>From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: Re: [Kuli Tinta] LUAR BIASA ! !
>Date: Thu, 20 Jul 2000 20:36:02 +0700
>Benar pak Hasan bahwa tontotan demokrasi sekarang tersebar
>dimana-mana. Tadi pagi ketika aku lewat bunderan UGM, aku
>terhenyak dengan tulisan spanduk besar "AWAS BAHAYA LATEN ORBA"
Poirot:
Orang yang pertama mengungkap kalimat itu, dan diekspos
media adalah Amien Rais. Saya sempat melemparkan kritik
di www.pan.org. yang membuat saya dicap sebagai antek
Orba. Voila...saya hanya kasihan dengan mereka yang
memberi saya cap "antek Orba" hanya karena saya
terlihat membela Orba saat mengkritik AR.
Kalau mau dihitung saya ini antek siapa berdasarkan
orang yang pernah saya bela di milist, maka saya ini
anteknya Mega, AR, KHAW, Soeharto, BJH, Prabowo. Itu
yang saya ingat. Tapi saya merasa bukan antek siapa pun.
Saya adalah antek diri saya sendiri.
Kalau kriteria antek seseorang diberikan krn ybs membela
suatu kelompok...ini bisa kacau. Sebab, suatu kali saya
bisa saja membela AR, dilain waktu saya mengkritiknya.
Sebenarnya kalau dilihat secara teliti, yang saya bela/
kritik bukan mereka sebagai pribadi, tapi apa yang mereka
lakukan.
>Dulu yang selalu mengatakan "AWAS BAHAYA LATEN KOMUNIS" adalah
>pemerintah dan ABRI.
Poirot:
Saya juga prihatin dengan label ini. Gara-gara seruan itu
banyak orang tak berdosa harus menanggung akibat. Seorang
kawan terpaksa dipecat dari dosen krn ketahuan ayahnya tokoh
PKI golongan B. Teman main saya jadi "putus asa" dan tak
mau teruskan kuliahnya di Biologi UGM karena sadar ia tak
akan bisa bekerja setelah ayahnya ketahuan dulu ia tokoh
PKI. Seorang kawan --wartawan-- terpaksa mutus cinta tak
berani nikah krn ayah si cewek tersangkut PKI.
Ketika kawan itu minta saran saya bilang. "Kalau tak ada
perubahan politik, yg kasihan nanti adalah anakmu. Mereka
harus naggung dosa kakeknya. Kamunya sendiri sih tak apa-
apa. Bukan PNS. Tapi apa kamu sanggup melihat anakmu
harus menderita karena dosa politik kakeknya?"
Akhirnya kawan itu milih mundur. Kasihan saya
melihatnya.
Di masa yad...
Ada baiknya kalau kita bisa menyikapi secara objektif
apa yang tengah terjadi. Dalam kasus Golkar, ia sebagai
penguasa orba memang punya andil yang sangat besar thd
hancurnya republik ini. Tapi kita juga harus mau melihat
ke dalam, bahwa kita pun berperan di dalamnya. Peran
kita adalah dengan tak berani bersuara ketika kesempatan
itu ada. Kalau sekarang kita memaki-maki cak Suhar yang
sudah tak berdaya itu...buat saya itu bukan sikap seorang
ksatria. Cak Suhar mengingat namanya sendiri saja mungkin
sekarang sudah kesulitan.
Bahwasanya sekarang Orba sudah jatuh patut kita syukuri.
Bahwa Golkar dulu penguasa Orba itu memang benar. Tapi
jangan karena hal ini lantas kita selalu menafikan apa
yang disuarakan Golkar dalam mengkritisi pemerintahan
Presiden Wahid. Seorang pelacur yang mengatakan bahwa
ada maling mencuri uangnya, tidak boleh lantas diabaikan
karena ia -in fact- pelacur. Yang penting adalah substansi
yang dilempar itu ada relevansinya atau tidak. Bila yang
dikritisi Akbar tentang Presiden Wahid, memang mengandung
kebenaran, mengapa kita mengungkit kesalahan Golkar?
Kalau sikap itu yang kita kembangkan, kita semua akan
menjadi anak kecil. Ketika dikritik karena melakukan
kekeliruan, kita akan membalas kritikan dengan memojokkan
pengkritik "walah kayak lo orang suci". Nah, jadinya kita
kehilangan kesempatan memperbaiki diri.
>demokrasi itu memang indah sehingga rakyat bisa menempatkan
>tokoh-tokoh Orba di lembaga Perwakilan meskipun kita juga
>mengetahui bahwa mereka duilu adalah bagian dari pilar-pilar
>kekuasaan yang menyangga Soeharto. Nah, ketika pemerintahan orba
>runtuh yang ditandai oleh lengsernya Soeharto maka mereka pada
>"tinggal glanggang colong payu" dan akhirnya kembali ke lembaga
>perwakilan dengan seakan-akan bersih dari masa lalu.
Poirot:
Bagaimana kalau kita sikapi secara positif.
"...Oh mereka sekarang sedang bertobat dan akan
memperbaiki diri dengan menjalankan tugasnya
secara baik --sbg wakil rakyat...".
Tentang sikapnya seolah-olah bersih dari masa lalu, biarkan
saja. Bukankah sekian juta pasang mata menjadi saksi apa yang
mereka perbuat di masa lalu. Yang perlu kita lihat adalah
apakah yang ia lakukan sekarang bermanfaat bagi bangsa atau
tidak.
Sebab kalau kita berkutat ke masa lalu, kita akan kehilangan
kesempatan untuk memperbaiki kondisi. Ingat loh...Presiden
Wahid sendiri pernah jadi wakil Golkar di Parlemen. Artinya
ia juga orang Orba.
Wassalam,
+++Poirot
________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!