KOMPAS ONLINE
Selasa, 18 Juli 2000, 13:47 WIB
George Aditjondro Tunjuk Kelompok Terlibat Konflik
Maluku
Canberra, Selasa
Dosen Universitas Newcastle Australia George
Aditjondro menuduh banyak
kelompok terlibat dalam konflik bernuansa SARA di
Maluku termasuk
mantan Panglima TNI Jenderal Wiranto dan mantan
Menteri Keuangan
Fuad Bawazier.
Tuduhan Aditjondro yang selama ini dikenal sebagai
pemburu harta
mantan Presiden Soeharto itu termuat dalam artikelnya
di Sydney
Morning Herald (SMH), Selasa.
Menurut mantan aktivis yang migrasi ke Australia itu,
kerusuhan
antar agama di Maluku pertama muncul Januari 1999
direncanakan dengan
baik oleh kelompok pasukan TNI yang loyal dengan
mantan Presiden
Soeharto.
Awalnya kelompok itu mempunyai dua tujuan. Pertama
ingin
menggoyang kekuatan Megawati Soekarnoputri yang
menjadi calon
presiden terkuat menggantikan BJ Habibie.
Kedua, menciptakan kerusuhan di daerah-daerah di mana
Jenderal
Wiranto ingin menghidupkan kembali kekuatan
Kodam-Kodam.
Para pemimpin agama Islam maupun Kristen di Ambon,
lanjutnya,
sudah lama ingin menyudahi pertikaian dengan jalan
damai mengingat
sudah banyak korban yang jatuh.
Tetapi, menurut dia, dua perwira intelijen dari Kodam
XVI
Pattimura yaitu Kolonel Budiatmo dan Kolonel Nono
berusaha
memelihara konflik tersebut.
Kolonel Budiatmo, katanya, tetap menjalin hubungan
dengan milisi
Kristen di Ambon, sedangkan Kolonel Nono dengan milisi
Muslim yang
belakangan diperkuat dari Jawa dan Sulawesi Selatan.
Ia juga menyatakan, ada dua kelompok lain yang juga
terlibat
konflik di Maluku. Pertama, kelompok radikal Muslim
yang beroposisi
dengan Presiden Abdurrahman Wahid. Mereka mendapat
dukungan dana
dari mantan Menkeu Fuad Bawazier.
Kelompok kedua terdiri dari konglomerat Indonesia yang
memetik
keuntungan dari kerusuhan di Maluku, di mana mereka
dapat lari dari
kewajiban membayar utang triliunan rupiah kepada
Perbankan
Indonesia.
Konglomerat yang termasuk dalam kelompok ini, kata
Aditjondro,
kebanyakan kelompok perusahaan yang dekat dengan
keluarga Soeharto
yaitu Jayanti, Barito Pasifik, Sinar Mas dan Artha
Graha.
Jayanti dan Sinar Mas juga menjalin kerjasama dengan
perusahaan-perusahaan Australia, katanya.
Lewat tulisan berjudul "Wiranto fans Ambon's flames",
George
Aditjondro nampaknya juga ingin "mengobarkan" simpati
publik Negara
Kanguru atas konflik di Maluku.
Dikatakannya, perang agama sejak 18 bulan lalu yang
telah
menewaskan 3.000-10.000 jiwa sejauh ini kurang menarik
perhatian
publik Australia di luar lingkaran gereja.
Walaupun faktanya lebih dari 1.100 tentara Australia
pernah
dikirim ke Ambon dalam Perang Dunia II untuk menahan
invasi Jepang dan
ratusan dikubur di makam pahlawan dekat Universitas
Patimura,
tulisnya.(Ant/jy
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!