waduh....
aku baru yahooo,
kalo si akang hasan ini suka bludrekan jika sodaranya diserang,
terus si mBah soel ini suka ngobok-obok saudara-saudara seagamanya,
terus si mBah ini 'dianggap' kurang menghormati keyakinan orang lain,
terusa simBah ini suka memusuhi saudaranya sendiri,
terus membuat kapal silem 2000 termasuk membuat keras hati,
waduhh,
ketiwasan saya muji mBah Soel pada temen-temen saya,
tibaknya mBah soel termasuk manungsa nista.....
ndak pantes digugu dan ditiru....
ndak pantes nyandang s3,
pantese cuman jualan es tung-tung...
mBah,
ketiwasan, mBah
:,.-( nangis air mata bercucuran.......
mBin
-----
From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
Dengan sesunguhnya, aku terharu membaca posting Pak Hasan ini.
From: Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]>
Mas Drajad,
Ikut bergembira atas selesainya program Doktornya. Semoga Rakhmat Allah
terus menyertai anda sekeluarga. Semoga Ilmu yang anda dapatkan bisa
bermanfaat Dunia dan Akhirat. Amin.
Lain dari itu, semoga anda juga bisa lapang memaafkan saya yang cepat
bludrek bila ada keyakinan yang diobok-obok. Khususnya, terus terang bila
mengena keyakinan saudara-saudara saya kaum muslimin yang masih
banyak yang bodo dan sederhana itu.
Menyandang Doktor, boleh dibilang anda ini secara formil telah sampai
dipuncak dunia ilmu. Anda sudah masuk golongan Ulama , kalau menggunakan
bahasa agama Islam. Maka banyaklah yang diharap dari orang seperti anda.
Yang pertama tentunya dari keluarga. Yang lain , tentunya dari negara dan
bangsa. Termasuk disitu adalah sumbangan kepada kaum Muslimin yang anda
adalah anggotanya. Kaum Muslimin yang sebagai warga terbesar dari Indonesia.
Cerita anda, yang masih pula saya lampirkan dibawah, menegaskan sekali lagi
perlunya sumbangan pikiran kepala dingin dari anda. Mereka itu bukan musuh
anda. Mereka itu bukan pula kumpulan bajingan orang jahat. Mereka itu adalah
orang yang keras usaha untuk jadi baik. Mereka itulah profil saudara anda ,
saudara-saudara yang dititipkan pada anda ( kaum ulama ) oleh kanjeng Nabi.
Mereka itu putra-putra bangsa yang masih sederhana, yang baru saja sempat
dioles oleh pendidikan. Pendidikan yang sama sekali tidak dikenal oleh
bapak-ibunya. Telah ketinggalan jauh sekali. Mereka itu "anak-anak" yang
bahkan sampai sekarang pun belum bisa menggunakan mata sendiri membaca kitab
suci-nya. Membaca agamanya. Mereka itu baru membaca dengan mata ustat dan
mata bapak ibunya jauh dikampung sana. Bukankah mereka belum bisa membaca
Al-Maidah ?.
Jadi mbok jangan memusuhi orang-orang itu? Mbok jangan cepat pegel pada
saudara-saudara anda itu. Penjajahan, Penderitaan dan pembodohan berlapis
bergenerasi telah melahirkan cerita yang mengecewakan anda : soal memaksakan
tafsiran agama, soal keseganan masuk dilumpur, soal kerumitan pada makanan
yang sebetulnya tidak perlu. Ulurkan tangan anda dengan sabar, please.
Jangan tambahi penderitaan mereka dengan sikap bermusuhan yang menambah
pengerasan hati. Buat apa ikutan bikin kapal silem sampai 2000 biji ?
Sehubungan dengan judul yang anda buat, " seandainya...", saya mengerti
perasaan anda. Tapi saya kira anda dalam posisi bagaimana membuat,
meyakinkan dan bikin teladan agar mereka mampu dan bisa menghormati
keyakinan orang lain. Siapa lagi kalau bukan kita-kita ? .
Sekali lagi : Selamat, dan mohon maaf.
Wassalam
Abdullah Hasan.
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!