Benar pak Hasan bahwa tontotan demokrasi sekarang tersebar
dimana-mana. Tadi pagi ketika aku lewat bunderan UGM, aku
terhenyak dengan tulisan spanduk besar "AWAS BAHAYA LATEN ORBA"

Dulu yang selalu mengatakan "AWAS BAHAYA LATEN KOMUNIS" adalah
pemerintah dan ABRI.

demokrasi itu memang indah sehingga rakyat bisa menempatkan
tokoh-tokoh Orba di lembaga Perwakilan meskipun kita juga
mengetahui bahwa mereka duilu adalah bagian dari pilar-pilar
kekuasaan yang menyangga Soeharto. Nah, ketika pemerintahan orba
runtuh yang ditandai oleh lengsernya Soeharto maka mereka pada
"tinggal glanggang colong payu" dan akhirnya kembali ke lembaga
perwakilan dengan seakan-akan bersih dari masa lalu.


----- Original Message -----
From: Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, July 20, 2000 7:46 PM
Subject: [Kuli Tinta] LUAR BIASA ! !


Nonton pentas DPR pagi ini betul-betul pengalaman luarbiasa. "
Kami kecewa !
Kearifan yang kami harapkan lahir dari saudara presiden sama
sekali tidak
ada ! Anda cuma datang dengan petentang-petenteng , nantang sini
nantang
sana.....". " Kami mengharapkan kearifan Umar bin Khottob dari
seorang kyai
seperti saudara, tapi.... ". Para wakil PDIP pun tidak geblek
politik
seperti waktu mimpi melamun Mega gampang naik tahta dulu.
Pelesetan wakil
PDIP yang memanggil wakil Presiden dengan Ibu Presiden , terasa
menyegarkan
dan amat kreatif dan amat menjewer sang kiayi.

Demikianlah. Maka karyawan segenap rakyat negeri, sang presiden,
selama
berjam-jam dipaksa mengunyah permen karet yang amat pahit.
Dijewer, di
tuding, di jewer lagi , di jitak, kemudian dijewer dan dimarahi
terus-terusan. Alhamdulillah. Semua orang boleh sedikit tambah
yakin.
Demokrasi mungkin bisa lahir di negeri ini. Seorang presiden pun
bukan lagi
seorang Sultan yang mesti selalu diasapi dupa bak keris buatan mpu
Gandring.
Presiden Indonesia kalau tidak perform atau awur-awuran atau nggak
mau
repot-repot bakal di genjot abis. Dan bisa dibuang kedalam sampah
kalau
memang terbukti cuma sampah. Alhamdulillah.

Pentas tadi pagi sebelumnya cuma bisa ditonton di sudut kampus,
dari mulut
mahasiswa "urakan", rendra atau sebaran gelap yang di uber-uber
intelijen.
Kali ini pentas itu adalah pentas legal nyata yang ditonton rakyat
luas.
Maka sudah tentu Megawati atau siapa saja yang berani kepingin
jadi presiden
mendapatkan semacam "kuliah kerja nyata" : Jangan main-main dengan
amanat
yang satu ini !  Jaman ini bukan lagi jaman main kayu, sambil main
membohongi banyak orang seperti jaman Bung Karno atau jaman
Suharto !  Jaman
sudah ganti , bung ! Mudah2an semua yang belum kelewatan gebleg
bisa belajar
dan bisa paham.

Luar biasa ! Tapi semuanya baru permainan pembukaan. Bagaimana
kelanjutan
permainan tengah dan akhirnya, cuma bisa kita tunggu disertai
harap-harap
cemas.

Wassalam
Abdullah Hasan




->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!














->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke