Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Renungan...
PAK TOKOH
Oleh: Usman Maine
Ketika seorang tokoh masyarakat di lingkungan kami meninggal
dunia, saya sudah di SMA. Setelah acara pemakanan selesai,
ayah bercerita bahwa pak Tokoh itulah orang yang dulu akan
membunuhnya.
Saya tentu saja terkejut. Sebab, pak Tokoh adalah orang yang
selama ini saya kagumi karena sifat dermawannya. Selain itu,
kalau benar pak Tokoh dulu sempat akan membunuh ayah, mestinya
ia dikirim ke Nusa Kambangan [tempat penampungan tokoh PKI].
Saya memang pernah mendengar, ayah pernah hampir terbunuh dua
kali. Pertama, sempat dikalungi celurut oleh pemuda rakyat [PKI].
Kedua, sempat ditodong sangkur oleh gembong PKI, pak Tokoh.
Pak Tokoh memang dulunya gembong PKI. Sementara ayah
pengurus PNI. Saya tidak ingat persis spt apa kondisi
waktu itu, tapi menurut cerita ibu, ayah jarang tidur
di rumah, dan rumah kami sering dijaga RPKAD.
Kata ayah, ketika lagi "gegeran", pak Tokoh dan anak
buahnya memang berhasil mencegat ayah. Sangkurnya sudah tinggal "nancep" di
perut ayah. Nasib baik, lagi di pihak
ayah. Beberapa orang RPKAD sedang patroli. Selamatlah
ayah saya.
Ketika PKI sedang diberangus, pak Tokoh tertangkap. Kedua
tangan dan kakinya sudah diikat oleh pemuda marhaen.
Rencananya, pak Tokoh akan dibunuh dan dibakar rame-rame.
Tapi, ayah memutuskan lain. Ayah melepaskan pak Tokoh.
Mendengar cerita itu, saya sempat protes.
"Kenapa ayah memaafkan orang yang hampir membunuh ayah?"
"Itu lah pemberiaan maaf yang sesungguhnya. Ketika kita
memaafkan orang yang pernah berbuat jahat kepada kita pada
saat kita punya kekuatan dan kesempatan untuk membalas
dendam. Itu lah sebenar-benarya maaf."
Mendengar cerita tentang sikap pak Tokoh kepada ayah , saya
masih penasaran mengapa dia tidak dikirim ke Nusa Kambangan
atau dibunuh saja saat itu [tahun 1966?]. Tapi ayah saya bilang.
"Pada dasarnya dia orang baik. Kami tak punya permusuhan
pribadi. Hanya karena partai, kami harus berhadapan. Secara
pribadi ia tak pernah bermaksud membunuh ayah. Ia sekedar
menjalankan tugas partai yang dibebankan kepadanya. Karena
partainya [PKI] telah dibubarkan, maka tak ada lagi alasan bagi
kami untuk meneruskan permusuhan."
Meski sulit mencerna apa yang dilakukan ayah waktu itu,
saya bisa menerima penjelasan ayah. Namun demikian saya masih
menggerutu. "Saya tidak sangka kalau pak Tokoh yang begitu
dermawan itu adalah orang yang dulu berniat membunuh ayah."
Mendenger gerutuan saya, ayah menimpali:
"Ayah semakin yakin bahwa keputusan ayah melepaskan pak Tokoh
waktu itu adalah keputusan yang tepat. Buktinya, kamu mengenangnya
sebagai seorang dermawan."
Wassalam,
+++Poirot
Note: pak Tokoh hanyalah nama samaran. Orangnya memang ada
dan saya mengenalnya sebagai seorang dermawan. Saya
memang tak menyangka kalau dialah orang yang pernah
membuat hidup ayah saya kalang kabut [jarang tidur
di rumah krn dicari-cari oleh pemuda rakyat].
________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!