From: "��" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, August 24, 2000 11:03 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Keprihatinan Atas Kasus Indorayon
: From: Sukaton <[EMAIL PROTECTED]>
:
: Ketiga hal sebelumnya secara teknis bisa kita atasi, tetapi
hal
: dibawah ini tidak akan terhindarkan:
: ��:
: sebelumnya atau sebetulnya?

mBS: kirain sebenulnya atau sebenalnya...:-}}

: SKT:
: Industri eksploitasi sumber daya alam pasti punya dampak yang
: tidak menuntungkan terhadap alam atau lingkungan secara jk.
: panjang. Itulah cost yang harus kita bayar untuk mendapatkan
: keuntungan lain (energy, bahan baku, dll.).
: ��:
: Kalau argumentasi ini kita tarik lebih luas lagi maka cost itu
: juga akan ditanggung oleh masyarakat global. Mereka dibelahan
: dunia lain pada berteriak dengan masalah penggundulan hutan
kita
: karena salah satu paru-paru diunia itu ada di Indonesia,
padahal
: itu menjadi sumber penghidupan kita.

mBS:
kurang beruntungnya, hasil atau produk penggundulan hutan itu
juga menjadi konsumsi para externalities... bukan begitu?
nyatanya mas WAM kesulitan cari serbuk gergadi di Kalimantan,
atau serbuk gergaji yang jadi bahan papan-partikel, yang
bahan perekatnya harus dibeli lagi dari kaum external.
hayoh, mbulet kan, kalau mikirnya potong-potong gitu.
seperti orang menangani hewan langka (gajah misalnya)
di lampung, program transmigrasi di sini boleh dikata
paling berhasil. tetapi gangguan utama adalah jalur
gajah. lha fihak konservasi alam dan binatang langka,
pengin "objek" garapannya selalu ada, maka usul
dan menilai, lokasi transmigrasi melanggar wilayah
jelajah gajah-gajah. (sementara orang awam mikir,
"mereka itu ingin gajahnya atau orangnya?")
---> nggak nyambung biarin... wong lagi seneng nylenthak!

: SKT:
: Yang menjadi masalah adalah, seperti pada kasus IIU ini,
costnya
: ditanggung secara langsung oleh penduduk lokal (Porsea) tapi
: keuntungan tidak secara langsung mereka nikmati melainkan
: sumbangan untuk nasional. Jadi ibarat merogoh saku kiri masuk
ke
: saku yang kanan. Disinilah yang mungkin sulit untuk mencari
titik
: break evennya.
:
: ��:
: BEP itu akan kita temukan kalau externalities itu
diperhitungkan
: secara adil. Jangan sampai masyarakat disekitar Freeport atau
IIU
: yang menanggung externalities dan masyarakat lain yang
menikmati
: return-nya. Ingat Sila ke 4, Keadilan Sosial Bagi Seluruh
Rakyat
: Indonesia.
:
mBS:
hehe... mas Aswat korupsi. subversiv. lha panca sila kok
dipotong satu
sila ke-4 tentang keadilan...?

mangkanya mas, jangan lagi lah studi pelayakan yang diandalkan.
carilah studi kewajaran saja lah. artinya kita ambil kekayaan
alam
secara wajar. misalnya tahu umur suatu tanaman hutan layak
tebang
itu 10 tahun (minimal) yaaaa paling tidak diperhitungkan
penebangannya
dengan arus reboisasi yang bersiklus dinamis 10 tahunan. artinya
dipotong sedemikian rupa sehingga layak segera ditanami bibit
baru dalam tahun 1. tahun 2 potong lagi blok lain reboisasi 1+x
populasi
tebangan, seterusnya hingga 10 tahun, muter ke blok tebangan
awal.
itu kira-kira yang dilakukan oleh para peladang berpindah, yang
justru dituduh sebagai "biangkerok kebakaran hutan"

sementara kalau kita terbang di atas Jambi atau hutan DAS
Mamberamo
yang terlihat adalah "pating cenanang-nya" robohan pohon hutan
yang
teracak sedemikian rupa. sehingga anak kecilpun (seandainya
diajak
terbang bersama) mungkin akan mengatakan "Beh, gambar hutan
di bawah sono kok kayak benang-kusut?"

: SKT:
: Akhirnya, kalau hanya mikir lingkungan yang nyaman dan
alamiah,
: sebaiknya kita back to nature.
:
mBS:
nature sebagai manusia yang makan segala mas?

silem,

SoeL
-----


->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke