>From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
>Date: Tue, 18 Jul 2000 21:06:20 +0700
>
>Lho... yang di Pati itu mBah....
>SD, SMP dan SMU tidak bisa sekolah dan orang tuanya sudah tideak memiliki 
>apa-apa lagi. Coba bayangkan, dosa macam apa (kalau mengenal) yang telah 
>dilakukan olah para perusak bejat itu?

Poirot:
kok enggak dong aku arah tulisannya kemana :)
Eh..dari dulu banyak kok orang tak bisa sekolah.
Enggak hanya sekarang saja. yang perlu kan bukan
marah dan memakinya itu toh mas...tapi bagaimana
menolong mereka yang tak bisa sekolah itu menjadi
bisa sekolah.

Tidak semua perusak itu bejat loh. Lihat perusak
patung berhala itu --Nabi Ibrahim. Sebut saja
perusak mas, enggak usah ditambaha bejatnya.
kalau ada orang yang merusak...kita mbok ayo tak
usah memaki-maki. tapi bantuin mereka yang tak
beruntung krn tertimpa bencana itu

>Kemarin, hari minggu sekelompok anak mudah merusak mobil-mobl yang 
>pemiliknya sedang mengikuti misa di Gereja Kota Baru. Tujuannya sudah 
>jelas, kriwikan dadi grojogan seperti
>kasus Ambon itu. Untung Yogya sudah dicobai berkali-
>kali namun tidak pernah berhasil.

Poirot:

wah mas...sampeyan mbok ya slow down dikit. Kok terus
semua kasus kriminal diarahkan ke sana. Ini mah sampeyan
malah ikut menyiram minyak. Apalagi dng kata "jelas".
Weh...sampeyan juga wartawan kan? Better di-check dulu
para pelaku itu.

>Ketika dua orang ditangkap mereka mengatakan bahwa
>mereka hanya ikut-ikutan teman dan malu kalau orang tuannya sampai tahu. 
>Mai bilang apa kita kalau sudah seperti ini?

Poirot:

Mas...apakah anak-anak itu memang bermaksud membuat
onar spt kasus Ambon? apakah mereka memang berkata
begitu? atau...mereka sebenarnya hanya anak iseng
yang lagi kelebihan energi?

Krn sekarang keadaan lagi tak nyaman, ada baiknya
kalau setiap kasus kriminal diusut secara kriminal
dulu. Bila memang ada muatan hasut-menghasutnya,
polisi bisa mencari orang yang main di belakang
mereka.

Tapi state of mind kita tetap harus jernih.
Bila tidak, bisa menambah kacau situasi.

Saya beri contoh:

Seorang kawan kehilangan sandal yang baru dibelinya
ketika sholat Jum'at di Masjid kampus UNILA. Padahal
sandal itu tepat di belakangnya [kami datang terlambat].
Semua orang Sholat di depan kami. Ketika selesai kami
orang pertama yang bisa meraih sandal. Tapi sandal
kawan itu kok ilang? Lalu siapa yang ambil?

Kesimpulan kawan itu, yang ambil adalah orang yang
tidak sholat. Bahkan sambil terus marah-marah dia
menuduh salah satu penganut agama, dengan kalimat
begini: "Pak Usman, mereka sengaja membuat orang
Islam anti pergi ke masjid."

Tentu saja saya kaget mendengar kalimat itu. Saya
pun berusaha menenangkan dengan logika yang bisa
diterimanya. Saya juga tunjukkan kalimatnya itu
sangat berbahaya krn kita tak pernah tahu siapa
yang sebenarnya mengambil. Kesimpulannya kalau
yang mengambil itu "orang yng tidak sholat"
memang merupakan the best educated guess
berdasarkan kondisi objective saat itu.
Tapi saya tetap tak setuju dengan tuduhannya.

Kalau ada kawan yang mau konfirmasi cerita ini,
bisa bicara langsung dengan ybs. Dia dosen
Universitas Sriwijaya. Bila ada yang serius,
saya bisa berikan namanya lewat japri.

Nah mas/mbak Aswat...kesimpulan sampeyan dengan
kata "jelas" itu sama bahayanya dengan kesimpulan
kawan saya itu.

Wassalam,
+++Poirot
________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com


->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke