Aswat bermaksud ingin menyatakan, apa yang diberikan
Mashuri di luar yang ia bayangkan, sangat banyak dan
jelas. Ia maksudkan 'bukan pencerahan lagi' yang
diartikan sebagai sebuah pujian, dan penjelasan
Mashuri adalah 'super pencerahan'. Mashuri jangan
salah sangka. Dan aku juga thanks banyak atas tulisan
Anda yang 'enak tenan....'
-------
--- "M.Mashuri Alif" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> ac:
> Wah ...wah... kalau ini mah nggak tercerahkan lagi..
>
> Mashuri:
> Apa yang tidak tercerahkan, bisakah anda menjelaskan
> lebih rinci. Saya hanya
> menjelaskan dalam kontek ilmu sosial artinya agar
> bisa menimbang-nimbang,
> sebenarnya ada berapa kekuatan sosial di dunia.
>
> Bagi seorang Marxis didunia ada dua kelompok sosial
> :
> Kaum Borjuis (pemilik modal) VS Kaum Proletar
> (buruh) dan kelompok pemodal
> berusaha menaikan surplus, salah satunya dengan cara
> memperkecil pengeluaran
> untuk membayar buruh/pekerjanya.
>
> Bagi seorang Kapitalis atau adam smit. Menilai bahwa
> didunia ini tidak ada
> perbedaan sosial tetapi yang ada persaingan. Dan
> kekayaan mereka tidak mau
> diatur atas usaha persaingan pasar.
>
> Bagi kalangan Sosial Demokrat: persaingan Pasar itu
> perlu tetapi perlu juga
> memperhatikan kaum buruh dan kesejahtraanya. Dan
> perlu peraturan pasar dan
> melibatkan buruh dalam kepemilikan modal.
>
> (Tiga hal diatas yang saya pelajari tiorinya
> demikian, tetapi prakteknya
> saya belum tahu, sedangkan dunia sekarang ini sedang
> bergerak ketiga hal
> diatas).
>
> Ac:
> .....Membaca tulisan pak Mashuri dan membaca
> Sosialisme Religius itu
> kemudian melihat
> realita saat ini koq rasanya ada yang nggak pas ya
> Pak..
>
> I can't say a word..., demikian ungkapan mengatakan
> karena
> tanggapan yang beyond my expectation.
>
> Mashuri:
> Maaf, saya kurang mengerti. maksud anda yang tidak
> anda harapkan dari
> tulisan saya atau dari buku yang di tulis oleh Hatta
> tersebut?
> Anda harus belajar dulu sejarah Indonesia. Jika anda
> ingin memperdalam
> tentang sepak terjang Hatta sendiri. Mungkin anda
> akan lebih tercerahkan.
> Memang hatta itu seorang "sosialis" tetapi pisau
> analisanya bukan marx.
> Seperti yang saya postingkan sebelumnya. Bagi saya
> dia lebih condong
> dipandang sebagai seorang Sosdem-lah begitu. Dan
> pada jaman demokrasi
> liberal Hatta lebih dekat dengan tokoh-tokoh PSI
> (partai sosialis Indonesia)
> bedakan partai sosialisnya amir Syarifudin.
> Dan kesalahan Sukarno adalah (seperti yang
> dikemukakan Permadi) melarang PSI
> dan Mashumi karena dampak pemberontakan di sumatra,
> jawa dan sulawesi.
> Banyak dugaan menuduh Hatta lebih condong ke
> Amerika.
> Bedakan juga dengan Tan Malaka seorang misterius,
> dia memakai pisau analisa
> marx tetapi karena ia guru matematika ia menambahkan
> tiorinya dengan tiori
> logika. Berbeda dengan marx yang hanya Materialisme,
> Historis dan
> dialektika. Tan malaka dikenal dengan tiori Madilog;
> Materialisme,
> Dialektika dan Logika (melupakan historisnya). Ia
> banyak dipelajari oleh
> mahasiswa paska kelompok diskusi yaitu setelah
> NKK/BKK diberlakukan.
>
> ac:
> Ini akan saya print dan biar menjadi pedoman
> anak-anak muda itu
> didalam penelusuran selanjutnya. (boleh kan?)
> Maklum, mainstream
> generasi muda kita kan a histori.... Jadi, cenderung
> memakai kaca
> mata kuda gitu lah...
>
> Mashuri:
> Silahkan saja, semoga ini tidak menjadi penyimpangan
> baru. harapan saya
> perburuan harus terus dilakukan untuk menyatukan
> kembali puing-puing yang
> sudah berserakan.
>
> ac:
> Kalau saya diijinkan melanjutkan perburuan ini,
> bolehkah saya
> mengetahui bagaimana pendapat Pak Mashuri mengenai
> sosialisme ala
> Indonesia menurut Soekarno?
>
> Mashuri:
> Mungkin untuk kontek sukarno menurut saya tidak
> cukup saya menuliskan
> pendapat beliau. Dalam dibawah bendera revolusi saja
> itu ada empat atau tiga
> jilit dan tebelnya minta ampun. Tetapi disana
> sebagai seorang ilmuan ia
> tidak mau membohongi sejarah, banyak kutipan tentang
> buruh, petani, Lenin
> dan marx. Karena ia juga banyak belajar kepada
> orang-orang sosialis ketika
> ia dibuang ke Digul. Dan masalah sejarah inilah yang
> menarik buat saya dalam
> membaca tulisan Sukarno.
>
> Tetapi ia (menurut saya) bisa dikatagorikan Sosdem
> juga. Kerena menurut
> beliau ia sendiri belum mengerti tentang sosialisme
> apa yang cocok untuk
> Indonesia karena keburu meletus pemberontakan G 30
> S. Ia baru meletakan
> pijakan nah biasanya orang-orang yang meletakan
> pijakan di sebut seorang
> Sosdem begitu (menurut saya). Kalau sekarang ini, ya
> seperti Budiman
> Sudjadmiko-lah.
>
> Nah, untuk ilmu pengetahuan saja.
> Biasanya kontek Nasionalisme akan laku ketika adanya
> bahaya atau ancaman
> dari luar. Maka di Indonesia, India dan negara lain
> yang terkenal dampak
> kolonialisasi laku faham ini. Karena itu Sukarno,
> Gandi, dll membentuk
> kekuatan ketiga didunia yang disebut kekuatan
> NON_BLOK.
>
> Tetapi menurut sejarah juga faham Nasionalisme juga
> sering diselewengkan.
> Anda basti tahu Fasis jerman yang disebut NAZI dan
> membuat kekecewaan
> kalangan sosialis jerman tersebut. NAZI kepanjangan
> dari "Nasionalis
> Sosialis". Tiori ini juga ada dasar filsafatnya
> (maaf saya lupa tokohnya),
> kemudian dipraktekan oleh Musolini seorang sipil
> Italia dan Hitler Jerman.
> Hal inilah yang menyebabkan kebangaan yang
> berlebihan dari sikap rasa
> Nasional tadi. Dan jahatnya tiori inipun
> dipergunakan dalam bentuk agama.
> Agama katolik diperalat untuk kejayaan bangsa Aria
> dijadikan pembenaran
> untuk membantai orang-orang Yahudi. Turunan dari
> sikap fasis ini adalah
> munculnya sikap rasis. Di eropa cukup banyak orang
> yang rasis walaupun faham
> Fasisme sudah tidak ada. Di australia malah membuat
> partai. Di swedia malah
> diperbolehkan lagi dalam memerintah swedia. Di
> indonesia banyak juga
> pengikutnya. Lihat kerusuhan RAS CINA kemarin. Jika
> dirunut sejarahnya
> terbukti partai fasis pernah hidup di indonesia,
> sikap atau propaganda rasis
> memang sengaja di hidupkan guna kepentingan ekonomi
> dan politik.
>
> Nah kembali kita kepada Sukarno, dalam bendera
> revolusi kalau tidak salah
> beliau juga menganalisa tentang Fasis tersebut. Dan
> pemikirannya saya pikir
> tidak demikian. Menurut saya Sukarnopun pada saat
> itu terpengaruh tiori Mao
> akibat perpecahan idiologi Komunis di dunia, yang
> dikenal dengan sebutan
> poros Uni sovyet dan Cina. Maka ia menyebutkan
> tiorinya dengan sebutan
> Marhain. Seorang petani yang mempunyai sebidang
> tanah tetapi juga mengarap
> ladang milik tuan tanah. Revolusi Komunis Cina
> berbeda dengan revolusi di
> Rusia, Revolusi Cina di pelopori oleh petani karena
> perkembangan teknologi
> belum seperti yang terjadi di Eropa. Jadi Industri
> belum begitu besar
> dibandingkan rakyat cina, oleh sebab itu setelah
> revolusi sosial kemudian
> dilakukan revolusi Budaya untuk menghapuskan tradisi
> feodalisme Cina yang
> tersohor itu (nah masalah ini bisa diserahkan kepada
> pada budayawan kita
> saja untuk menganalisanya).
>
=== message truncated ===
=====
Sugih durung karuwan, sombong didisikno...
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Yahoo! Mail - Free email you can access from anywhere!
http://mail.yahoo.com/
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!