--- "M.Mashuri Alif" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Revolusi Komunis Cina berbeda dengan revolusi di
> Rusia, Revolusi Cina di pelopori oleh petani karena perkembangan teknologi
> belum seperti yang terjadi di Eropa. Jadi Industri belum begitu besar
> dibandingkan rakyat cina, oleh sebab itu setelah revolusi sosial kemudian
> dilakukan revolusi Budaya untuk menghapuskan tradisi feodalisme Cina yang
> tersohor itu (nah masalah ini bisa diserahkan kepada pada budayawan kita
> saja untuk menganalisanya).
>
> Nah kalau benar dugaan yang diinginkan sukarno seperti Cina. Saya pribadi
> rasanya kok kurang setuju (walaupun saya mendukung yang setuju juga).
> Kelemahan analisa sosialisme ala Marhain tersebut adalah; ada basis-basis
> material atau nyatanya seperti mayoritas bangsa kita petani. Tetapi ia
> melupakan dialektika dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Apa
> selamanya bangsa ini akan menjadi bangsa agraris?
Revolusi sosialisme dan budaya di Cina sering ditanggapi sebelah mata oleh banyak
orang. Namun
bagi yang mengerti dan merasakan bagaimana sekarang Indonesia dan juga dunia diserbu
oleh
barang-barang made in China, pasti tanpa ragu akan bilang betapa berhasilnya revolusi
Cina dalam
mengikis feodalisme yang telah berakar ribuan tahun. Revolusi itu telah menjadikan
masyarakat yang
egaliter dan setara. Bila disitu penghormatan pada kemanusiaan dan individu
ditambahkan, maka
masyarakat Cina sudah siap untuk menjadi masyarakat yang modern.
Dari lagu kebangsaan Cina bisa dirasakan tekanan yang bagus yakni 'Bangunlah engkau
semua yang
tidak ingin jadi kuli...'. Bandingkan dengan lagu Indonesia Raya, dimanakah fokusnya,
di
'bangunlah jiwanya-bangunlah badannya', atau di 'merdeka-merdeka', atau 'Indonesia
Raya'? Saya
merasakan di 'Indonesia Raya', yang rasanya identik dengan Jerman Raya, Asia Timur
Raya, Serbia
Raya. Pax Romana, Pax Americana. Bila mendengar kata 'Raya' yang teringat adalah
tumpukan mayat,
penderitaan, pembunuhan, dll. Kupikir Indonesia juga memerlukan revolusi budaya. Dan
itu tidak
bisa diserahkan pada 'budayawan' saja. Kemarin Prof. Soetandyo (guru besar unair)
bilang bahwa
korupsi sudah membudaya, dan dia bilang penyelewengan budaya harus juga ditumpas
dengan cara-cara
budaya. Enggak cukup lewat hukum atau badan-badan. Ini salah satu contoh saja.
Revolusi kebudayaan
akan membawa transformasi cara-cara berpikir, bukan hanya sekedar reformasi.
Kalau pak Mashuri bertanya apa selamanya bangsa ini akan menjadi bangsa agraris? Saya
bisa jawab
ya bisa saja. Bisa saja bidang garapannya adalah bidang agraris. Namun yang penting
disini kan
mentalnya. Kalau mentalnya tetap agraris ya ini yang celaka. Namun Yang diharapkan
adalah meski
masyarakat kita masyarakat agraris mentalnya harus diubah sesuai dengan perkembangan
jaman. Jaman
memang berganti dari agraris, ke industri, pasca industri, informasi, dan sebentar
lagi bio
teknologi, namun bukan berarti bila sudah berganti maka akan ditinggalkan. Masyarakat
industri
tidak menyingkirkan masyarakat agraris, masyarakat pascaindustri tidak meninggalkan
masyarakat
industri. Yang berbeda cuma mentalnya saja.
Juga perlu diingat kembali bahwa pemikiran Marx dan derivatnya (sosdem, ataupun
sos-sos lain)
adalah pemikiran khas jaman industri. Apakah pemikiran itu cocok untuk masyarakat
agraris,
tentunya perlu dilakukan penyesuaian.
Sebenarnya ada alternatif lain selain pemikiran materialisme dialektik, seperti pernah
saya
singgung saat menanggapi perkara globalisasi dan internasionalisme. Yakni pemikiran
masyarakat
konvivial, yang disumbangkan oleh Ivan Illich ataupun Lewis Mumford.
>
> Tetapi Industrialisasi ditandai dengan perkembangan kelas menegah di
> Indonesia. Saya bisa nyatakan saya setuju sekali tetapi apakah ini menjadi
> solusi dapat menciptakan masyarakat yang adil dan makmur di Indonesia saya
> belum tahu. Ini sulit tugas pemerintah gusdur mungkin. Menurut saya marhain
> itu kelas menengah. Dan menurut saya cita-cita Sukarno sudah kecapaian,
> kelas menengah sudah berkembang. tetapi apakah adil dan makmur nah ini
> belum, apalagi ditandai dengan ancaman penganguran dan upah yang minim.
>
> Tetapi saya sangsikan perkembangan kelas menengah tanpa ditandai dengan
> perkembangan ilmu pengetahuan (pendidikan) dan Industri (teknologi). Wah
> Indonesia bisa mengalami kehancuran sama seperti rakyat Afrika pada umumnya.
> Oleh sebab itu prasarana peraturan mungkin solusinya. Otonomi daerah, dapat
> mengembangkan industri menegah ke atas di daerah-daerah dan alih teknologi
> dengan negara maju yang ada di eropa (terutapa masyarakat Uni-eropa)...Amin.
> Kita tunggu saja.
Saya mau tanya ke pak Mashuri, kenapa sih kelas menengah kita ini memble begini?
Mental apakah
yang merasuk pada kelas menengah kita ini, apakah mental Dr. Faust ataukah mental
priyayi atau
tengku? Juga pendidikan kita ini (baik di sekolah maupun di lingkungan sosial) lebih
menekankan
pada pelatihan otak kiri (logika, perhitungan, rekayasa, teknis, matematika) ataukah
pelatihan
otak kanan (intuisi, imajinasi, perasaan, seni)?
Terima kasih pak Mashuri.
agusssssss
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Yahoo! Mail - Free email you can access from anywhere!
http://mail.yahoo.com/
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!