From: "��" <[EMAIL PROTECTED]>
: He... he,,, juga mBah...
: Ini kan bukan masalah pro dan kontra GD mBah, melainkan
masalah
: pro dan kontra metodologi dan kesimpulan. Kebetulan saja foto
GD
: menjadi topik. Bagi dhong mBah ilmunya. {��}
:-\}
lho, ilmu apa lagi?
kan sudah ada yang fotografer, ahli fisika, seorang wartawan
senior, mantan redaktur tabloid, matematikawan, fisikawan dan
bahkan
(mungkin) iptek-wan (kalau ada jenis pakar itu). weh.... kemarin
Mas
Agus memperpanjang PAKAR jadi (PANdai kelaKAR) lho (^_^).
kalau aku, walaupun sempat diissue-kan amat-terdidik
(*sour-smile*),
kan cumak tukang anggur to, Mas? mangkanya penginnya dah nggak
ikut-ikut lagi deh, biar nggak tambah pusing. apalagi ini
tentang
kevalid-an metodology sehingga terpampang satu lembar foto, yang
diewer-ewer hingga ribuan di dunia maya. ya blass nggak mudeng.
kemarin saya baca mind-to-mind communication-nya Pak Mashuri
dan Pak Roy kan kelihatannya begitu mendetail ya? baik yang
bertanya (menyanggah) maupun menjawab (juga menyanggah)
hehehe.. ingat posting milist sebelah yang mempertanyakan
arti nama SOELOYO jadinya. q-q-q. (yang kenal soeloyo
membela mati-matian bahwa yang mengambil nama itu pasti
tahu dan mampu menerangkan sisi positif ke-soeloyo-annya,
yang belum kenal dan kebetulan ahli bahasa jawa/sunda
menganggap soeloyo ngambil nama sakenaknya sendiri
bahkan melecehkan nama pemberian orang tua, kenapa
diganti.. hihik.. sekarang soeloyo juga masih membiarkan
anggota milist itu untuk menilainya..)
cumak ada satu pesan kenangan masa lalu Mas. sewaktu
masih seneng-2nya baca Cerbung alm. SH Mintardja. Apa
lagi yang judulnya Naga Sasra Sabuk Inten yang kaya muatan
sejarah dan hikayat serta legenda itu. Campur aduk memang,
tapi sungguh menarik Gambar Sampulnya kan? Sebuah gambar
sampul yang saya yakin benar sekali metodology montage hingga
pencetakannya. Tapi isi Cerbung itu kan campur aduk. Ada
benar-nya ada kelirunya. Toh pembaca tidak memperhatikan
bagian yang campur-aduk ini. Mereka menikmati. Ada yang
terharu, saat Mahisa Jenar harus berpisah sementara dengan
Rara Wilis, misalnya. Atau terbahak-ahak ketika Ki Ageng
Lembu Sora Sepuh menyamar jadi orang tua pikun yang
membunuhi para pengacau di Pibu Banyubiru dengan
mencengkerami kaki-kaki mereka...? wis.. malah nggladrah.
jadi, soal foto, boleh saja itu palsu hasil montage dan sunting
(disusun pakai gunting). boleh saja asli karena dicetak dari
film-negatif asli-sli. Lha dari sini kan juga bisa
ditanyakan, "yang dijepret" itu asli adegan sandiwara
atau seperti orang bikin film kartun? banyak kan masalah
yang bisa di-ekstrak dari omong-omong tentang metodology?
malah benar-tidaknya berita yang melatar belakangi foto
gambar sampul itu nggak karuan ujungnya. tapi, sekali
lagi aku setuju berat dengan pernyataan Gus Mus
tempo hari itu: "Mereka saling menelanjangi diri, baik
benar atau bohong berita itu, yang membuat masyarakat
bisa tertawa...." (tak tambahin sendiri: sembari terpingkal-
pingkal, tak sadar kalau mau terjungkal)
bye...
soeL
-----
:
:
:
:
:
:
:
:
:
: ->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
: Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN
SENDIRI
: Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
: Keluar: [EMAIL PROTECTED]
:
: Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!