Mas Drajad,
Ikut bergembira atas selesainya program Doktornya. Semoga Rakhmat Allah
terus menyertai anda sekeluarga. Semoga Ilmu yang anda dapatkan bisa
bermanfaat Dunia dan Akhirat. Amin.
Lain dari itu, semoga anda juga bisa lapang memaafkan saya yang cepat
bludrek bila ada keyakinan yang diobok-obok. Khususnya, terus terang bila
mengena keyakinan saudara-saudara saya kaum muslimin yang masih banyak yang
bodo dan sederhana itu.
Menyandang Doktor, boleh dibilang anda ini secara formil telah sampai
dipuncak dunia ilmu. Anda sudah masuk golongan Ulama , kalau menggunakan
bahasa agama Islam. Maka banyaklah yang diharap dari orang seperti anda.
Yang pertama tentunya dari keluarga. Yang lain , tentunya dari negara dan
bangsa. Termasuk disitu adalah sumbangan kepada kaum Muslimin yang anda
adalah anggotanya. Kaum Muslimin yang sebagai warga terbesar dari Indonesia.
Cerita anda, yang masih pula saya lampirkan dibawah, menegaskan sekali lagi
perlunya sumbangan pikiran kepala dingin dari anda. Mereka itu bukan musuh
anda. Mereka itu bukan pula kumpulan bajingan orang jahat. Mereka itu adalah
orang yang keras usaha untuk jadi baik. Mereka itulah profil saudara anda ,
saudara-saudara yang dititipkan pada anda ( kaum ulama ) oleh kanjeng Nabi.
Mereka itu putra-putra bangsa yang masih sederhana, yang baru saja sempat
dioles oleh pendidikan. Pendidikan yang sama sekali tidak dikenal oleh
bapak-ibunya. Telah ketinggalan jauh sekali. Mereka itu "anak-anak" yang
bahkan sampai sekarang pun belum bisa menggunakan mata sendiri membaca kitab
suci-nya. Membaca agamanya. Mereka itu baru membaca dengan mata ustat dan
mata bapak ibunya jauh dikampung sana. Bukankah mereka belum bisa membaca
Al-Maidah ?.
Jadi mbok jangan memusuhi orang-orang itu? Mbok jangan cepat pegel pada
saudara-saudara anda itu. Penjajahan, Penderitaan dan pembodohan berlapis
bergenerasi telah melahirkan cerita yang mengecewakan anda : soal memaksakan
tafsiran agama, soal keseganan masuk dilumpur, soal kerumitan pada makanan
yang sebetulnya tidak perlu. Ulurkan tangan anda dengan sabar, please.
Jangan tambahi penderitaan mereka dengan sikap bermusuhan yang menambah
pengerasan hati. Buat apa ikutan bikin kapal silem sampai 2000 biji ?
Sehubungan dengan judul yang anda buat, " seandainya...", saya mengerti
perasaan anda. Tapi saya kira anda dalam posisi bagaimana membuat,
meyakinkan dan bikin teladan agar mereka mampu dan bisa menghormati
keyakinan orang lain. Siapa lagi kalau bukan kita-kita ? .
Sekali lagi : Selamat, dan mohon maaf.
Wassalam
Abdullah Hasan.
From: mbah soeloyo <[EMAIL PROTECTED]>
Berhubung saya yang mempostingkan KORAN ANAK SD JEPANG,
maka menurut posting Mas Hasan di atas, saya tergolong orang
yang "sedemikian tumpulnya sampai gagal melihat bahwa ada
pakaian yang dipakai sebab keyakinan".
Juga seandainya banyak orang berpaham seperti Mas Hasan
tersebut, diskusi msalah pakaian dan jilbab, mungkin sekali
tidak akan pernah ada. Yaitu, bila setiap orang berkeyakinan
saling menghormati keyakinan sesama manusianya.
Saya yakin itu!
Namun, ada beberapa hal sehingga "keraya-raya" saya mencari
referensi, membacai sejarah-sejarah yang (rasanya) tidak
diajarkan
di sekolah maupun pejaran agama. Awalnya, sih biasa saja sebagai
ekses "kenakalan" remaja kasip. Saya pernah tersinggung sama
sekali dengan tingkah sesama teman putri di institut pertanian
satu-satunya di Indonesia sana. Pada suatu keperluan, saya harus
menemui rekan putri untuk meyampaikan undangan mendadak
pertemuan kelompok. Kebetulan dia tinggal di kost-putri.
"Uluk salam" saya ucapkan sambil mengetuk pintu. Bukan jawaban
salam yang saya terima, melainkan suara cekikikan berhamburan
rekan-2 putri meninggalkan ruang tamu dan masuk ke kamar
masing-2. Lama baru ada jawaban dari teman sekamar rekan
putri yang akan saya undang.... dan dia tidak berjilbab.
Kejadian begitu selalu berulang, baik siang atau malam. lama-2
saya bertanya: "menjawab salam seseorang itu hukumnya wajib
atau bukan?" bukan jawaban yang aku peroleh, justru "olokan"
merendahkan keyakinan saya yang saya peroleh, walaupun sama-
sama "kerangka"-nya, ISLAM.
Suatu kali, saya sedang bertandang ke rumah teman berembuk
praktikum. Mendadak seorang rekan putri yang biasa berjilbab,
ikut nimbrung. biasa ngobrol-nya menjadi ngalor ngidul. Saya
terkejut, ketika rekan putri itu mau pamitan pulang, bilang:
"Soel, maaf ya saya telah memperlihatkan aurat kepala saya,
bagiamana pendapat-mu?" Terkejut, lha selama ngobrol itu
tidak terlintas sama sekali bahwa rekan itu berjilbab atau
tidak, mempertontonkan aurat atau tidak.... mengapa harus
bertanya begitu?
------
Lama setelah kejadian itu, sebagai seorang asisten praktikum
lapang saya sedang mengajari mahasiswa bertanam padi,
sehingga harus bermain lumpur. Sementara ada sekelompok
mahasiswi yang tidak mau sama sekali "nyemplung" ke sawah,
karena mereka mengenakan jilbab yang lengkap dengan
baju longgar sampai menutup mata kaki. Padahal, di buku
penuntun praktikum, sudah jelas disebutkan "pakaian" yang
harus dikenakan pada waktu praktikum, yi. layak untuk bekerja
di sawah. Dan nilai praktikum 75% ditentukan oleh aktivitas
mahasiswa bercocok tanam. Saya tanyakan mengapa mereka
memilih tidak ikut bekerja? Jawabannya, seperti ungkapan Mas
Hasan, itu adalah karena "Keyakinan", dan jilbab adalah salah
satu KEWAJIBAN. Pusing saya, bagaimana nanti memberikan
nilai kepada mahasiswa-2 ini?
---------
Akhir-akhir, saya bersama isteri hidup di Jepang. Kembali
khabar jelek sampai ke telinga. Isteri saya, karena tidak
berjilbab, dinyatakan sebagai "Muslim Ngeyel" oleh sesama
warga Indonesia, dengan dasar sama dengan point Mas Hasan,
berdasarkan KEYAKINAN mereka, Jilbab adalah suatu
Kewajiban. Tidak hanya itu, soal makanan-pun, keluarga saya
juga disebutnya sebagai "Keluarga Ngeyel" mengkonsumsi
daging tidak halal, karena di beli di Super-Market. Di sini
saya berani membalas, INI ADALAH KEYAKINAN SAYA
dengan dasar AYAT 5, surah Al-Maidah. Di situ bahkan Tuhan
pun membolehkan Muslim memakan "makanan" Ahli Kitab,
mengapa kita-2 menilai keyakinan orang dengan berdasarkan
MAKANAN dan PAKAIAN?
Jawaban yang saya peroleh, tetap, yaitu... memang SOEL
adalah NGEYEL. Tapi adalah suatu keberuntungan, ketika
lulus, minggu lalu, doa yang saya terima dari rekan-rekan
yang pernah memper-ngeyelkan saya adalah :
"Assalamu'alaikum wr. wb.
Kepada Mas Soel, kami juga mengucapkan selamat atas
keberhasilannya
menyelesaikan program doktornya. Kamipun berdo'a semoga ilmu
yang telah
diperoleh bermanfaat bagi kemaslahatan seluruh ummat dan membawa
keberkahan. Amien.
Wassalamu'alaikum wr. wb."
Alhamdulillaah, teman-temanku mendoakan agar yang telah aku
peroleh berguna bagi seluruh ummat.... tidak lagi sebatas ummat
tertentu berdasar KEYAKINAN. sungguh suatu penghormatan
besar. dan saya bermohon, mampu mewujudkannya walau
hanya setitik noktah terang.
salam
Soel
------
ps: 2 hari komputer di rumah jebol monitornya.....
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!