-----Original Message-----
From: Rury [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: 13 September 2000 7:03
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: RE: [Kuli Tinta] ada hubungan?


>Agus Satrio:
>Revolusi sosialisme dan budaya di Cina sering ditanggapi sebelah mata oleh
banyak orang. Namun
bagi yang mengerti dan merasakan bagaimana sekarang Indonesia dan juga dunia
diserbu oleh
barang-barang made in China, pasti tanpa ragu akan bilang betapa berhasilnya
revolusi Cina dalam
mengikis feodalisme yang telah berakar ribuan tahun. Revolusi itu telah
menjadikan masyarakat yang
egaliter dan setara. Bila disitu penghormatan pada kemanusiaan dan individu
ditambahkan, maka
masyarakat Cina sudah siap untuk menjadi masyarakat yang modern.
>
>Dari lagu kebangsaan Cina bisa dirasakan tekanan yang bagus yakni
'Bangunlah engkau semua yang
tidak ingin jadi kuli...'. Bandingkan dengan lagu Indonesia Raya, dimanakah
fokusnya, di
'bangunlah jiwanya-bangunlah badannya', atau di 'merdeka-merdeka', atau
'Indonesia Raya'? Saya
merasakan di 'Indonesia Raya', yang rasanya identik dengan Jerman Raya, Asia
Timur Raya, Serbia
Raya. Pax Romana, Pax Americana. Bila mendengar kata 'Raya' yang teringat
adalah tumpukan mayat,
penderitaan, pembunuhan, dll. Kupikir Indonesia juga memerlukan revolusi
budaya. Dan itu tidak
bisa diserahkan pada 'budayawan' saja. Kemarin Prof. Soetandyo (guru besar
unair) bilang bahwa
korupsi sudah membudaya, dan dia bilang penyelewengan budaya harus juga
ditumpas dengan cara-cara
budaya. Enggak cukup lewat hukum atau badan-badan. Ini salah satu contoh
saja. Revolusi kebudayaan
akan membawa transformasi cara-cara berpikir, bukan hanya sekedar reformasi.


Mashuri:
Wah, statement anda bagus & opini anda ini cukup baik. Tetapi tanpa
mengurangi makna penghormatan saya.
Dalam menganalisa Cina kita harus punya pegangan Geografis Cina pada
umumnya. Cina adalah masyarakat yang jumlah penduduknya sangat besar hampir
200 juta jiwa (bandingkan dengan Indonesia) jadi sebagai pelajaran "mungkin"
baik kita belajar dari cina. Hampir seluruh masyarakat cina memiliki tanah
untuk digarapnya bedakan dengan India?

Tetapi anda salah (menurut saya) dalam menganalisa masyarakat Cina. Anda
tahu pristiwa Tiananmen kan. Peristiwa itu terjadi setelah revolusi
kebudayaan Cina. Dan dipelopori oleh kalangan Sosialis muda Cina modern. Hal
ini juga ada baiknya diluruskan. Banyak dugaan pristiwa ini digerakan oleh
pihak Amerika yang tidak menyukai pemerintahan Cina. Saya menjawab salah.
Gerakan ini digerakan oleh kalangan terpelajar, yang ingin meluruskan makna
dari cita-cita sosialis yang mulai disimpangkan oleh birokrat Cina, yang
mulai sama dilakukan oleh pendahulu mereka di Uni Soviet dan mungkin
Indonesia era orde baru. Yang menurut almarhum Romo mangun disebutkan
menjadi Birokrat kapitalis.

Pemerintahan Cina sekarang melakukan transpormasi dari kejadian tersebut
diatas. Membuka salah-satu propinsi sebagai bukan hanya proyek percontohan
Industri besar yang anda sebutkan berhasil melakukan expansi produknya
sampai ke Indonesia.

Tuntutan dari kejadian Tianament adalah, mulai terbukannya ruang penganguran
terdidik di Cina. Oleh sebab itu orang tua mereka (petani) juga mendukung
tuntutan anak-anak mereka melihat sudah saatnya tanah mereka yang
ditinggalkan setelah revolusi Cina dapat menutupi kehidupan. Karena setiap
tahun pendapatan petani kian menurun bukan meningkat (hukum ekonomi klasik),
karena yang makanpun kian bertambah. Oleh sebab itu harus ada proses
modernisasi. Dengan adanya Industrialisasi menurut konsep sosialis
(kolektif) maka pekerjaan akan terbuka luas. Akibatnya Cina mulai terlibat
dalam kegiatan pasar global. Artinya pemerintah Cina harus siap berjudi
terhadap 200 juta penduduknya untuk bersaing dengan pasar dari negara-negara
maju lainnya. Oleh sebab itu Cina juga menghadapi dapak krisis ekonomi
walaupun tidak separah dengan yang terjadi di Indonesia.

Anda salah lagi tentang menganalisa Cina dengan Indonesia. Cina walaupun
awal revolusinya bertujuan sosialis, tetapi prakteknya nasionalis. Karena
dalam literatur sosialisme tidak ada perkataan negara yang ada Dewan, bahasa
rusianya Soviet. Jadi Uni Soviet berati banyak Dewan (bedakan dengan
Uni-eropa). Lagu kebangsaan Cina jelas mengambarkan rasa "kebangsaan" yang
tinggi (tanda petik untuk mencegah agar bung agung tidak terjebak dalam kata
Nasionalisasi). Tetapi ia menjelaskan dalam lagu tersebut keterpihakannya,
karena revolusi politik sudah mereka menangkan, kubu Komintang (kalau tidak
salah apa Kocantang ya saya lupa) sudah melarikan diri dan mendirikan negara
Ke Taiwan, sebagian lagi diambil oleh Imprialis Ingris yaitu Hong Kong
(tahun 1997 sudah dikembalikan). Kesimpulannya sebagai Negara kerakyatan
(republik rakyat Cina) bangsa Cina lewat lagu kebangsaannya menjelaskan
keterpihakan mereka.

Lagu Kebangsaan Indonesia juga bagus (bukan berarti kemudian saya dituduh
pendukung nasionalis) penekanan Lagu Indonesia Raya pada Kata Merdeka, bukan
pada kata Rayanya. jadi anda salah lagi. Orang Komunis, Sosialis, liberal,
Demokrat, Agama, kaum feodal dll (kecuali bukan antek-anteknya kolonial),
dapat menerima lagu itu, karena kepentingan mereka pada saat itu sama yaitu
merdeka. Oleh sebab itu disebutkan Revolusi Kemerdekaan. Bukan revolusi
Sosial seperti yang terjadi di Cina.

Hal ini juga ada beberapa sebab, karena peta politik Indonesia terutama
kalangan Komunis atau Sosialis di Indonesia masih memegang patron ke Uni
Soviet yang melakukan strategi kompromi dengan negara-negara Kapitalis dalam
menghadapi perang dunia Kedua. Amir sarifudin tidak mau menuntaskan revolusi
kemerdekaan menjadi revolusi sosial karena itu. Berbeda dengan cina yang
tidak berpatokan terhadap Uni soviet. Akibat masih patronnya saat ini
tersebut kalangan kiri menuduh terjadi peristiwa Madiun. Hal ini terjadi
karena profokasi Amerika dengan dukungannya terhadap proses Rasionalisasi di
Jajaran Militer. Kita tahu pada saat itu rakyat bersenjata semua dari semua
kepentingan politik, semua dilucuti dan diberikan kepada yang profesional
menurut yang pro Amerika Yaitu Kenil dan Peta, oleh sebab itu tokoh-tokoh
yang terkenal kemudian dalam sejarah Indonesia pasti dari kenil dan Peta
Buatan Belanda dan Jepang. Macam Nasution dan Suharto. Kita kurang mengenal
siapa tokoh laskar Hisbulah misalnya? Rasionalisasi militer ini sebenarnya
tidak didukung panglimanya sendiri. karena Sudirman sendiri bukan dari
kalangan Militer profesional. Tuduhan kaum kiri terhadap kasus Madiun ini
pernah di sidangkan pada jaman Sukarno. Aidit pada saat itu menuduh Hatta
yang menyebabkan terjadinya profokasi Madiun. Tetapi oleh sukarno pengadilan
ini tidak diteruskan. Akibatnya beban tersebut di serahkan kepada anak
cucunya kelak. Rasionalisasi kemudian lebih dikenal dengan sebutan Dwi
Fungsi ABRI.

>Agus Satrio:
>Kalau pak Mashuri bertanya apa selamanya bangsa ini akan menjadi bangsa
agraris? Saya bisa jawab
ya bisa saja. Bisa saja bidang garapannya adalah bidang agraris. Namun yang
penting disini kan
mentalnya. Kalau mentalnya tetap agraris ya ini yang celaka. Namun Yang
diharapkan adalah meski
masyarakat kita masyarakat agraris mentalnya harus diubah sesuai dengan
perkembangan jaman. Jaman
memang berganti dari agraris, ke industri, pasca industri, informasi, dan
sebentar lagi bio
teknologi, namun bukan berarti bila sudah berganti maka akan ditinggalkan.
Masyarakat industri
tidak menyingkirkan masyarakat agraris, masyarakat pascaindustri tidak
meninggalkan masyarakat
industri. Yang berbeda cuma mentalnya saja.
>
>Juga perlu diingat kembali bahwa pemikiran Marx dan derivatnya (sosdem,
ataupun sos-sos lain)
adalah pemikiran khas jaman industri. Apakah pemikiran itu cocok untuk
masyarakat agraris,
tentunya perlu dilakukan penyesuaian.
>
>Sebenarnya ada alternatif lain selain pemikiran materialisme dialektik,
seperti pernah saya
singgung saat menanggapi perkara globalisasi dan internasionalisme. Yakni
pemikiran masyarakat
konvivial, yang disumbangkan oleh Ivan Illich ataupun Lewis Mumford.


Mashuri:
Maaf; saya melihat anda seperti pengikutnya Stiawan Judi, sedikit-sedikit
bicara revolusi budaya, tanpa menganalisa apek sosial politik dan ekonomi.
jangan bicara budaya jika masalah sosial belum selesai (menurut saya).
Mambaca tulisan anda seperti menjawab telur duluan atau ayam duluan yang
lahir. Saya waktu kuliah terlibat aktif dalam kegiatan beberapa LSM baik
yang bergerak dalam bidang pertanian di desa dan Industri dikota. Dari
dampak sosial yang diakibatkan keduannya saya dapat menyimpulkan atas makna
kemanusian.

Saya salut anda juga mempelajari tiori-tiori sosial. Dan saya dukung
terhadap si Ivan dan Lewis. Saya pernah baca beberapa tulisannya. Coba anda
jelaskan lebih rinci tentang persamaan tiori kelasiknya Mark dengan mereka.
Karena saya baru terlibat lagi dimilis ini setelah absen hampir setahun.
Ketakutan saya anda seperti yang dikatakan bung Ac bahwa kita semua atau
kalangan terdidik seperti memakai kacamata kuda, tanpa mau memperdebatkan
referensi dari disiplin ilmu lainnya.

Steatmen anda absurt, saya kurang paham apa yang anda maksud dengan mental.
Anda harus jelaskan dulu apa itu pertanian dan Industri. Baru anda bicara
tentang mental masyarakatnya (budaya). Menurut saya masyarakat pertanian itu
hidupnya pada jaman feodal, jaman dimana adanya banyak Lord (tuan tanah),
ada sebutan pengarap dan sebagainya. Pada masayarakat yang lebih moderen
(masyarakat kapitalistik) seharusnya masyarakatnya sudah berubah menjadi
Industri (total Industri macam Amerika Serikat). Kemudian yang kita kenal
adalah masyarakat transisi macam Cina, Indonesia, india dll. Maaf jika saya
mengutip marx lagi (semoga anda mau membaca buku marx) mengatakan; "Ibu
kandung dari Sosialisme adalah Kapitalisme", Jadi Sosialisme tanpa melewati
masyarakat Kapitalisme tidak mungkin. Oleh sebab itu saya katakan tadi bahwa
Cina masih memerlukan beberapa tahapan revolusi untuk menuju kepada revolusi
Sosialis.

Sedangkan untuk Indonesia Sendiri kenapa pertanian (agraris) masih
dipertahankan. Karena Tidak ada di Indonesia terjadi Revolusi Borjuis
(menghancurkan kerajaan/tuan tanah) seperti di Prancis.Penjajah Belanda
tidak menghancurkan kerajaan-kerajaan yang ada tetapi malah mempergunakan
untuk memperalat rakyatnya (pelajari politik penjajah Belanda). Jadi Penjaja
di Indonesia mempergunakan otaknya dalam meperalat kaum feodalis di
Indonesia. Gelarpun yang memberikan orang Belanda kepada kaum keraton Jawa,
begitu juga dengan pakaiannya. Kesimpulannya masyarakat Indonesia adalah
masyarakan Kapitalis yang masih membawa sisa-sisa feodal. Walaupun sisa-sisa
suharto dapat mempergunakan yang sisa itu untuk berkuasa selama 32 Tahun.
Buktinya adalah menjilat keatas menginjak kebawah dll. Tidak mengenal protes
dan demonstrasi dll. Dalam milis inipun masih banyak yang mempergunakan hal
tersebut, tanpa disadari.

Dampak dari masyarakat modern (Kapitalisasi) adalah emohnya andak-anak
petani (seperti yang saya tulis sebelumnya) untuk mengarap lagi sawahnya.
Permasalahnnya bukan berat atau ringannya. Bukan juga seperti yang
digambarkan dalam TV bahwa akibat glamor kehidupan kota. Malah kehidupan
buruh di perkotaan bisa dikatakan lebih buruk dari di desa. Masalahnya hasil
produksinya yang lambat. Hasil produksi di kota lebih cepat dan
penghasilannyapun cepat. Didesa pertaniannya lama dan hasilnyapun lama. Oleh
sebab itu lama kelamaan masyarakatnya (dalam mengupas pandangan Sukarno
dalam konteks Marhain) pertanian jika tidak di Industrialisasikan bisa
mengalami kelaparan. Akibat dari dapak tersebut bangsa kita masih mengekport
makanan dari negara-negara yang non agraris untuk persiapan bahan pangannya
(bukan begitu). Jadi Indutri dalam pertanianpun sudah menjadi kewajiban,
masalahnya bagaimana merealisasikan itulah tugas kita semua. Apakah secara
kolektif, Koperasi atau lainnya. Jika tidak akibatnya jika perjanjian WTO
direalisasikan pihak asing yang mempergunakan di Indonesia. dan
sewaktu-waktu apabila terjadi krisis ia bisa pindah kenegara lain begitu
juga dengan modal mereka. Dan berkali-kali kita belajar terhadap kekayaan
alam misalnya Minyak, Emas di Irian dll.

Agro industri, seperti PTP nantinya akan dikelola oleh swasta. Dahulu
dikuasai birokrat. Dan untuk memperkaya diri (korupsi dan sebagainya)
bekerjasama dengan BULOG. Yang swastanya yang saya tahu suharto dengan
peternakan sapinya.

Tetapi ada dua hal yang menarik untuk didiskusikan akan datang:
Pertama: Partanian di Jawa dan di luar jawa. Pertanian di jawa akibat dampak
feodalisme Indonesia yang bertingkat. Menyebabkan tuan-tuan tanah jawa
memiliki tanah tidak seluas dengan tuan tanah (atau kelas menengah) di luar
jawa. Sistem pertanian apa yang cocok untuk dua daerah tersebut Jawa dan
luar jawa. Mana yang didahulukan untuk dijadikan tempat Agroindustri jawa
atau luar jawa.


>Agus Satrio.
>Saya mau tanya ke pak Mashuri, kenapa sih kelas menengah kita ini memble
begini? Mental apakah
yang merasuk pada kelas menengah kita ini, apakah mental Dr. Faust ataukah
mental priyayi atau
tengku? Juga pendidikan kita ini (baik di sekolah maupun di lingkungan
sosial) lebih menekankan
pada pelatihan otak kiri (logika, perhitungan, rekayasa, teknis, matematika)
ataukah pelatihan
otak kanan (intuisi, imajinasi, perasaan, seni)?


Mashuri:
Karena faktor historis tadi bahwa watak feodal itu tidak dihancurkan
sehingga dia tetap hidup dalam kehidupan kita. Mungkin ada suatu daerah di
Indonesia yaitu kerajan Melayu deli serdang Sumatra Utara. Walaupun para
budayaawan harus terus menyelidikinya.
Tetapi dari diatas kita bisa melihat keterbukaannya dibandingkan orang-orang
jawa. Maaf bukan kesukuan. Karena penindasan Raja di jawa lebih kejam di
bandingkan di luar jawa. Dan kerajaan lebih luas dan bertingkat. Bedakan
dengan raja atau tuan tanah di sumatra misalnya.
Sehingga jangan aneh kejahatan di Indonesia bisa lebih kejam dari
kejahatan-kejahatan di negara maju.
Yah itulah beban yang kita alami. Baca buku-buku sejarah. atau prosanya
Pramudya anantatour.

Kapitalisme menimbulkan modernisasi dan Indutri, Industri produk dari
teknologi. teknologi bermata dua baik dan buruk dan mahal. Semoga yang baik
dan murah dapat lebih dikembangkan di Indonesia. Misalnya teknologi Internet
media masa Koran majalah. Dan kegiatan yang lebih dititik beratkan pada
tiori dan praktek.

Sebagai penutup saya buat contoh masyarakat kita dengan masyarakat yang
lebih maju.

"Seorang ibu dengan anaknya memasuki pintu otomatis dalam sebuah pertokoaan.
Sang anak rupanya memperhatikan pintu tersebut. Lalu tanpa sepengetahuan
ibunya ia hampiri dan bermain keluar-masuk pintu tersebut. Ketika ibunya
melihat kelakuan sang anak, sang ibu tersebut langsung memerahinya anaknya,
sambil menakuti-nakuti, nanti begilah begitulah" Anak tersebut tetap tidak
mendapatkan jawaban dan terekam dalam memorinya otaknya. Sang anak takut
untuk mencari pencarian baru.

(hal yang sama dalam proses, hantu komunis itu dalam sebuah Film G 30 S PKI,
film tersebut sangat tidak mendidik)

Contoh dan kejadian sama tetapi orangnya berbeda yaitu orang dari negara
yang lebih maju (eropa);
"Sang ibu menghampiri anaknya lalu, dijelakan secara sederhana (tanpa
memarahi kelakuan anaknya yang pergi tanpa ijin) bahwa diatas kepala sang
anak ada kamera dan infra merah, jika terlewati infra tersebut akan
mengerakn listrik dan seterusnya dstrnya. Sang anak puas dan terus melakukan
pencarian baru.

>agusssssss:
>Terima kasih pak Mashuri.

M. Mashuri Alif:
Sama-sama semoga tercerahkan. ha...ha...




->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke