On Wed, 12 Jul 2000, Daniel H.T. wrote:

> > WAM:
> > Dictum politik mengatakan, tak ada musuh atau kawan sejati. Dan itu betul.
> > Apakah nanti dekat Pemilu jadi musuh atau kawan? Sangat situasional.
 
> Daniel:
> Kalau gitu pernyataan itu bohong, ya, Mas?

WAM:
Pernyataan yang mana?
Jangan menyamakan ilmu politik dengan ilmu eksak.
Saya pernah bilang, dalam politik, kalau perlu maling itu berteriak paling
keras. Artinya, kita nggak pernah punya cara yang jitu untuk menentukan
_apa siapa_ seseorang/kelompok.

> > WAM:
> > Konsisten yang mananya? Saya yakin kok, semuanya konsisten dengan
> > tujuannya. Soal cara, bisa jadi nggak ada yang konsisten. Namanya juga
> > politik. (ANyway, PDI-P sudah belajar bahwa _tidak ada musuh atau kawan
> > sejati_. Buktinya, PKB akhirnya milih mbah Dur).
 
> Daniel:
> Namanya juga politik ... Saya jadi teringat pemeo: "politik itu jahat"
> Tapi, saya mau tanya yg jahat itu politiknya, atau manusianya?
> Terus, apakah di negara2 lain (baca: maju) para politikusnya juga
> kelakuannya seperti politikus kita???

WAM:
Yang jahat politiknya atau manusianya? Tentu saja, manusianya. Tapi, kalau
tidak ada politik, tidak ada manusia jahat. Jadi, keduanya berperan. 

Kelakuan politik di negara lain? Siapa bilang mereka tidak jahat. Minimal,
dalam kaitan hubungan antar negara, saya lihat bahwa negara Barat (dalam
hal ini, dianggap sebagai politisinya) amat egois. Mau menangnya sendiri.
Mau untungnya sendiri. Apakah ini bukan cerminan sifat politisi (Barat)?
Jika mereka bukan politisi jahat, tentu mereka tidak mau menang atau
untung sendiri.



->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke