Agus Satrio:
Ada yang salah maksud disini. Saya tidak setuju bahwa suatu saat masyarakat
agraris itu mati. Yang
mati bukan masyarakatnya tapi cara berpikirnya/wataknya. Masyarakat agraris
bakalan tetap ada.
Kalau enggak ada terus manusia makan apa coba? Bila dirunut dari sejarahnya
yang ada adalah
transformasi cara berpikir. Dari masyarakat agraris menjadi industri.

Mashuri Alif:
Anda masih berpegangan dengan konsep pemikirannya Ivan silahkan saja. Tetapi
bangsa amerika Tidak mati kok? Anda tidak mengerti kontek tulisan saya baik
secara filsafat maupun secara budaya. Tulisan diatas persis tentang
perdebatan aktivis buruh lalu ketemu aktivis Tani.

Agus Satrio:
Untuk Indonesia dalam jangka waktu yang lama sektor pertanian masih akan
sangat vital bagi
eksistensi bangsa kita. Sejalan dengan perkembangan industri maka seharusnya
cara-cara pertanian
juga dikelola dengan cara-cara dunia industri. Dan disini diperlukan
transformasi cara berpikir.
Tulisan F. Rahardi di Kompas bulan lalu telah menyinggung hal ini. Dia
bilang bahwa cara berpikir
serta kebijaksanaan pemerintah sampai sekarang tidak beda dengan cara
berpikir saat jaman tanam
paksa. Perlu perubahan cara berpikir. Yakni cara-cara modern (industri).
Cuma yang ingin dihindari
(dan ini jadi inti diskusi ini, kapitalis, sosdem, globalisasi) adalah
eksesnya khan. Industri
selalu membawa rasionalisasi dalam penggunaan modal, energi, dan
administrasinya. Tak terelakkan,
sentralisasilah kecenderungannya. Sentralisasi pada akhirnya meminta
standarisasi, keseragaman,
tidak hanya dalam bidang industrinya saja, tapi menjalar ke politik, ekonomi
sosial, lingkungan.
Kalau kecenderungan ini diteruskan mau kemana kita? Krisis yang melanda
Indonesia ini salah
satunya. Juga bagaimana para sosialis menyelesaikannya? Apakah
desentralisasi (termasuk disini
otonomi luas atau federasi) masuk hitungan? Apakah industri yang dibolehkan
oleh faham sosialis
itu bisa bertanggungjawab secara sosial dan ekologis?

Mashuri:
Benar kita tidak ada yang menyalahkan pendapat anda bahwa bangsa kita
"masih" masyarakat agraris, belum Indutri penuh. Tulisan F. Rahardi itu
tidak ada yang salah benar. Memang kondisi obyektif pertanian kita di
terbelakangkan. Bangsa memberikan ruang kepada pasar yang dapat berkompetisi
dengan   dalam produk yang dapat diterima oleh pasar saja. Lihat saja iklan
yang ada di televisi. Sekarang gampang saja jika ada disuruh memilih anda
membaca trubus, Tempo dan Gadis misalnya pasti yang milih trubus lebih
sedikit. itu satu bukti artinya yang diinginkan pasar belum tentu baik untuk
rakyat kan.

Masalah agraris yang musnah.
Masalah redaksional ok kita tidak usah perdebatkan. intinya anda setuju
dengan modernisasi indutri pertanian kan. Jadi nantinya menurut bahasa anda
Industri agraris pertanian, oK lah.

Kedua tokoh tengah-Kiri (selanjutnya saya sebut Kiri) didunia ini. Dalam
menghadapi Kapitalisme Global yang tidak memandang aspek Lingkungan
(ekologi) mendapat kecaman keras di eropa. So, otomatis orang yang mengaku
kiri harus aktif dalam masalah ini, kalau belum memperhatikan lingkungan
jangan katakan kiri. Anda pernah ke jerman Timur. Anda bisa lihat arsitektur
dan tatakota lingkungan dengan jerman barat. Nah, eropa pun mengalami
masalah dari dampak pasar yaitu penganguran, oleh sebab itu Willy breatt
banyak belajar dari perbedaan ini timur dan barat. Contoh lain anda tahu
tidak yang disebut partai Hijau atau Greanpiace itu juga menganut pemikiran
Sosialis.

Dalam menentukan masyarakat Uni-Eropa masalah lingkungan juga menjadi porsi
utama. Bulgaria sendiri ditolak keikutsertaan masyarakatnya dalam Uni-eropa
hanya karena masalah pencemaran. Ada empat kesepakatan yang dihasilkan
kalangan Tengah-kiri yang berkuasa di Eropa. 1. Ekonomi yang lebih manusiawi
(diatur), 2. Upah buruh. 3. Alih Teknologi. 4. Penganguran. 5. Lingkungan.

Sebenarnya pasar bebas tidak memerlukan standarisasi. Tetapi standarisasi
itu dibuat. Tetapi standarnya dibuat secara demokratis atau tidak itu saja.
Jika standarrisasi yang buat hanya melibatkan negara kapitalis (pelaku
pasar), tanpa melihat aspek sosialnya itu yang kita takutkan. Oleh sebab itu
di eropa buru-buru membentuk masyarakat ekonomi baru yang disebut Uni-Eropa
dengan mata uang baru EURO. Bedakan Euro, Uni-Eropa dengan GAT, WTO, OPEC
dan NAFTA serta AFTA.

Untuk negara berkembang seperti Indonesia sendiri, belum sampai dalam
kebijakan seperti di Eropa, malah untuk masyarakat ekonomi di Asean sendiri
saja belum. Mereka pada umumnya masih bergumul pada masalah Nasionalnya
masing-masing. Indonesia masih pada kebijakan moneter dan konsep pemerataan
ekonomi dalam bentuk otonomi dan sebagainya. Memang kita jauh  tertingal.
Tetapi kita sendiri tidak bisa menolak dalam hukum pasar terterpa badai
krisis ekonomi berkepanjangan.

Nah mengenai masalah otonomi atau federalisasi ala indonesia ini saya
mencotohkan kasus yang cukup lucu mengenai kasus ini.
DPR sudah membuat konsep Otonomi dan pelaksanaannya sampai ketingkat II.
Tetapi anehnya banyak kalangan yang marah-marah. Kok tidak sampai tingkat
satu saja. Bukan maksud dan tujuan dilaksanakannya undang-undang tersebut,
tetapi kepentingan (elit) yang lebih didahulukan. Bukan kepentingan rakyat.
Berbusa-busa dijelaskan bahwa kegiatan sosial itu adanya di tingkat dua,
ngak nyambung. Artinya pemerataan kan lebih luas tetapi kok sama daerah
ditolak, Hayo pendukung federalisme bisa tidak menjelaskan.

Nah, selidik punya selidik rupanya ada keinginan politik dibelakang itu
semua. Yaitu untuk menekan pemerintah pusat. Jika sampai pemerintah tingkat
I, berarti sistem yang dianut adalah sistem Federal murni. Dan hal ini
mempercepat proses disintegrasi dengan tujuan kepentingan politik semata.

Selidik punya selidik lagi, rupanya disini ada proyek kepentingan politik
yang luarbiasa besarnya. Yaitu tekanan terhadap pemerintahan yang ada di
jawa terutama Mega dan Gusdur. Kita tahu PDIP dan PKB Menang di Jawa (karena
memang penduduk jawa lebih besar) ketimbang perolehan suara mereka diluar
jawa yang masih dimenangkan Golkar. Namanya juga jaman kapitalis politikpun
akhirnya masuk bursa dagang dong. Dan anehnya lagi ketika beberapa kenalan
wartawan bertanya kepada akbar tanjung, bung akbar menjawab saya tidak akan
menganti sistem negara kita menjadi sitem Parlemen. Nah kalau begini apa
lagi kalau bukan kepentingan politik kekuasaan.

Agus satrio:
Masalahnya kenapa muncul ide federasi atau otonomi luas itu karena dengan
otonomi luas diharapkan
ada desentralisasi baik modal, politik, ekonomi, sosial, dan akhirnya
budaya, yang berpengaruh
pada manusianya. Ini cocok karena (beda dengan Cina) Indonesia negara
kepulauan, dan perlu
penekanan bahwa Indonesia negara maritim (ini sudah dilaksanakan). Saya
sepakat dengan pak
Mashuri, kita tunggu saja bagaimana otonomi luas ini dijalankan.

Eh kalau pak Mashuri kumpulnya dengan orang PSI mbok cerita dong tentang BPD
(Badan Perwakilan
Desa) sebagai implementasi dari UU Otonomi Luas?

Mashuri:
Nah, hal ini kongkrit saya setuju banget. Apapun yang bernama dewan apabila
didirikan atas tujuan dan dibentuk oleh orang-orang praksis yang bergerak
dibedangnya saya mendukung saja (maaf saya banyak kenal mereka tetapi bukan
bagian dari mereka). Anehnya pembentukan dewan ini seperti dewan ekonomi
atau dewan apapun namanya cuma memasukan orang-orang intelektual. Inilah
yang saya kritisi selalu. tanpa melibatkan orang-orang yang melakukan
fraksis langsung dilapangan. Misalnya dewan Ekonomi seharusnya bukan
kumpulan pakar ekonomi, kenapa harus dipisahkan dengan pelaku ekonomi?,
Begitu juga dengan dewan Tani atau Badan perwakilan Desa, aktifis LSM dan
para petani baik pengarap, buruh tani, dan petaninya sendiri tidak
dilibatkan untuk menentukan kebijakan pertanian (mis:tentang harga gabah dan
pupuk) itu baru contoh yang sederhana belum melibatkan industri. Misalnya
pentingnya menganti kerbau dengan Traktor dll.

Agus Satrio:
Lihat dulu hasil-hasil otonomi daerah. Apa yang mereka inginkan, dari situ
bisa ditentukan alih
teknologi yang cocok. Cuma bagi saya Jawa ini cocoknya cuma buat tanam padi.
Dari jaman Mataram
Hindu sampai Mataram Islam yang ditanam kebanyakan adalah padi serta
palawija (lihat tulisan P.
Swantoro di Kompas, Jawa yang Jaya, Jawa yang Menderita) atau tanya saja
sama ahli pertanian yang
suka ribut disini, Mbah Soelojo itu? Cuma di Jawa itu masalahnya adalah
sangat banyaknya petani
gurem (petani dengan lahan sempit), serta buruh tani. Perlu industri
pengolah hasil pertanian,
untuk menyerap mereka, selain itu dengan diversifikasi produk harga akan
tersangga (bila panen
raya biasanya harga merosot). Hal ini sudah dibicarakan di milisnya Cak
Gigih Nusantara perkara
Sentra Produksi Pasca Panen.

Mashuri:
Saya setuju banget. Tetapi belajar dari pengalaman Jawa dan Bali (asal bukan
ide gila suharto terhadap pemanfaatan bukit suharto). Nah bayangkan jika
satu bukti dari kekayaan alam kita tersebut di olah sedemikian rupa dengan
teknologi yang ada di negara maju. Otomatis kita tidak perlu export beras
untuk mulut bangsa kita yang ada di 26 propinsi yang ada di Indonesia. Anda
pasti akan menapik peryataan P. Swantoro yang ada di kompas itu (belajar
dari pengalaman Israel). Begitu juga dengan daerah yang lain potensi daerah
apa yang bisa menyerap pekerja dan menjadi lahan yang baik. Tugas utama kita
5 sampai 10 tahun kedepan adalah tidak lagi hanya membicarakan masalah pupuk
dan harga gabah semata. tetapi juga bagaimana melipatgandakan dari dua kali
panen dalam setahun menjadi empat kali panen. Itu yang terpenting. Setelah
itu baru kita bicara transformasi silang hasil kekayaan daerha tersebut dari
daerah satu kedaerah yang lain.

Agus Satrio:
Untuk luar Jawa, memang perlu penelitian tersendiri. Sumatra cocoknya dengan
kelapa sawit. Cuma
selama ini perkebunan yang dikelola oleh koperasi rasanya kok enggak ada.
Kalau Kalimantan kurang
tahu. Kalau enggak teliti jadinya bisa seperti Proyek Lahan Gambut sejuta
kebohongan itu. Sulawesi
sepertinya padi. Maluku yang kembalikan saja ke semula yakni rempah-rempah.
Atau menkonsentrasikan
diri pada perikanan (yang eksesnya sekarang adalah keributan itu). Irian?
Entar dulu (apa orang
Irian suka bertani?).

Untuk masalah ini, saya lebih suka, sebelum memberikan policy, tanya dulu
daerah yang
bersangkutan. Pinginnya apa? Ya kembali lagi ke masalah desentralisasi.
Kalau ditentukan pusat
jadinya sendika dawuh saja.

Mashuri:
Belajar dari hal ini semua, kita sebenarnya yakin bahwa bangsa ini kaya akan
kekayaan alam, baik tambang atau tidak. Kelemahan kita hanya tidak memiliki
keungulan limbah silikon atau yang dikenal dengan sebutan serat optik. Hanya
ini yang perlu kita export dari luar. Selebihnya sudah disediakan tinggal
bagaiman pengarapannya. Malah beberapa kalangan berani kalaupun negara kita
(seperti Cuba mis:) di  embargo rakyat kita masih bisa hidup dan kecukupan.
Tetapi mengapa prakteknya tidak demikian.

Semoga saja kepergian Gus dur ke beberapa daerah itu buka saja menebar
hutang tetapi juga mencuri teknologi bangsa asing untuk di terapkan di bansa
ini. Dan membangun barisan SDM yang hadal untuk membuka lapangan kerja yang
lebih manusiawi.

Satu lagi, saya jadi tertarik mengenai masalah budaya kita yang belum
selesai. Agar penerapan otonomi Luas nantinya bukan menghidupkan kesombongan
daerah (raja kecil baru) tetapi membangkitkan rasa solidaritas Nasional.
Yang selama ini tidak pernah dipikirkan oleh pemikir Federalisme dan otonomi
Luas. Yaitu Pembagian silang daerah kaya terhadap daerah yang tidak begitu
kaya agar pemerataan dan desentralisasi pendapatan dapat berjalan. Serta
Migrasi penduduk dapat dikurangi.

Beberapa Daerah kaya malah mengalami ancaman disintegrasi akibat
pemerintahan orde baru. Aceh, Riau (dengan batamnya), Irian telah terancam.

Semogga tuntutan masyarakat Banten akan permintaan untuk segera dibentuk
Propinsis sendiri bukan hanya dilatar belakangi faktor ekonomi semata
(banten sudah berubah menjadi daerah industri, dari tangerang sampai serang
Krakatau Steel), tetapi memang faktor obyektif dari akibat perkembangan
Kapitalisasi di daerah, bukan hanya untuk kepentigan politik, dan raja-raja
kecil didaerahnya.

M. Mashuri Alif

Terimakasih lagi.
tabik
agusssssss




__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Yahoo! Mail - Free email you can access from anywhere!
http://mail.yahoo.com/

->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!













->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke