan segenap warga RI. Ini tidak berarti orang >lain boleh melanggar hukum. > >Pada alinea terakhir ini saya menghimbau kepada semua warga >NU dan/atau pengagum dan pendukung AW, marilah kita saling >berlomba menjadikan Presiden Wahid sebagai Presiden yang >baik. Biarlah kami mengontrol melalui kritik, saudara-saudara >memperbaiki dari dalam dengan "membisiki" Presiden demi >perbaikan Indonesia di masa yang akan datang. > >Kalau para pengagum sempat mengkoleksi semua tulisan saya >tentang Presiden Wahid, mestinya mereka tak akan "gusar" >atau marah dengan apa yang saya tulis. Krn salah satu tulisan >saya adalah memberikan dukungan atas kursi kepresidenannya. >Saya menulis, Presiden Wahid jangan diturunkan, biarlah >kalau harus turun itu karena kesalahannya yang dia lakukan >[baca: secara konstitusional]. > >Wassalam, >=Usman Maine= >"Lord opens > our eyes to see what is beautiful, or > our minds to know what is true, or > our hearts to love what is good" > >-------------------------------------------- >Usman Kris Joko Suharjo >Dept. of Applied Ecology and Environmental Sciences >University of Maine >Deering Hall, Orono, ME 04469 >USA >phn: 207-866-0680 >fax: 207-581-2999 >Email: [EMAIL PROTECTED] >----------------------------------- ________________________________________________________________________ Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com ->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
