On Thu, 13 Jul 2000, Agus Susanto wrote:
> Wangsit, ee...wangsit...Wisnu (WAM, inisial "provokator" di millist-millist
> umum), ini ada cerita menarik di kalangan elite NU......ketika Syafi'i
> Ma'arif (sekarang Ketum-mu, eee...Muhammadiyah, Cing....) lagi menempuh
> belajar di Chicago sana....
WAM:
Provokator kek, apa kek, yang penting saya tidak menganjurkan orang saling
bunuh-bunuhan atau merugikan orang lain. Adalah hak demokrasi saya untuk
bicara menurut apa yang saya anggap benar. OK?
> Dia lama sekali ingin punya anak tapi lama juga nunggu belum dikaruniai
> anak ...terus dibilangin sama salah seorang tokoh NU yang kebetulan di
> sana (?), bahwa kalau di NU pada saat orang hamil ada istilah
> 'tingkepan' atau 'tujuh bulanan'.....
> Nach, kemudian si Syafi'i tertarik cerita itu lalu bernadzar, kalau nanti
> isterinya hamil, dia akan melakukan acara
> tujuh-bulanan.....eee...ternyata Allah Maha Mendengar, tak lama kemudian
> isteri Syafi'i positif hamil. Dan dia pun kemudian melakukan ritual
> 'tingkepan' seperti umumnya yang dilakukan orang NU....
WAM:
Itu kan kisah _katanya_ yang bisa benar atau tidak.
Lalu, apakah bisa disimpulkan bahwa tingkepan=bikin hamil?
Seandainya waktu itu ada kucing kawin, apa terus bisa disimpulkan bahwa
kucing kawin= orang bisa hamil? Nggak ada urusannya nadzar tingkepan
dengan kehamilan. Kalau begitu, kenapa orang mesti repot-repot pergi ke
dokter kandungan? Pembodohan macam begitu yang membuat kita nggak
pinter-pinter.
> Itulah kenapa sampai sekarang, konon kabarnya Syafi'i itu punya hubungan
> yang baik dengan elite NU, tidak seperti yang lainnya itu (yang munafik
> itu lho...dulu bilang pemimpin wanita haram sekarang jadi halal....:-)
WAM:
Konon kabarnya dulu ada Nyai Roro Kidul.
Berita konon kabarnya kok anda percaya.
Kalaupun Syafii Maarif punya hubungan baik dengan orang NU, siapa bisa
membuktikan bahwa itu karena masalah tingkepan?
> Ealah wis embuh......yo itulah hidup, Wisnu....sak karepmu-lah, bah paling
> Islam sendiri yo wis sak karepmu, Tuhan sing nilai.....
WAM:
Benar, Tuhan yang akan menilai.
Namun, sebagai manusia yang dikaruniai pancaindera, kita juga bisa menilai
benar tidaknya kita melaksanakan ajaran agama kita. Menyerahkan penilaian
ibadah kita kepada Alloh tidak sama dengan membiarkan segala macam bid'ah
atau syirik. Yang jelas dilarang agama.
> Salam,
> Salam,
> Agus Abdurrahman
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!