>From: "Usman Maine" <[EMAIL PROTECTED]> >Reply-To: [EMAIL PROTECTED] >To: [EMAIL PROTECTED] >Subject: [is-lam] Check-and-recheck >Date: Fri, 04 Aug 2000 17:28:47 GMT > >Assalamu'alaikum Wr.Wb. > >Apa yang saya ceritakan di bawah ini adalah beberapa >contoh perlunya melakukan re-check informasi. > >[1] Mengira > >Mahasiswa saya, Agus, batal menghadap pada jam >yang telah disepakati karena dia menyimpulkan saya >tidak ada di kantor. > >Pada hari berikutnya, anak ini tiba-tiba nyelonong minta >waktu untuk konsultasi. Saya agak kecewa dengan sikap >Agus karena kemarin saya menunggunya 3 jam di kantor >[dia tidak datang], kok sekarang nyelonong begitu saja >ketika saya harus melayani mahasiswa lain. > >Ketika saya tegur atas sikapnya yang seenaknya itu, >Agus bilang: "Saya kira bapak tidak di kantor." > "Jangan biasakan mengambil keputusan dengan informasi >berdasarkan perkiraan," kata saya agak jengkel. "Dari >mana kamu tahu saya tidak di kantor?" > "Habis waktu saya lewat rumah bapak, saya lihat mobil >dan motor bapak di rumah." > "Kamu baru boleh mengatakan aku tidak ke kantor setelah >kamu datang ke mari [kantor], dan saya tidak ada di sini. >Karena kendaraan saya di rumah kamu simpulkan saya juga >di rumah. Apa kamu juga akan berpikir saya tidur di >bengkel kalau mobil saya sedang ngingap di sana?" > Hari itu saya memang kurang sehat, sehingga saya >minta adik mengantar saya ke kampus. > >[2] Muslim kok makan babi. > >Saat lagi makan di kantin, saya over heard seorang sister >dari Bangladesh pesen sandwich "to go" [di bawa pulang]. >Salah satu kata yang saya dengar adalah "pepperoni". >Mendengar kata pepperoni saya mengerutkan kening. Karena >di dalam pipperoni itu ada "pork" nya. > >Saya mbatin, apakah sister ini sudah tak peduli dengan >larangan agama [tak boleh makan daging babi], atau ia tak >tahu kalau di dalam pipperoni ada daging babinya? > >Saya sempat tergoda untuk menceritakan apa yang saya dengar >hari itu ke brother lain [dari Bangladesh] untuk menasehati >si Sister. Tapi saya ragu-ragu antara bercerita kepada orang >lain, atau bicara saja sendiri ke itu Sister. > >Saat lagi makan siang di hari berikutnya, saya ketemu lagi >di kantin. Saya semeja dengannya. Pelan-pelan saya brought >up pipperoni itu. > "Sis, I overheard the other day you ordered sandwich with >pepperoni in it. I was wondering if you also know that... >you know...pepperoni has some pork in it." > "I know that," jawabnya ringan. "That sandwich was not >for me. It's for my roommate. But...thank for your concern >anyway." > >Mendengar jawaban itu legalah hati saya. Lega campur malu. >Malu karena telah punya dugaan yang enggak-enggak. Untung >saya bertanya lebih dulu sebelum sempat menyebarkan apa >yang saya dengar [bahwa Sister ini pesen makanan yang ada >daging babinya]. Saya tidak tahu apa yang bakal terjadi >kalau apa yang saya dengar waktu itu sempat menyebar di >antara muslim community di Maine. > >3. Orang Agronomi kok... > >Saya pernah menanam beberapa galur tomat harapan [GTH]. >Galur harapan adalah hasil persilangan yang siap di-release >jadi varitas unggul, tetapi masih memerlukan beberapa test >di lapangan. GTH, berarti galur tomat yang sebentar lagi >akan dirilist jadi varitas tomat unggul. > >Di sekitar lahan percobaan saya ada petak-petak mahasiswa. >Suatu hari pembimbing mahasiswa itu ke lapangan, dan sempat >melihat tanamat tomat saya yang "amburadul". > >Without asking me, atau looking for further information, >pak Dosen itu langsung memberikan penilaian: "Pak Usman ini >bagaimana sih, orang agronomi kok nanam tomat saja enggak >bisa. Mosok, tanaman diserang layu bakteri begitu didiamkan >saja." > >Di kampus saya mendengar issue kalau saya [usman] sebagai >peneliti tidak profesional, karena tanaman penelitiannya >tidak diurus. Saya bertanya-tanya tanaman di mana yang >tidak saya urus. Tanaman yang di rumah kaca hampir tiap >pagi dan sore saya lihat. Tanaman yang di kebun setiap >hari saya lihat. > >Belakangan saya tahu dari mahasiswa yang punya lahan >penelitian di sampaing tanaman tomat saya itu bahwa pak >Dosen itu pernah mengatakan kalimat spt yang saya tulis >di atas itu. > >Mendengar penuturan mahasiswa itu, saya jadi kaget. >Saya kaget sekaligus prihatin dengan kecerobohan pak >dosen [yang juga kawan saya sekantor itu] yang memberikan >penilaian thd apa yang dilihatnya di kebun tanpa bertanya >lebih dulu kepada saya. > >Penelitian saya itu memang menguji ketahanan galur-galur >tomat harapan itu thd serangan penyakit layu bakteri. Tomat >yang bisa hidup dengan baik dan berproduksi tinggi pada pada >saat tanaman lain mati terserang penyakit, itulah tomat yang >dicari. Yang akan dirilis jadi tomat unggul tahan penyakit >layu bakteri. Dan oleh karenanya saya memang tidak menyemprot >ketika sebagian tanaman itu menunjukkan gejala diserang penyakit >layu bakteri. > >Setelah tahu apa yang sebenarnya terjadi, saya jadi prihatin >dan kasihan thd sikap pak Dosen. Sebagai ilmuwan mestinya dia >tidak mudah menjatuhkan kata akhir [menyimpulkan] without >checking and asking lebih dulu. > >Pelajaran... > >Ketiga cerita di atas memberikan pelajaran kepada kita, >bahwa membuat dugaan/menarik kesimpulan terhadap suatu >peristiwa without checking-re-checking bisa berakibat >fatal. Apa yang saya paparkan di atas, memberikan >gambaran yang nyata thd terjadi kekeliruan pengambilan >keputusan krn kita tidak melakukan re-checking informasi. > >Kita mungkin tidak pernah berperilaku spt kasus nomor [1], krn >menurut kita, tindakan itu sangat very-very ceroboh. Tapi tanpa >kita sadari kita mungkin sering berperilaku spt kasus nomor [2] >dan nomor [3] itu. > >Kita biasanya tergoda untuk segera menyebarkan pengetahuan >baru yang kita miliki, tanpa care to re-check. > >Dalam kasus nomor [2], dengan bangga kita mungkin akan mengatakan: >"Wong saya dengar sendiri kok, dia mesen sandwich pakai pepperoni. >Apa itu bukan cukup bukti kalau si A suka makan daging babi." Dan, >mungkin kita akan menambah dengan kalimat-kalimat lebih serem untuk >menyakinkan lawan bicara kita: "Masak sih kamu enggak percaya sama >aku?" > >Dalam kasus nomor [3], siapa yang tak akan percaya ketika >informasi itu datang dari seorang dosen yang juga peneliti? >Pak Dosen bercerita bahwa "Pak Usman bukan peneliti yang baik, >karena penelitian tomatnya ditelantarkan." Hayo, siapa yang >tak akan percaya? > >Dalam hidup sehari-hari, pak Dosen itu bisa diwakili oleh para >ahli, para pengamat, para politikus, para pemuka agama, wartawan, >presiden, atau tetangga kita. > >Pesan yang ingin saya sampaikan adalah...ketika kita menerima >kabar buruk tentang orang lain dari seseorang yang terpercaya >sekali pun, kita jangan lantas tergesa-gesa untuk menerima kabar >itu sebagai kebenaran. Ini bukan karena kita tak percaya kepada >orang itu, tapi bisa jadi informasi yang masuk kepadanya kurang >lengkap, atau keliru. > >What should we do kalau kita tak punya waktu/cara melakukan >re-checking? Just keep informasi itu untuk diri sendiri, jangan >turut menyebarkannya ke orang lain. > >Wassalam, >=Usman Maine= >"Lord opens > our eyes to see what is beautiful, or > our minds to know what is true, or > our hearts to love what is good" > >-------------------------------------------- >Usman Kris Joko Suharjo >Dept. of Applied Ecology and Environmental Sciences >University of Maine >Deering Hall, Orono, ME 04469 >USA >phn: 207-866-5935 >fax: 207-581-2999 [off] > 207-866-5935 [home] >Email: [EMAIL PROTECTED] >---------------------------------- ________________________________________________________________________ Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com ->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
