Mashuri:
Saya ingin bertanya kepada siapapun yang mengerti fotografi dan art disaint
Mempelajari hasil wawancara pakar fotografi dan grafis ini saya coba
menganalisa.
walaupun ada, data-data yang sampai saat ini saya kurang percayai.
1. Benar semua apa yang dibicarakan pakar komputers tersebut
hampir seluruh yang mengerti disaint grafis akan mempercayainya.
Tetapi ada satu yang seharusnya dijawab;
Pertama:
Masalah teknis film dan alat perakam film tersebut (Jenis kamera tidak
diberitahu)
karena ini berpengaruh banget.
Dan dari gambaran mengenai film terlihat ada kesalahan disini.
Setahu saya pengabungan objek tidak hanya dilakukuan dengan computer.
tetapi juga bisa dilakukan dengan cara mekanik (klasik) yaitu dengan dua
kali
pemotretan dalam objek serta negatif yang sama. (hampir sama dengan cara
kerja komputer
mis: dengan program photoshop).
Oleh sebab itu para fotografer menduga kurang akuratnya berita tentang foto
tersebut.
Para pengguna kamera poket (otomatis) sederhana atau kamera sederhana
lainnya.
Problem penumpukan gambar itu biasa terjadi.
Dan banyak pula para peraih penghargaan fotografi mendapatkan obyek
fantastis ini dari kesalahan yang dia tidak duga sama sekali dari kamera
saku.
Alias kesalahan teknis dalam kameranya sendiri.
Dalam wawancara dibawah digambarkan, penyelidikan baru dianalisa pada jenis
film, hasil cetak
film dan melupakan jenis kameranya.
Pada kamera pasaran (jenis poket), pengulungan secara otomatis (apalagi
dijelaskan film lama)
ini akan mempengaruhi penggulungan dan pemotretan.
Hal ini pernah menghebohkan, sebuah foto yang diterbitkan dalam majalah
mistik.
Seorang wiraswata yang berhasil merekam "hantu" di kameranya, kiriman
seorang pelajar
(bukan rekayasa grafis).
Mungkin hal ini sama dengan hasil "yang tidak di duga". Hal ini menguat
dugaan saya
dari hasil wawancara dibawah, foto gusdur diambil pertama
setelah foto yang menghebohkan itu adalah
foto Ariyayanti dan Suaminya sedang syur. Jadi kuat dugaan saya
bahwa ini hanya kesalahan pemotretan & pengulungan film. Apalagi dikatakan
bahwa ini film lama (bedakan film dengan negatif film).
Teknologi komputer dalam menerangkan, mengkaburkan dan merekayasa memang
dimiliki
oleh teknologi komputer.
Tetapi teknologi Disaint komputer tanpa didukung dengan pemahaman masalah
kimiawi,
fisika dan mekanika dari zat yang terdapat pada film, itu sangat semberono.
negatif Film itu sangat rentan terhadap masalah kimiawi, penyimpanannyapun
harus
teliti tidak sembarangan. Seperti pengalaman saya melihat dokumentasi film
yang
dilakukan karyawan Antara sangat semberono.
Tertumpuknya negatif satu dengan negatif lainnya saja ini bisa berpengaruh.
Faktor cuaca dan lainnya harus diteliti juga. zat senyawanya apa pakar
komputer
dan foto juga melakukan penyelidikan, berani taro pasti tidak ia lakukan.
Inilah menurut saya membuktikan foto ini hanya sebuah kesalahan dari kamera
murah (saku) yang menghasilkan efek gambar yang luarbiasa, dari faktor
kimiawi
akibat kesalahan mekanika dari kamera dan filmnya sendiri.
Harus sama-sama dimengerti masalah negatif film, adalah masalah kimiawi.
Masalah kamera adalah masalah mekanika.
Negatif film disebut kan adanya pada bagian separasi film. Dalam
hal ini teknologi komputer digabungkan
dengan teknologi kimia. Wah ini lebih ngejelimet lagi.
Pada jaman dahulu film yang habis di foto, dicuci dengan cara manual
(klasik)
tanpa alat bantu komputer. Jika film yang habis difoto ini dicuci secara
klasik
(manual) dalam ruang gelap (saya berani tarohan) sang pencuci akan tahu
ini benar foto asli atau kesalahan pemoteran atau rekayasa pemotretan.
Disinilah
kuncinya. Harus mengerti dulu maksud saya yang saya sebut separasi.
Yaitu film yang dari kamera lalu di negatifkan.
Oleh sebab itu biasanya, seorang fotografer yang handal tidak pernah mau
mencuci
(dalam bahasa percetakan/ Separasi) dilakukan dengan komputer dan alat
bantu.
Biasanya dilakukan sendiri penyucian tersebut dalam ruang gelap, secara
manual.
NB: Sebenarnya dari wawancara dibawah saya hampir percaya, karena saya
sangat
mengerti dengan apa yang dijelaskan (baik masalah film dan computer).
Tetapi teknologipun mengenal hukum masa dan waktu. Hal ini yang tidak
dia analisa padahal sebenarnya sudah dia katakan secara jujur. Saya cuma
mau mengatakan bahwa kemungkinan pemahaman ilmu pengetahuan orang
dibawah ini
kurang lengkap. Seharusnya dilengkapi oleh akhli-ahli fisika dan kimia
serta
mekanika baru terbongkar tuh masalahnnya.
Nah mungkin ini pelajaran bagi seluruh fotografer mediamasa atau pengelola
media
(industri pers). Seharusnya selektif dalam memasuki foto-foto yang
kedaluwarsa, foto yang sudah termakan usia (kimiawi) seharusnya tak layak
muat
dan bagi seorang disaint grafis memang dapat diperbaharuhi tetapi tetap saja
tidak profesional.
Sebuah media masa besar seperti panji dan Forum atau apapun harus
memegang teguh profesionalitas.
dari mulai kadar film, kemampuan kamera, manusianya, sampai disaint dan
tataletaknya
sendiri harus menjadi kesatuan yang utuh, jika mau dibilang foto tersebut
bermutu atau
tidak.
Sekian dan terima kasih.
M. Mashuri Alif
-----Original Message-----
From: Sams [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Sunday, September 03, 2000 7:15 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [Kuli Tinta] HAYO GUS DUR BISA JUJUR NDAK ?
Pak Abdullah Hasan, senang saya mengkoleksi posting sampeyan soal Ariyanti.
Terkadang secara usil saya forwardkan ke milis-milis lain buat menggegerkan
suasana. Jadi kalau sampeyan tukang becanda, saya milih jadi tukang usil
saja. Soalnya gara-gara usil-lah maka saya jadi wartawan, hehehehe ....
Baca ini ya ? Habis tuh mari terbahak bersama. Kita mau tunggu, Gus Dur
sebetulnya bisa jujur ndak. Kita nggak butuh orang yang bersih sekarang ini.
Kita butuh orang yang jujur. Mau nggak dia ngaku.
Selamat menyimak,
Meneliti klise Asli foto-foto 'Gus Dur-Aryanti'
Roy : Foto Bukan Hasil Rekayasa
Jakarta, Glodok Standard.-
Pembicaraan soal keaslian foto Gus Dur-Aryanti masih hangat. Pakar
multimedia dan dosen fotografi UGM Roy Suryo setelah mendapat klise asli,
melakukan penelitian kedua. Hasilnya, foto itu bukan rekayasa. Tapi ada
fakta lain, apakah itu? Fakta lain tersebut, menurut lelaki yang juga
anggota tim ahli IT Mabes Polri itu, adalah ternyata rol klise (negatif) itu
menyambung dengan gambar Aryanti dengan mantan suaminya, M. Yanur.
Meski Gatra dan Panji sudah membuat laporan khusus, keduanya tak menampilkan
foto heboh yang dimaksud. Justru tabloid Adil No. 49/Tahun ke-68 yang terbit
pekan ini, memuat foto Gus Dur-Aryanti di halaman dalamnya. Untuk menguak
sejauhmana kebenaran foto tersebut, berikut wawancara dengan Roy Suryo yang
pernah menghebohkan saat mengungkapkan bahwa kset pembicaraan Presiden
Habibie dengan Jaksa Agung Andi M Ghalib adalah asli di Jakarta Convention
Centre, Jakarta, Sabtu (2/9/2000).
//Bagaimana Anda melihat kasus ini sekarang?//
Kasus ini hampir mirip dengan kasus-kasus yang pernah saya coba untuk
ditelaah. Saya tergerak atas rasa ingin tahu dan rasa geram karena banyak
orang yang belum-belum sudah menyalahkan teknologi sebelum mengerti pasti
tentang teknologi itu.
Tanpa melakukan kajian ilmiah dan teknis, belum-belum sudah bilang foto itu
hasil rekayasa komputer. Bahkan ada pendapat foto-foto yang beredar di
internet tidak bisa dipercaya. Itu kan namanya skeptis terhadap perkembangan
teknologi.
//Untuk menanggapi sikap itu bagaimana?//
Pertama-tama saya harus mencari buktinya, karena saya baru mendengar
beredarnya foto itu. Pertama saya mendapatkan softcopy berupa file yang
dikirimkan beberapa teman di Jakarta. File itu dikirimkan dalam ukuran yang
sangat kecil, hanya 100 kilo bytes.
Saya menolak karena analisa dari file sekecil itu sangat dipertanyakan.
Kemudian saya beberapa kali dikirimi foto tersebut. Foto yang akhirnya saya
analisa berukuran 890 kilo bytes dalam format compressed JPG. File ini jika
dijadikan format BMP menjadi berukuran 4,65 mega bytes, atau sekitar 6 mega
bytes untuk PSD. Berdasarkan foto itulah saya berani membuat analisa.
//Langkah selanjutnya?//
Pertama saya mencoba melakukan multi konversi, dari JPG menjadi BMP kemudian
menjadi PSD untuk mencoba mengiris kembali layer-nya slice by slice. Ini
hanya bisa dilakukan pada format PSD.
Kemudian saya melakukan separasi menjadi warna-warna cyan, magenta, yellow,
dan black. Ternyata dari hasil separasi tersebut tidak ada warna yang
"lari". Biasanya jika sudah dilakukan sentuhan komputer atau hasil digital
retouching, ada warna yang lari.
Saya juga menggunakan cara yang hampir mirip dengan itu, yaitu grayscalling
256 skala abu-abu. Analisa ini gunanya untuk memperlihatklan contrast dan
brightness-nya. Ternyata tidak ada kesan foto itu telah disentuh dengan
komputer.
//Apa dengan demikian Anda puas bahwa kesimpulan Anda valid?//
Tidak. Saya belum puas dan mesti melihat bukti fisik yang asli.
//Apa alasan itu yang membuat Anda datang ke Jakarta?//
Saya datang ke Jakarta Kamis (31/8/2000) untuk acara Internetworks 2000 yang
digelar di JCC, sekaligus untuk mencari foto ini. Ternyata, saya melihat 3
macam kemungkinan foto yang bisa ditemukan. Pertama foto asli tahun kuno
dari klise asli, ini sangat sulit didapatkan. Yang kedua cetakan baru dari
klise asli, ini yang beredar di kalangan DPR. Yang ketiga foto baru dari
klise baru. Yang ketiga ini sangat parah dan saya bertekad tidak akan
melakukan analisa lanjutan jika jenis foto ini yang saya dapatkan.
//Anda mendapatkan yang mana?//
Saya mendapatkan foto cetakan baru dari film (negatif) asli. Ini terlihat
dari hasil cetakannya yang suram dan tidak cerah. Kalau film disimpan lebih
dari tiga tahun, akan ada warna-warna yang pudar walaupun warna-warna utama
masih tampak. Dari cetakan itu bisa dilihat bahwa foto itu dicetak dari
klise lama.
Sekarang saya melakukan analisa bukan sebagai ahli komputer. Dalam hal ini
komputer hanya merupakan alat bantu. Dengan bukti cetakan baru ini, saya
mencari sumber yang lebih kuat. Dengan dibantu teman-teman majalah Panji,
saya dipertemukan dengan Aryanti.
Dari Aryanti, saya mendapatkan foto asli dari klise asli yang sudah kusam.
Foto itu dicetak di atas kertas fuji color crystal paper. Setelah tahun
1999, di balik foto selalu terdapat printing code. Sedangkan foto yang
dibuat antara tahun 1997-1999 dicetak di atas kertas fujicolor glossy paper.
Jadi bisa disimpulkan foto itu dicetak sebelum 1997.
Ini saya simpulkan tanpa mendengar cerita-cerita Aryanti yang menyatakan
film itu dibuat sekitar tahun 1996. Itu saya anggap angin lalu saja.
Kemudian foto itu saya scan bolak-balik dengan resolusi 600 dpi di redaksi
majalah Panji. Saya kemudian bertanya kepada Aryanti, apakah ada klisenya,
dijawab klise itu ada pada mantan suaminya.
//Lalu?//
Dibantu teman-teman majalah Forum, saya berhasil ketemu mantan suami
Aryanti, Yanur, di redaksi Forum. Dan ternyata benar klise itu disimpan
suami Aryanti. Klise itu saya lihat lihat jenis filmnya: Fujicolor film isi
12 foto. Foto yang menghebohkan terletak pada frame pertama. Setelah itu
isinya gambar-gambar mesra Aryanti dan suaminya.
Klise itu saya coba analisis dengan cermat. Ada bukti bahwa itu klise lama.
Di bagian sampingnya terdapat tulisan "35CSH2", 35 artinya 35 mm, C berarti
color, S berarti super dan H berarti high resolution.
Sedangkan film fuji yang beredar sekarang jenisnya superia, muncul pada
1999. Sebelumnya ada yang muncul pada 1996, yaitu Fuji Super HGV. Film yang
digunakan ini adalah Fuji Super HR2, jadi film ini dibeli tahun 1996 atau
sebelumnya. Harap diingat, film tidak bisa disimpan terlalu lama karena ada
masa expire-nya.
Kemudian kemudian klise ini diperiksa lebih lanjut kontinuitasnya. Ternyata
foto yang menghebohkan itu menyambung dengan foto-foto Aryanti dan suaminya.
Lalu saya lakukan tiga kali proses scanner komputer untuk identifikasi.
Pertama seluruh klise di-scan dengan desktop scanner yang dilengkapi
transparent adapter. Saya scan semua lengkap dengan geriginya. Scan kedua
dilakukan khusus pada foto yang menghebohkan lengkap dengan film
tracker-nya.
Dari hasil scan ini terbukti tidak ada klise baru yang ditempelkan pada
klise lama. Penempelan ini bisa saja dilakukan oleh orang yang sangat ahli,
tapi tetap akan terlihat dengan analisis ini.
Yang ketiga, saya melakukan scanning dengan alat scanner khusus film. Ini
dilakukan untuk memperbesar foto yang bersangkutan untuk melihat apakah ada
rekayasa. Ternyata tidak ada sentuhan non-fotografis pada klise tersebut.
Scanner ini saya lakukan sendiri dengan resolusi 4800 dpi. Hasilnya adalah
file dengan ukuran 16 mega bytes. Dengan ini nampak faktor komponen
pendukung yang lain seperti kursi, pintu, dan lain-lain sehingga bisa dicari
di mana lokasinya. Tapi pencarian ini biarlah dilakukan oleh orang lain.
//Mengapa harus resolusi tinggi?//
Dengan resolusi yang sangat tinggi ini, pixel per pixel atau dalam istilah
fotografi: grain-nya akan kelihatan sangat jelas. Jadi kalau ada sentuhan
sedikitpun nampak. Bahkan jamur dan goresan yang sangat kecilpun nampak.
Dari situ, pada tahap penelitian kedua ini, saya simpulkan pada foto ini
tidak ada rekayasa.
//Apa Anda tidak takut menyangkut penelitian ini?//
Saya tegaskan, saya melakukan analisa ini tidak ada yang membayar. Ini demi
pengetahun semata. Bagi yang ingin berdebat dengan saya silakan, kita
demokratis saja.
//Apa tidak ada kemungkinan lain?//
Ya, memang masih mungkin ada kemungkinan ketiga. Kalau tiba-tiba ada orang
yang persis seperti Gus Dur dan mengaku berfoto dengan Aryanti. Kalau
terjadi seperti itu silakan dianalisa oleh orang yang ahli wajah atau orang
yang mengenal Gus Dur. Kemampuan fotografi dan komputer tidak bisa melakukan
itu. (detik.com)
=====
Nah, kami jujur karena mengutip detikcom ......
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!