Yang saya komentari adalah keadaan terkini. Bukan masa lalu. Kalau suasana
sudah panas, terus para elit politiknya seolah-olah saring berebutan memberi
komentar2 yg semakin membikin panas (dng pilihan kata2 yang sarkastis,
misalnya),  apakah ini akan menolong?
Dng cara mereka seperti ini, maka tak heran sebagian org malah curiga bahwa
komentar2/pernyataan2 mereka tak lepas dari ambisi politik pribadi dan
golongan (lepas dari itu benar atau tidak).
Misalnya dlm kasus "Gubernur BI Syahril Sabirin vs GD", tega2-nya ada yg
berkomentar (menyarankan?) agar BI membalas tindakan GD dng melakukan
penyetopan kliring, atau membiarkan rupiah terus terperosok! Apakah ini
manusiawi? Jika "saran" itu dilakukan, misalnya, penyetopan kliring -- bisa
dibayangkan betapa kacau-balau dan hancurnya perekonomian negara ini.
Apalagi dng sengaja membiar rupiah tambah terperosok demi membalas tindakan
GD (pemerintah) menahan Syahril. Untung ide gila ini segera mengdapat reaksi
keras dari Deputi BI Anwar Nasution.

Soal AR memberi komentar bahwa dia tak bisa dipanggil dan diperiksa karena
dia Ketua MPR jelas merupakan pernyataan yang menyesatkan. Karena sesuai dng
ketentuan yg ada, yg namanya anggota termasuk Ketua MPR pun bisa diperiksa
polisi/kejaksaan, melalui prosedur izin presiden.

Tempo hari juga AR pernah mengatakan bahwa dia menjamin sepenuhnya SU MPR
tdk akan menjadi SI MPR. Seolah2 dng menjadi Ketua MPR, AR menjadi superman
dalam ketatanegaraan Republik ini. Bagaimana dia bisa bahwa dia menjamin
itu, kalau yg memutuskan hal2 seperti itu bukan individu tertentu, sekalipun
Ketua MPR. Kewenangan MPR sebagai lembaga tertinggi negara adalah kewenangan
institusi, bukan kewenangan orang per orang.

----- Original Message -----
From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, July 08, 2000 7:03 AM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Senggolan Berita (080700)


> Mas Daniel,
>
> Marilah kita mencoba untuk menghormati AR sebagai manusia yang
> memiliki barbagai permasalahan didalam dirinya.
>
> Beliau sebagai tokoh sentral pada saat itu bahkan beliau pula yang
> berbicara di TV untuk mengajak masyarakat dan mhs di Jakarta untuk
> tidak datang ke Monas agar korban tidak jatuh.
>
> Di Ciganjur, beliau juga merupakan satu diantara 4 tokoh yang
> diharapkan dapat menyelesaikan atau membawa perubahan.
>
> Ketika kampanye mulai dan debat dilakukan, diantara Yusril,
> Bintang, Didin, beliau yang paling menonjol. Bahkan kedatangannya
> di UI yang telambat pun disambut dengan gegap gempita.
>
> Dengan motto PAN Partai terbuka dengan motor beliau banyak
> tokoh-tokoh agama dan etnis Tiong Hoa menaruh harapan dimana di
> Yogya mereka tampil dengan menggandeng tokoh-tokoh agama. Setiap
> kali kampanye besar harapan bahwa PAN akan menang dan AR akan
> menjadi Presiden. Bahkan mediapun mulai mewawancarai Istri beliau
> mengenai kesiapannya untuk menjadi Ibu Negara.
>
> Ketika hasil Pemilu dihitung, PAN ternyata hanya memperoleh 7%.
> Beberapa orang mulai menyarankan agar AR sebaiknya kembali ke
> kampus. Namun, keajaiban politik cantik telah mengantar beliau ke
> kursi Ketua MPR. Bagaimanapun juga, ide untuk menaikkan GD adalah
> ide beliau. Bahkan di detik terakhir sebenarnya beliau memiliki
> peluang untuk mendampingi GD dan MW dalam pemilihan presiden.
> Banyak pernik-pernik disekitar keajaiban itu yang mungkin secara
> tidak langsung mempengaruhi.
>
> Mungkin seandainya, AR kembali ke kampus pada saat itu, beliau
> akan dikenang dan ucapannya akan diperhatikan.
>
>
> ----- Original Message -----
> From: Daniel H.T. <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Saturday, July 08, 2000 12:08 AM
> Subject: [Kuli Tinta] Senggolan Berita (080700)
>
>
>
> * AR bilang: Gus Dur harus puasa bicara agar suhu politik
> Indonesia tidak
> kian panas
>
> = Yang bikin panas bukan cuma GD seorang. Para elit politik lain
> juga harap
> tahu diri. Termasuk AR
>
> * AR bilang: GD (pemerintah) tidak bisa memanggil dan memeriksa
> dirinya.
> Karena dia Ketua MPR
> Justru dia (Ketua MPR) yang sewaktu-waktu berwenang memanggil dan
> memeriksa
> GD sebagai Presiden
>
> = Berarti masih ada yang superman di dunia hukum di negara ini.
> = Berarti UU tentang MPR harus diubah.
> = AR lupa kalau MPR itu merupakan suatu _lembaga _ (tertinggi),
> dan MPR itu
> bukan identik dengan dirinya sebagai Ketua MPR Jadi, keputusan MPR
> harus
> merupakan keputusan lembaga (rapat paripurna). Sebagai Ketua bukan
> berarti
> menjadi superior/penentu. AR tidak berwenang memanggil/memeriksa
> Presiden.
> Yang berwenang adalah MPR sebagai lembaga tertinggi negara.
>
>
>
>
> ->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> ->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>


->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke