On Fri, 25 Aug 2000, GIGIH NUSANTARA wrote:
> Coba dikaji, mana lebih memberikan manfaat, jual kayu
> atau malah serbuk gergajiannya. Jika justru serbuk
> gergaji yang bermanfaat, kenapa nggak dijadikan
> gergajian saja semuanya? Dengan begitu dia bukan
> limbah, tetapi produk utama. Kenapa sungkan?
WAM:
Ketokane sih, jual serbuk kayunya. Lha wong di supermarket sini aja per kg
sudah 20.000 perak. Namun, kalau, kayak usulan mbahe Gigih supaya
digergaji semua biar jadi serbuk, kayaknya mustahal. Lha apa ongkos
menggergajinya nggak gede? Yang sekarang mendatangkan untung itu kan
karena dianggap waste, sehingga production costnya zero. Tapi bener kok,
saya sampai terkaget-kaget ketika dikasih tahu orang Kanwil Kehutanan
Kalsel/Kalteng, bahwa yang namanya limbah pengolahan kayu itu nggak ada
lagi. Kalau nggak dibikin particle board ya, seperti yang saya lihat,
_dimakan_ boiler sendiri untuk bikin steam. Kalau mau limbah penebangan,
ya di tengah hutan sono. Yang jaraknya bisa puluhan, atau ratusan km, dari
kota. Lha ini ya bukan limbah lagi, wong biaya perolehannya (pasti) nggak
zero lagi.
Sama seperti limbah pabrik gula. Sepah tebu. Tadinya, saya pikir itu sepah
tebu _keleleran_ di mana-mana. E, tibak-e enggak. Malah, ada pabrik gula
di Tegal yang mesti __ngutang_ sepah tebu dari Klaten.
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!