Mas Daniel,

Marilah kita mencoba untuk menghormati AR sebagai manusia yang
memiliki barbagai permasalahan didalam dirinya.

Beliau sebagai tokoh sentral pada saat itu bahkan beliau pula yang
berbicara di TV untuk mengajak masyarakat dan mhs di Jakarta untuk
tidak datang ke Monas agar korban tidak jatuh.

Di Ciganjur, beliau juga merupakan satu diantara 4 tokoh yang
diharapkan dapat menyelesaikan atau membawa perubahan.

Ketika kampanye mulai dan debat dilakukan, diantara Yusril,
Bintang, Didin, beliau yang paling menonjol. Bahkan kedatangannya
di UI yang telambat pun disambut dengan gegap gempita.

Dengan motto PAN Partai terbuka dengan motor beliau banyak
tokoh-tokoh agama dan etnis Tiong Hoa menaruh harapan dimana di
Yogya mereka tampil dengan menggandeng tokoh-tokoh agama. Setiap
kali kampanye besar harapan bahwa PAN akan menang dan AR akan
menjadi Presiden. Bahkan mediapun mulai mewawancarai Istri beliau
mengenai kesiapannya untuk menjadi Ibu Negara.

Ketika hasil Pemilu dihitung, PAN ternyata hanya memperoleh 7%.
Beberapa orang mulai menyarankan agar AR sebaiknya kembali ke
kampus. Namun, keajaiban politik cantik telah mengantar beliau ke
kursi Ketua MPR. Bagaimanapun juga, ide untuk menaikkan GD adalah
ide beliau. Bahkan di detik terakhir sebenarnya beliau memiliki
peluang untuk mendampingi GD dan MW dalam pemilihan presiden.
Banyak pernik-pernik disekitar keajaiban itu yang mungkin secara
tidak langsung mempengaruhi.

Mungkin seandainya, AR kembali ke kampus pada saat itu, beliau
akan dikenang dan ucapannya akan diperhatikan.


----- Original Message -----
From: Daniel H.T. <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, July 08, 2000 12:08 AM
Subject: [Kuli Tinta] Senggolan Berita (080700)



* AR bilang: Gus Dur harus puasa bicara agar suhu politik
Indonesia tidak
kian panas

= Yang bikin panas bukan cuma GD seorang. Para elit politik lain
juga harap
tahu diri. Termasuk AR

* AR bilang: GD (pemerintah) tidak bisa memanggil dan memeriksa
dirinya.
Karena dia Ketua MPR
Justru dia (Ketua MPR) yang sewaktu-waktu berwenang memanggil dan
memeriksa
GD sebagai Presiden

= Berarti masih ada yang superman di dunia hukum di negara ini.
= Berarti UU tentang MPR harus diubah.
= AR lupa kalau MPR itu merupakan suatu _lembaga _ (tertinggi),
dan MPR itu
bukan identik dengan dirinya sebagai Ketua MPR Jadi, keputusan MPR
harus
merupakan keputusan lembaga (rapat paripurna). Sebagai Ketua bukan
berarti
menjadi superior/penentu. AR tidak berwenang memanggil/memeriksa
Presiden.
Yang berwenang adalah MPR sebagai lembaga tertinggi negara.




->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!















->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke